Home   Blog  
Pelatihan

  Kamis, 26 September 2019 18:20 WIB

Jurnalis Tidak Sukai Cara Menulis Berita Staf Humas

Author   Fadhli Sofyan

Agoeng Wijaya, Redaktur Utama Koran Tempo memberikan pelatihan di Tempo Insitute.

Wartawan Koran Tempo Agoeng Wijaya menilai cara menulis berita staf hubungan masyarakat (humas) tidak menarik bagi awak media. Akibatnya kata dia banyak berita dari lembaga yang tidak dimuat baik di website, majalah, koran, hingga televisi. “Siaran pers yang jelek akhirnya dibuang oleh media,” kata Agoeng di pelatihan menulis berita daring dari Tempo Institute, Selasa, 24 September 2019.

Agoeng berharap staf humas, baik pemerintah, swasta, atau pun entitas lain mampu membuat tulisan yang penting dan menarik. Selain agar dimuat media massa kata dia, tulisan yang menarik akan memancing minat baca publik sekaligus memberikan informasi mengenai lembaga yang diberitakan.

Menurut Agoeng, ada beberapa cara menulis berita yang menarik. Satu yang paling utama adalah pemilihan angle atau sudut pandang pemberitaan. Agoeng mengatakan angle tersebut harus menarik dan memiliki pesan penting. “Hal paling menarik harus ditulis di bagian atas berita,” saran Redaktur Utama Ekonomi dan Bisnis Koran Tempo ini.

Tips lain yang diberikan Agoeng adalah cara menulis berita seremoni. Menurut dia humas boleh saja menulis berita seremoni, tapi anglenya harus hal yang menarik dan memiliki pesan penting. “Bukan cuma mengenai acaranya saja.”

Pelatihan ini diikuti oleh 16 orang peserta, terdiri dari staf dan pimpinan humas berbagai lembaga pemerintahan, seperti Badan Narkotika Nasional (BNN), Pusat Pengelolaan Gelora Bung Karno, Direktorat Kelaikan Keudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Pusat Pelaporan dan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK), editor dari media online VOA Indonesia, hingga mantan komisaris. Mereka belajar membuat berita daring yang menarik dan ramah SEO selama tiga hari berturut-turut. Beberapa redaktur Tempo menjadi pengajar dan mentor yang mendampingi peserta pelatihan secara intensif.

Menurut salah seorang peserta Agus Santoso pelatihan ini penting untuk staf humas atau tokoh yang sering diwawancarai. Menurut mantan Komisaris Utama Garuda Indonesia ini peserta jadi tahu angle berita humas yang penting disampaikan dengan format yang tidak membosankan. “Setelah praktik saya jadi paham,” tambah pria yang aktif mengajar sebagai widyaiswara di Kementerian Perhubungan.

Baca juga : Badan Siber dan Sandi Negara Akan Gandeng BIN, TNI, Polri

Bagikan
WordPress Video Lightbox Plugin