Home   Blog    Komunitas
Kombet Kreatif

  Sabtu, 11 Agustus 2018 08:54 WIB

Ini Kendala Pegiat Ekonomi Kreatif di Belu

Author   admin

Penenun di Raimanuk, Belu, NTT

Perjalanan bertemu pegiat ekonomi kreatif di Belu ini adalah rangkaian dari proses pendahuluan “Program Lawatan 12 Kota, Pendampingan Komunitas Kreatif Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Tempo”. Di sepanjang program ini, Agustus sampai Oktober 2018, Bekraf dan Tempo Institute bertemu komunitas kreatif di 12 kota, yakni di Padang, Bandung Barat, Bojonegoro, Malang, Surabaya, Maumere, Kupang, Atambua, Kendari, Singkawang, dan Merauke. Workshop storytelling, pemasaran, berbagi pengalaman dengan kreator inspiratif, dan temu komunitas akan mewarnai program ini.

Membangun Indonesia dari pinggiran adalah satu dari sembilan nawacita Presiden Joko Widodo. Hal itu juga yang menjadi dasar Bekraf untuk melakukan penguatan ekonomi kreatif di Belu melalui kerja sama dengan Tempo Institute.

Matahari cerah menyambut kami di bandara A.A Bere Tallo, Jumat, 3 Agustus. Nama bandara ini diambil dari nama Bupati Kabupaten Belu pertama. Setelah kami mendarat, sebuah pesan singkat masuk, mengabarkan bahwa Bupati Belu, Willybrodus Lay, dapat kami temui pukul 10.00. Pak Willy, panggilan akrabnya, sangat mendukung program Komunitas Kreatif Bekraf Tempo atau KOMBET.

Kendala Pegiat Ekonomi Kreatif di Belu

Di Aula Gedung Bappeda Atambua, Kabupaten Belu, kami menemui 10 orang pegiat ekonomi kreatif di Belu. Kebanyakan dari mereka menekuni produk tenun dan turunannya. Kabarnya, di Atambua, kualitas tenun dari Raimanuk adalah yang paling baik.

Petronela Berek, pegiat ekonomi kreatif di Belu dari Raimanuk menceritakan bahwa faktor demografi alam menjadi hambatan untuk mengenalkan tenun mereka. “Saya ingin agar akses transportasi dan telekomunikasi di Raimanuk ditingkatkan, sehingga pegiat ekonomi kreatif di Belu bisa meningkatkan penjualannya” ujar Nela, panggilan akrabnya. Nela yakin jika mendapatkan akses yang baik, juga dipersenjatai dengan teknik penceritaan atau storytelling maka geliat ekonomi kreatif di Belu akan meningkat.

Cerita lain dari Rosalinda Bere Basin atau Linda. Ia dan komunitasnya, Hineporti yang artinya perempuan cantik, juga menekuni tenun, dan turunannya. Kreatifnya, bahan sisa tenun yang tak terpakai mereka kreasikan menjadi aksesoris seperti gelang, kalung, anting dan dompet.

“Kesulitan yang saya hadapi adalah mendapatkan bahan pendukung seperti rantai dan kait untuk membuat kalung dan anting. Saya juga berharap dapat pengetahuan soal pengemasan produk” ungkapnya. Selama ini produknya hanya dibungkus plastik, dapat kurang menarik minat pembeli.

Gara-gara Facebook

Pegiat ekonomi kreatif di Belu lain yang kami temui adalah Agnes Tantry Bintura. Ia adalah seorang fashion desainer muda, berusia dua puluh tahunan. Selama ini Agnes masih memanfaatkan penjualan dari mulut ke mulut, sama seperti pegiat ekonomi kreatif di Belu lainnya. Kebanyakan dari mereka belum optimal menggunakan media sosial karena bingung menuliskan narasi produknya.

Bicara soal media sosial, Carlos Teles punya pengalaman menarik. Carlos menjadi ketua komunitas kreatif Belun Diak. Selama ini ia mempromosikan tenun, lukisan dan pahatan dari mulut ke mulut. Sekali waktu ia coba membagikannya di Facebook. Selang beberapa hari ia mendapat 50 buah pesanan miniatur Likuray dari Kupang.

“Karena kejadian di Facebook itu saya jadi memahami kekuatan media sosial dalam penjualan” kata Carlos. Dan ia memerlukan pengetahuan bagaimana cara menulis dan mengambil foto produk agar produknya semakin dikenal luas.

SINTA RACHMAWATI

TEMPO.CO

Baca juga : Badan Siber dan Sandi Negara Akan Gandeng BIN, TNI, Polri

Bagikan
WordPress Video Lightbox Plugin