Home   Blog  
Kiat

  Selasa, 27 Agustus 2019 15:53 WIB

Kunci Membuat Tulisan Perjalanan yang Autentik

Author   Fadhli Sofyan

Festival Fulan Fehan/Foto: Fadwa Langka

Ada berapa banyak traveler membuat tulisan perjalanan soal Jogja? Tulisan yang sama soal perjalanan ke Kalibiru, Pantai Indrayanti, hingga Hutan Pinus Pengger Dlingo bertebaran di lini masa. Padahal perjalanan ke tempat yang sama bukan berarti membawa pulang cerita yang sama, loh. Qaris Tajudin, Editor tulisan perjalanan Tempo, membagikan kiat menulis travel. Kiat ini akan menunjukkan cara membuat tulisan travel yang mendalam, tak hanya di permukaan. Artikel ini adalah “BOCORAN” dari Kelas Menulis Perjalanan di Travel Addict Festival 2019.

Setidaknya Ada Tiga Jenis Cerita Traveling:

  1. Panduan wisata
  2. Jurnal perjalanan
  3. Tulisan perjalanan dalam feature

Yang kita bahas ini yang ketiga, tulisan perjalanan dalam feature, atau bisa juga ketiganya digabungkan. Untuk menulis feature perjalanan, kita tidak bisa menjadi wisatawan biasa, apalagi ikut jadwal agensi travel yang padat. Harus ada waktu untuk merenung, ngobrol dengan banyak orang, dan tersesat saat traveling.

Kita harus menghindari tulisan tentang destinasi wisata, karena satu destinasi akan membosankan kalau ditulis berkali-kali. Bayangkan ada berapa banyak tulisan yang menceritakan tahap menuju Stasiun Gambir, naik kereta, sampai di Stasiun Yogyakarta, lalu pergi ke Keraton Yogyakarta? Jangan menulis hal yang sama lagi. Agar tulisan kita autentik, yang kita tulis adalah cerita kita, cerita manusia, proses, dan pengalaman.

Menulis cerita manusia akan membuat tulisan kita unik. Tidak akan ada yang sama, karena orang yang kita temui di perjalanan pasti berbeda, pengalamannya tidak sama. Karenanya, ngobrol dengan orang lokal, hidup bersama mereka, merasakan apa yang mereka rasakan, jadi kunci tulisan feature perjalanan. Kalau kita menghabiskan waktu di hotel dan selfie, mungkin kita tidak akan dapat banyak hal yang bisa ditulis.

Persiapan sebelum traveling jadi hal yang penting. Riset sebelum berangkat, hubungi orang yang layak diwawancarai atau diajak berbincang, kumpulkan bahan, tahu apa yang akan dituju. Tapi siapkan diri untuk keluar dari apa yang kita siapkan, “tersesat.” Mengobrol dengan banyak orang juga penting. Karena tanpa ada sosok lokal yang muncul, tulisan jadi bisu, tidak hidup.

Hati-hati dengan klise dalam tulisan: kata sifat (contoh: indah, cantik, keren, dan lain-lain) atau deskripsi yang berlebihan. Mengungkapka  kesan boleh, tapi kesan itu kerap subyektif, jadi hati-hati. Kalau menilai sebuah pantai sangat nyaman, deskripsikan hal-hal yang membuat nyaman. Misalnya: “Pantai Indrayanti memiliki kedai-kedai yang tertata rapi, hamparan pasir yang bersih, dan pohon-pohon kelapa yang rindang untuk menikmati senja.”

Apa lagi yang dilakukan untuk membuat tulisan perjalanan yang autentik dan mendalam? Anda bisa ikuti Kelas Menulis Perjalanan di Travel Addict Festival, pada 7 September 2019 di Gedung Tempo, Jakarta.

Baca juga : Badan Siber dan Sandi Negara Akan Gandeng BIN, TNI, Polri

Bagikan
WordPress Video Lightbox Plugin