Tempo Institute
No Comments

Yohanis Ajoi – Sekolah Toleransi

Pengalaman pertama yang membahagiakanku. Saat itu siang pukul. 14.00 WIT, hp ku berdering.

Segera kulangkahkan kaki menuju sumber suara tersebut. Ternyata benar ada nomor

baru yang menghubungiku. Perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak dan deg-degan.

Aku hanya bisa berkata, ya dan ya. Mulutku seolah terkatup rapat tak berdaya

ketika mbak. Etha handayani mengatakan bahwa saya lolos masuk dalam 30 finalis

terbaik penulis Essai 2013 tahun ini. Lima menit sesudahnya saya melompat

kegirangan. Berteriak sendiri ditengah siang bolong seperti orang gila. Nyaris

aku terbawa perasaan yang sangat antusias. Sambil berlarian di halaman depan

asrama, aku berteriak,” Oh, Tuhan aku akan berangkat ke Jakarta….. Masak bisa

thu, saya akan ke Jakarta” suaraku nyaris membangunkan teman-teman yang sedang

istirahat siang.

Segala persiapan

dan apa saja yang kubutuhkan untuk berangkat telah siap. Mulai dari perizinan

ke kampus hingga souvenir, biji kopi sangria hingga pakaian secukupnya. Lantas

berangkatlah aku menuju Jakarta dengan bapak tua “Lion Air” via Makassar.

Perjalanan yang menyenangkan bagiku. Tidak ada halangan dan gangguan yang mengkhawatirkanku.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, aku naik bus Damri menuju Stasiun Gambir.

Dijemputlah aku oleh mbak. Etha handayani dengan penuh kecintaan sebagaimana

layaknya seorang saudara. Pengalaman pertama berjumpa dengan mbak. Etha ini

sungguh mengesan bagiku. Sampailah kami dengan bajaj di penginapan belakang

GPIB Immanuel. Shalauddin Al Madury, Naufil Istikhari KR dan Suci Amelia Harlen

adalah tiga sosok teman yang pertama kali ku jumpai malam ini. Malam pertama ku

di Jakarta, kuhabiskan bersama Udin dan Suci mengitari Monas sambil menyibukkan

diri berfoto ria di depan Ondel-ondel. Pengalaman malam pertama yang tak

terlupakan juga.

Paginya saya

bangun. Ternyata Naufil dan Udin sudah pergi mengikuti sembayang Takbiran. Saya

bergegas makan Soto Tegal yang dijajakan di depan Gereja GPIB-Immanuel.

Siangnya bersiaplah kami berangkat menuju ruang serba guna GPIB Immanuel dan

berjumpa dengan teman-teman peserta yang lain. Setelah mengisi kembali anggaran

biaya perjalanan kami disuguhi makan siang ala negeri Sakura Jepang. Saya lihat

ada beberapa teman yang makan dengan lahap tetapi ada juga yang tidak.

Setidaknya saya merasa punya teman dengan tekstur lidah Ke-Indonesiaan yang

khas. Perkenalan kami selanjutnya dimulai dalam perjalanan menuju “ Sekolah Toleransi

”, tepatnya di puncak Bogor.

Banyak interaksi

dan canda tawa selama dalam perjalanan. Setidaknya hal ini membantu kami tidak

cepat jenuh dengan jalanan yang macet diluar. Sesekali kami memantau rute

perjalanan  dengan menggunakan GPRSnya

Rezza yang sangat membantu kami sore itu. Ketika awan mulai mendung dan aroma

dingin udara yang beterbangan menyapu wajah kami. Nampaklah senyum di bibir

kami bahwa, Wisma TEMPO – Sirnagalih sudah dekat. Akhirnya setelah melalui

perjalanan panjang dan melelahkan kami pun sampai dengan selamat. Rianto dan

Jody kami percayakan sebagai algojo yang mengurus pembayaran uang transport

perjalanan. Sesampai di Wisma, kakak Moses, mbak. Etha, dan mbak. Mitha sudah

menunggu dan menyambut kami. Mereka terlihat senang dan bangga bahwa akhirnya

kami dapat sampai dengan selamat. Tugas pertama kami ketika sampai adalah makan

Malam. Sesudah brifing singkat lalu kami diperiksa kesehatannya satu per satu

oleh dokter yang disiapkan oleh TEMPO – INSTITUTE. Untuk malam pertama ini

tidak ada session. Hanya sebatas informasi ringan mengenai lingkungan tempat

kami tinggal dan bagaimana bila terjadi sesuatu dengan kami. Sambil perkenalan

singkat dengan para mentor dan pendamping dari team panitia Tempo- Institute.

