Tempo Institute
No Comments

Yoni Elviandri – Tentang Mereka

Bagiku, pengalaman bukanlah guru yang terbaik, tapi pengalaman adalah guru yang mendewasakan. Mendewasakan aku hingga mampu melewati proses-proses panjang hingga menjadikan aku yang memahami makna kehidupan hingga saat ini. Mungkin aku tak akan mampu membuat semua orang tersenyum di dunia ini, namun aku ingin belajar dari proses, seperti ulat yang sedang bergiat menjadi kepompong lalu berjuang menjadi kupu-kupu hingga dapat mewarnai dunia, bahwa tak ada kemungkinan-kemungkinan yang tak mungkin terwujudkan di dunia ini. Maka dari itu tersenyumlah. 😀

***

Berikut sedikit cerita selama mengikuti kompetisi yang menurutku paling “wah” di tahun 2013 diantara kompetisi-kompetisi lain yang pernah saya ikuti. Karena Menjadi Indonesia bukanlah tentang kompetisi siapa yang akan menjadi pemenang, dan siapa yang akan melenggang ke panggung juara, tapi menjadi Indonesia adalah sebuah kompetisi untuk mengenal diri sendiri, dan kompetisi mengolah rasa yang ada hingga nanti kamu pun bisa menyadari bahwa kompetisi ini lebih dari sekedar kompetisi biasa.

15 Oktober 2013

Gerimis cukup syahdu menari-nari di langit Bogor. Suara takbir sudah menggema sedari tadi pagi di seantero  Dramaga dan sekitarnya. Selepas shalat Idul Adha di kampus, bergegas packing barang-barang yang akan dibawa selama mengikuti KEM 2013. Ini bukan yang pertama hari lebaran namun tidak mencicipi rendang, dendeng batokok dan semua aroma masakan kampung halaman, sungguh bukan yang pertama. Namun akan menjadi yang paling pertama ketika hari ini aku tidak berada di kampus malah pergi ke Jakarta dan tidak merasakan aura Idul Adha kampus untuk pertama kalinya.

Berangkat dengan satu buah tas carrier dan tas jinjing yang sebelumnya tak kurencanakan. Planning semula hanya hendak membawa satu tas saja biar tak repot ternyata harus nambah jinjingan karena barang yang ternyata bertumpah ruang. Ah, rencana yang gagal.

Hari-hari sebelumnya tak terpikirkan untuk packing, karena disibukkan dengan mencari biji kopi asli Bogor sebagai salah satu persyaratan yang harus dibawa. Sudah mengelilingi kebun kopi kampus tak ada yang berbuah, keliling pasar tradisional di Bogor juga tak bersua. Alhasil ujung-ujungnya ke Mall dan beres sudah. Walaupun nggak asli-asli amat 😀

Seharusnya hari ini saya berangkat bersama Ihsan, salah satu peserta yang berhasil mewakili Unhas yang entah mengapa kami bisa dipertemukan di kompetisi ini. Kalau di sinetronkan mungkin bisa diberi judul “ Teman lama yang bertemu kembali” 😀 Dia sudah datang dari Makassar tadi malam, namun membatalkan keikutsertaan karena suatu kompetisi lain. Entahlah ini suatu kebetulan, untungnya pesanan kopi Toraja saya berhasil ia bawa, sehingga saya tak perlu membawa kopi lebih banyak lagi. 😀

Berangkat mencari angkot Kampus Dalam dan 02 menuju Stasiun. Dan perjalananpun dimulai..

Dalam perjalanan,sudah berkali-kali kuyakinkan diri, bahwa ini adalah keputusan yang paling baik yang aku pilih. Dilema. Tentu. Aku telah memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi karena mengikuti KEM. Durasi selama 2 minggu dan itu aku harus meninggalkan bangku perkuliahan dengan tugas dan segala praktikum yang menggunung. Belum lagi status mahasiswa tingkat akhir yang sudah ditangan menambah segala perhitungan baik buruk dalam hati. Masalah perizinan, tugas yang pasti semuanya akan sulit. Namun yang pasti, bukankah kesempatan tidak datang dua kali? Mungkin saja datang, tapi apakah aku masih siap waktu itu? Hmm sudah dua tahun menunggu, dan kali ini berhasil lolos menjadi 32 besar apakah harus kusiasiakan? Tentu bukan sebuah keputusan yang mudah.

Hingga seperti yang kukatakan tadi, menjadi Indonesia bukan hanya sekedar kompetisi esai, tapi kompetisi mengalahkan segala ketakutan dan kompetisi untuk menentukan pilihan. Dan yang pasti, jika saat itu kuputuskan untuk tidak mengikuti KEM. Yang pasti tidak akan ada kisah dan tulisan ini 😀 😀

Sebenarnya, bisa saja aku tak harus ke Jakarta, karena tempat pelatihan juga akan dilaksanakan di Puncak, Bogor. Tapi tak afdhol rasanya jika tak mengikuti dari awal. Hingga sampailah aku di Stasiun Gondangdia. Tempat pemberhentian kereta dari Bogor. Sempat bingung sejenak, pernah ke Gambir dengan jalan kaki, namun ternyata cukup jauh juga, hingga akhirnya memutuskan untuk naik taxi, karena waktu sudah pukul 11.00 WIB. Cari aman saja.

