Tempo Institute
No Comments

Surat Untuk Indonesia

 

Surat untuk Indonesia, adalah rangkaian acara untuk menyebarkan semangat Menjadi Indonesia. Dalam acara ini, akan dihadirkan para pemimpin yang menulis dalam buku “Surat dari dan untuk Pemimpin.”

Mereka akan membagikan pesan dibalik surat yang mereka buat. Menginspirasi, menggugah, dan mengajak untuk bergerak. Yang semuanya itu, ikhtiar untuk merawat Indonesia.

Merawat Indonesia, memang tugas semua yang ada di dalamnya. Namun dalam acara ini, kami membidik anak muda, yang tangannya menggenggam masa depan bangsa ini. Mempertemukan anak muda dengan para pemimpin, adalah awal dari estafet kepemimpinan di negeri yang kita cintai ini.

 

“Surat dari Indonesia” akan digelar pada:

 

Rabu 13 Maret 2013

di Binus Business School, Senayan – Jakarta

09.00 – 15.00 WIB

 

Inilah pemimpin yang akan hadir dalam acara berikut.

Handry Satriago

 

Pada usia 18 tahun, kanker getah bening memaksanya pindah ke kursi roda dan melampaui tahun-tahun yang berat. Namun karena tekad yang besar, ia bisa keluar menjadi pemenang. Memahat prestasi demi demi prestasi.

Tahun 1993, Institut Pertanian Bogor menyatakan dia sebagai alumnus terbaik. Dan ditahun yang sama, gelar Mahasiswa Teladan Nasional juga diraihnya. Kini, Doktor strategi manajemen dari Universitas Indonesia ini menempati pucuk pimpinan GE Indonesia. Hanya perlu 13 tahun, untuk seorang Handry menjadi Presiden dan CEO perusahaan multinasional Amerika itu. Semuanya dia awali dari menjadi salesman.

Ada tiga warna berpendar dalam dirinya : cinta pada pendidikan, hormat pada sains, dan upaya panjang menemukan anak-anak muda yang bertalenta menjadi pemimpin masa depan.

“Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah. Tidak berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah anda berperang.” Begitu ujarnya dalam “Surat dari dan untuk Pemimpin.”

Dahlan Iskan

 

Namanya mulai melejit ketika ia membesut PT PLN. Setelah itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuknya menjadi Menteri Negara BUMN. Namun sebelum masuk ke pemerintahan, masyarakat sudah mengenal “Pak Dahlan” sebagai raja media.

Berawal dari koran kampus, akhirnya ia menjadi wartawan sebuah koran lokal. Kemudian nasib mengantarkan Dahlan ke Majalah Tempo, di Jakarta. Mencatatkan banyak prestasi, Tempo menugaskannya menjadi Kepala Biro Surabaya.

Pada 1982, Tempo membeli koran Jawa Pos, dan Dahlan ditugaskan untuk mengepalainya. Masa kecil yang penuh kesederhanaan, ditambah disiplin dan kerja keras, justru menjadi bekalnya membesarkan Jawa Pos menjadi salah satu konglomerasi media.

Kepada anak muda dalam “Surat dari dan untuk Pemimpin” ia berkata, “Intelek, muda, matan! Itulah tiga gelar kalian yang utama.”

Mira Lesmana

 

Ledakan film Petuangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta (2002), ikut membatalkan kematian perfilman Indonesia. Yang memproduksi film-film tersebut adalah Mira Lesmana. Tak hanya itu. Menyusul kemudian, Soe Hok Gie (2005), Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009). Tiga judul terakhir menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sineas berkualitas.

Secara formal, bahasa film mulai ditekuni Mira di Australian Centre For Photography. Di tanah air, Mira melanjutkan kuliah di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Kemudian ia membangun rumah produksi Miles Productions. Produksi awalnya, film dokumenter Anak Seribu Pulau yang mencapai 14 episode.

Kedepan, Mira ingin tetap membuat film dan menerjemahkan buku-buku film atau buku-buku kesenian anak-anak. Ia berkeyakinan, dari media apapun semua bisa berbagi untuk Indonesia.

“Sedang apa kalian? Semoga sedang membuat rencana mulia untuk bangsa ini”, begitu sapanya dalam “Surat dari dan untuk Pemimpin.”

Cholil Mahmud

 

Cholil adalah anggota band pop indie asal Jakarta, Efek Rumah Kaca. Wajar. Sebagian besar lagu band itu memang ciptaannya. Penampilannya bersahaja. Tapi pemikirannya “cadas”, yang tertuang dalam lirik lagu-lagu ciptaannya.

Dengan musiknya, ia memposisikan diri sebagai juru kamera : memotret kehidupan sosial yang ada disekelilingnya. Karena itu setiap karyanya bukan sekedar fantasi, tapi sesuatu yang nyata. Dengan musiknya pula, ia melawan berbagai bentuk penyimpangan yang mencederai kehidupan sosial.

“Mosi Tidak Percaya” dan “Di Udara”, adalah beberapa lagu ERK yang menjadi anthem di kalangan mahasiswa dan aktivis. Bahkan lirik dalamlagu “Menjadi Indonesia”, merupakan salah satu inspirasi untuk menyebarkan semangat Menjadi Indonesia.

“Dari para tetua kita petik pelajaran, kita pantulkan keseluruh pelosok menjadi sebuah gerakan mengkritis, berdialek dan saling mengawasi”, coretannya  dalam “Surat dari dan untuk Pemimpin.”

Richard Sam Bera
Saat ini Richard Sam Bera menjadi editor di FHM Indonesia dan Men in Fitness Indonesia. Namun sebelum terjun ke duni media, semua orang mengenalnya sebagai raja kolam renang Asia Tenggara.
Selama tiga puluh tahun karirnya, bertengger ratusan piala dan medali di lemarinya. Diantaranya 25 medali emas selama Sea Games. Prestasinya lainnya yang luar biasa adalah tiga kali menembus pentas olimpiade, yakni d Seoul (1988), Atlanta (1996), dan Sidney (2000).
Prestasinya tak lepas dari didikan orang tua dan kerja kerasnya. Pagi buta jam empat, Richard sudah terjun di kolam. Jam tujuh dia berangkat sekolah, dan sorenya kembali ke kolam renang.
Dalam “Surat dari dan untuk Pemimpin” ia berkata, “Tidak ada keberhasilan instan. Semua Keberhasilan berawal dari kerja keras, disiplin, belajar dari kegagalan (dan keberhasilan) dan pengorbanan.”
Dalam “Surat dari dan untuk Pemimpin“, ia menyerukan, “Saya percaya bangsa kita mampu  menjadi kekuatan ekonomi terbesar di masa yang akan datang, asal seluruh generasi muda mengetahui kekuatan dan kebesaran bangsa ini.”

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top