Barulah kami tahu siapa fasilitatornya, bapak asramanya, kepala sekolahnya

hingga Rektor yang menggepalai seluruh rangkaian kegiatan ini. Dinamika hari

kedua hingga selanjutnya kami lalui bersama. Suka, senang dan gembira kami

emban bersama. Hingga memasuki minggu pertama, sesudah kami menjalani praktek

Jurnalistik yang didampingi mbak. Ninil dari harian TEMPO. Mulailah hari

perkabungan kami teman-teman peserta. Lantaran satu teman kita, Rianto terpaksa

dipulangkan atas desakan mbak. Ninil dan keputusan bersama dewan panitia

bersama Dirut TEMPO-INSTITUTE, mbak. Mardiyah Chamim. Malam ini menjadi perekat

kasih diantara kami peserta. Kami ingin membantunya dengan berbagai cara agar

ia dapat bertahan. Namun, Rianto sendiri mengelak untuk tetap bertahan dan

berjuang bersama dengan kami. Akhirnya kami semua menghargai pilihannya. Apa

boleh buat, ia harus pergi meninggalkan peziarahan yang belum selesai ini.

Belum lega sesak di

dada. Adegan babak pertama terulang kembali. Seolah tak percaya dengan

kenyataan kami mencoba menghibur diri dalam permainan bersama. Nyaris hilang

perasaan sedih ini walau senyatanya masih terpancar jelas di ujung sorot mata

teman-teman peserta. Kepergian Asep Andri memberi pukulan telak sekaligus

pembelajaran yang sangat berharga bagi kami. Bahwa hidup ini tidak boleh main-main

terutama dalam hal yang sangat sensitif. “ Kita hendaknya menjadi Kapten untuk

diri kita sendiri, kesalahan yang kita buat tidak boleh sampai menyeret orang

lain”, urai mbak. Mardiyah Chamim mengembalikan semangat kami. Dan benar letup

semangat kami pun menyala kembali. Pengalaman adalah sebuah pembelajaran dalam

peristiwa hidup siapa saja, gumamku dalam hati.

Tidak terasa sudah

dua minggu aku menghabiskan keringat dan peluhku di Bogor. Aku bersama dan

ditemani teman-teman yang berlatar belakang berbeda dariku sama sekali. Ada

Athirptin Halawiyah alias Hala yang selalu tersenyum dengan lesung pipinya yang

khas. Ada Benny Prawira yang selalu on time di kelas sambil lantang menebar

isu-isu LGBTQ-nya. Ada juga Brita Putri Utami, redaktur senior Persma yang

rendah hati dan punya hati yang besar untuk kelompok difabel. Ada lagi Fadrin

Fadlan Bya, yang neces dengan kacamata hitamnya. Gayanya lugu, penampilannya

cool namun aksinya selalu mengundang tawa.Masih ada juga Fikri Disyacitta, si

manis berambut gimbal yang senantiasa enak diajak diskusi tentang Kakeknya, si

Karl Marx. Belum lagi Fitriana, gadis lembut dan manis berdarah Jawa yang kini

berdomisili di Samarinda- Kalimantan Timur. Misi utamanya ialah, membuat

pertukaran pelajar antara dua suku yang selalu bentrok. Ada juga Guster C P

Sihombing, selaku ketua “Ngakak” Nasional bersama mbak. Etha handayani. Tipe

orangnya santai dan bawaannya lelucon melulu. Tertawa adalah nafas kedua

hidupnya. Ada lagi “ Nah, itu dia” si tampan kelahiran Padang- Sumatra Barat,  yang akrab dengan kopi hitam kentalnya. Siapa

lagi kalo bukan Heru Joni Putra. Kemudian ada Ihram, lelaki sopan dan taat

beribadah ini mengundang sejuta simpatik dari teman-teman cewek KEM 2013. Salah

satunya Ririe Rahmania yang begitu ngebet dengan suara khas yang keluar dari

vibra mulutnya yang tenang. “Aku iki kok yo, seneng denger suarane mas Ihram

tho, enak e, adem banget neng atiku”, kata Ririe berkali-kali. Ada lagi Jody

Bhaskara, mahasiswa managemen Universitas Indonesia yang punya impian menjadi

CEO – UNILEVER. Menurutnya Film “Power Ranger” adalah kartun yang bisa

dianalogikan dengan keragaman budaya Indonesia. Pertanyaannya apakah “Power

Ranger” itu Kartun? Selanjutnya Martin Rambe, bocah pejuang dari Medan yang

sungguh militan dengan almamaternya, USU-Medan. Sampai kemana pun harus

mengenakan Jaket Kampusnya yang menurut Guster adalah hal yang lucu. Teman

se-ranjang selama dua pekan di WTS ini membuatku begitu menghargainya. Ada lagi

May Rahmadi, salah satu anggota grup pecinta Kopi Hitam. Anak Jurnalistik ini

enggan sekali meminum kopi buatanku yang menurutnya tidak sesuai dengan tekstur

lidahnya. Ada lagi Muhammad Fajar Putranto, lelaki pengembara yang masih dalam

pencarian mencapai Nirvana ini, katanya mirip Duta (Vokalis Sheila On 7). Tampangnya

minimalis tapi pengalaman dan bakatnya tak diragukan lagi.  Darah seni adalah golongan darahnya yang

kedua. Tapi kini ia ingin mengembara bersama dengan kamera mungilnya sejauh

angin mengantarnya menuju samudra takberbatas. Berikutnya ada Naufil Istikhari

KR, putra asli kelahiran Madura yang kini terobsesi menjadi seorang Psikolog

Madura. Baginya buku merupakan camilan yang harus sesegera mungkin dilahap.