***

Dalam cerita ini mungkin tak akan cukup ruang untuk menggambarkan atau sekedar membangkitkan kenangan selama dua minggu bersama orang-orang hebat ini, maka dari itu aku akan bercerita dan mengenalkan lebih banyak tentang orang-orang yang aku temui disini. Para pemuda pelopor harapan bangsa yang semoga Allah mempertemukan kami kembali. 😀 ( Cerita lengkap kegiatan perharinya bisa dilihat di Blog saya ya,)

Pertama, tentang team perjalanan penuh kenangan Jakarta-Bogor. Berangkat paling awal, ternyata berhasil hadir di WTS paling akhir, karena macet Bogor yang lupa diperhitungkan. 😀 tapi sungguh, perjalanan ini membawa banyak kenangan dan pelajaran berharga.Sebut saja Rikang, Asep dan Fajar. Entah bagaimana ceritanya sehingga kami bisa satu team hehe. Yang jelas, menurutku mereka itu sama. Sama-sama pendiam, sehingga dalam perjalanan aku harus lebih banyak berbicara, padahal awalnya niatku hendak menjadi peserta yang kalem saja. haha Fajar patut diacungi jempol dalam hal fotografi, hasil bidikannya sangat bagus, walau ternyata setelah diperiksa, yang paling banyak ditemukan adalah fotonya Hala #Ups. Asep lebih selow, yang penting ada rokok,semua aman, hehe betul kah? Lain lagi cerita dengan Rikang, kesan pertama tentang rikang itu santai, namun setelah satu minggu di WTS, terungkaplah bahwasanya diantara semua peserta menurutku yang paling dewasa pemikiran adalah beliau ini hehe #StandingApplause untuk Rikang.

Kedua, tentang kawan sekamar. Dan entah bagaimana pula ceritanya bisa sekamar dengan tiga makhluk bernama Udin, Fikri dan Rianto. Kami mendapati kamar no 2 kamar yang tentunya akan menjadi sejarah, karena kamar inilah yang menurutku menjadi kamar paling digemari peserta lain untuk singgah. Hehe karena diisi oleh orang-orang kece seperti kami. Udin, sering dipanggil cak Udin yang paling sering bangunin shalat Subuh dan yang paling kece lah. Biasanya ke Aula ya bersama anak yang satu ini. Merasa seumuran, walaupun semesterku lebih tinggi tapi merasa tetap sama-sama muda. Hehe. Lain Udin, lain lagi dengan Rianto, Calon guru Geografi ini lebih selow dan tak banyak bicara. Tapi tetap superlah, sebagai penunjuk arah anak-anak menuju WTS. Yang bijak dalam bersikap. Dan yang terakhir adalah hmm temen berkelahi yang paling TOP sebut saja Fikri. Rasanya tak lengkap jika satu malam itu nggak gangguin dia. Yang pasti, jika bersama Fikri pasti ada masalah haha. Rambutnya yang bergelombang menjadi objek kejahilan hehe. Namun jangan salah, Fikri inilah yang paling sering ngebangunin saya tengah malam untuk ngerjain tugas. Tugas kuliah yang harus tetap dikumpulkan tepat waktu walau raga tak ada disana. Maka dari itu harus mengucapkan banyak terimakasih pada Fikri. Juga tentunya Udin dan Rianto.

Ketiga, tentang kawan satu team Project. Doremi Fest. Kami dipersatukan karena kesamaan nasib, you know lah what i mean 😀 .Dan karena kesamaan nasib itulah kami menjadi team yang sangat kompak dalam games memasukan botol, Berkali-kali gagal, berkali-kali itu pula bangkit untuk mencobanya kembali. Dan bersama team inilah yang mengajarkan tentang keikhlasan dan perjuangan tanpa henti. Berasal dari 3 pulau, membuat warna Indonesia paling terasa dalam team ini. Ada Martin, Fitri, Ihram dan Tiwi. Martin, ini bocah juga menjadi kawan paling sering beradu argumen, haha. Dari awal sampai akhir kami senasib, mulai dari games strata sosial Rp 188.000 hingga games kopi tetap menjadi warga kelas ekonomi. hehe. Ihram, inilah orang yang paling sering mengingatkan “Yon, jangan lupa senyum “. Orangnya kalem, dan bertugas sebagai ketua team kami. Dan akhirnya, pada hari terakir KEM pun bisa merasakan kembali hujan Bogor kan? Haha. Tiwi dan Fitri hampir setipe, bedanya, jika Fitri ingin lama-lama maka Tiwi ingin semuanya serba cepat. Hehe entah mengapa mereka berdua takut memandang mata saya, sehingga Tiwi pun memberi oleh-oleh kacamata Hitam sebagai kenangan haha. Dua anak ini, menjadikan warna dalam kelompok kami semakin luar biasa.

Keempat, tentang tetangga team kami, Yaitu kelompok 2. Baik sedang rapat, makan, maupun ketika hari presentasi team ini selalu berdekatan. Berisikan Jodi, Ririe, Brita, Ajoi dan Setya. Jodi Periang dan teman narsis bareng. Kalau sudah ketemu kamera, udah lupakan saja dunia. Haha. Yang bikin salut, walaupun masih terbilang muda (Umurnya sama tapi) bisa dibilang paling aktif dikelas. Lalu ada Ririe, atau biasa aku panggil mamih. Kecil-kecil cabe rawit dan yang paling jago ngegombal. Bagi Ririe mungkin tak ada hari tanpa gombal. Haha. Ketiga ada Brita, yang biasa kusapa Mba Brit, nah kalau beliau ini sekaligus teman sharing kelompok, jadi udah sama-sama tahu lah. Teguh pendirian dan wanita superlah.. semnangat mba Brit. Yang ke empat ada Ajoi, pak de Ajoi ini lucu sekali, apalagi sedang ngegombal bareng Riri, keduanya klop dah #ups. Dan yang terakhir adalah terenteng Setya. Awalnya kupanggil nenek, tapi dia menolak mentah-mentah hehe. Paling rajin melahap buku, yang pasti, tak ada hari tanpa membaca buku baginya. Dan saat ini juga sedang punya tugas khusus untuk selalu ingetin saya baca buku. Huaa terimakasih setya. Akan segera ke Solo..:D

Kelima adalah team Minang. Hiaa beranggotakan Uni Suci dan Uda Heru. Kami sekelompok untuk tampil dalam pertunjukan yang ada ditiap sesi, tapi gagal tampil. Padahal sudah latihan lagunya Ayam den lapeh dan Takanang Jo kampuang. Karena satu selera dan sama-sama berdarah Minang walau beda provinsi, jadi klop lah bersama dua orang ini.

Ada juga Naufil alias Pak Haji, hampir sama dengan Setya, beliau ini selalu berbinar-binar jika bertemu dengan buku. Hampir semua jenis bacaan dilahapnya dengan cepat. Konsisten. Ada May yang pendiam juga, teman sebelah kamar ini diam nya bermakna, sama halnya dengan judul esainya. Ada sang juara Bang Reza, yang kalau udah sekali berbicari, sudah lah. Perkataannya berlandaskan teori dan tajam, beliau ini juga mengangkat tema yang berbeda. Seorang pecinta alam yang udah turun naik gunung. Ada juga Hala, yang entah mengapa Fikri yang jelas-jelas semester 5 dipanggilnya kaka, sedangan aku yang semester 7 dipanggil nya Yoni. Beuh, katanya sih karena saya kelihatan lebih muda. yeyeye halahala.

Dan yang pasti, KEM 2013 tak akan semenarik ini, dan mempunyai kisah yang berbeda jika tak ada Ari yang sangat lebih selow dan nggak neko-neko yang bisa menjadi pendengar cerita dan pemberi saran yang baik, dan juga para penggagas club renang yang punya talenta tersendiri, ada Shere yang menginspirasi lewat sanggar anak akar nya, ada kak Alfa yang selalu nyemangatin aku kalau sedang atau berniat ngantuk ketika ada materi, ada beni yang kocak dan super tenang, dan tentunya ada Guster yang hampir mirip Fikri dengan rambut gelombang. Yang paling sering bilang ‘Yon, kamu nggak keganggu kan?’ dengan nada khas nya.

***

Ya.. Itu semua adalah bagian dari kami yang mungkin saat ini telah terpisah oleh jarak dan waktu. Namun satu yang pasti. Kebersamaan yang pernah terjalin tak akan berhenti sampai disini. Yang pasti, terimakasih banyak kepada teman-teman semua yang telah membantu ku selama proses. Yang menguatkan dikala lemah, dan yang menghiburku kala gelisah. Mungkin tidak hari ini, tapi esok atau nanti kita akan bertemu kembali kawan. Selamat berproses dan menjadi pelopor dalam setiap aksi yang akan kalian lakukan untuk menjadikan Indonesia menjadi benar-benar merasa “Menjadi Indonesia”.

Nama              : Yoni Elviandri

Asal Kota        : Bogor

Asal Daerah    : Kerinci, Jambi

E-mail              : elviandri.yoni@yahoo.com

Blog                  : Yonielviandri.blogspot.com

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top