Jangan ditunda apa lagi dibiarkan saja. Ketebalan kacamata yang ia kenakan

sungguh menampakkan sudah berapa miliar halaman buku yang ia kunyah selama ini.

Ada juga Rahma Yulia Prastiwi, gadis lembut yang periang dan bertalenta dalam

seni suara dan musik. Ia akrab disapa dengan Tiwi, yang terinspirasi untuk

meruwat pagelaran Wayang agar menjadi familiar kembali seperti dulu. Gagasannya

yang terkenal tertuang dalam, “ Surat dari Anoman untuk Android ”. Ia mencoba

menjembatani arus global zaman ini bahwa kearifan lokal yang kaya dengan nilai

budaya masih bisa disandingkan dengan kemajuan IPTEK. Selanjutnya ada Raymundus

Rikang Rinangga, mahasiswa Atma Jaya- Yogyakarta ini telah membuktikan dirinya

bahwa ia memang termasuk cowok dengan wajah idaman. Perangainya halus dan ramah

membuatnya disegani oleh teman tetapi mengesan di hati beberapa teman cewek KEM-

2013. Ada juga Rezza Aji Pratama, seorang Teknopreneurship yang kini sedang

berjuang tertatih-tatih di semester 13. Kebahagiaannya saat ini adalah dapat

lulus dulu,” yang Penting lulus dulu”, katanya sambil nyengir. Kemudian ada si

Manis berdarah tiga ( Ambon, Tionghoa dan Jawa), Rielya Alfa Florianti Lasano.

Gadis imut dan mungil ini ternyata sudah kenyang pengalaman di Negeri Samurai,

Jepang. Suatu negara yang buatku untuk saat ini hanya ada dalam imajinasiku.

Sosok dirinya memberi warna-warni pelangi dalam bingkai KEM-2013 ini.

Berikutnya ada Ririe Rachmania, gadis sejuta misteri. Tenang dan tidak banyak

bicara. Tetapi bila menemukan pasangan ngobrol yang pas, biar dua jam pun tidak

akan cukup untuk bercerita. Diam-diam dia mengagumi suara lembutnya mas Ihram,

seorang filolog asal Nusa Tenggara Barat. Ada juga Saneri, gadis manis berdarah

betawi ini memiliki segalanya yang diimpikan seorang wanita. Cantik, seksi,

komunikatif dan lumayan kritis serta memiliki sejuta talenta yang ada dalam

dirinya. Walau di tengah kesibukannya mengikuti KEM yang padat, ia masih

meluangkan waktu untuk mengajak teman-teman mengikuti CLUB Renang yang

dibentuknya bersama Alfa dan Guster. Ada lagi Setyaningsih, gadis pendiam dan

tenang ini sangat menggemari buku. Baginya buku adalah hidupnya. Buku adalah

hal terindah dalam hidupnya. Dan seandainya Surga itu ada, maka ia menginginkan

bahwa surga itu dipenuhi dengan Miliaran buku yang tidak pernah akan habis

terbaca. Lalu ada Shalahuddin Al Madury, panggilan akrabnya Cak Udin. Walau masih

kelihatan hijau tetapi kemampuan nalarnya tidak bisa diragukan lagi.

Kecintaannya pada Indonesia tidak lebih besar dari kecintaannya pada tanah ini.

Masih ada lagi Suci Amelia Harlen, gadis berdarah Minang ini memang sangat

perfect. Tutur kata dan seri wajahnya memang seindah namanya. Baginya hidup

beragama itu dapat kita langsungkan bersama dengan saudara lain yang berbeda

dengan kita. Baginya, prinsip “ Unity In Diversty ”, bukan sekadar slogan

kosong tanpa makna. Akhirnya ada juga Yoni Elviandri, putra kedua Pangeran

Diponegoro yang kini tengah menyelesaikan kuliahnya dalam bidang Arsitektur

bagian Pertamanan. Baginya Indonesia ibarat sebuah taman sehingga taman itu

akan tetap indah ketika di dalamnya terdapat aneka jenis bunga. Jika hanya ada

satu bunga saja maka sedikit banyaknya taman itu akan hambar dan kering diterpa

angin. Inilah sekelumit derai kisah ku untuk dan bersama kalian. Aku ingin

mengatakan bahwa aku menyayangi kalian semua.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top