Tempo Institute
No Comments

Suci Amelia Harlen – Bicara Indonesia

Aku lahir di Sumatera dan berkuliah di tanah Jawa. Bisa dikatakan Sumatera dan Jawa adalah dua pulau  yang sering disorot di televisi. Memahami kebudayaannya pun mungkin bisa lewat televisi saja. Selain itu, aku hanya pernah ke pulau Bali. Ada niat berkeliling Indonesia, mengenali beragam budaya, cara hidup, dan falsafah hidupnya. Namun, apa daya cita-cita itu belum tersampai, sampai sekarang. Kemah Kepemimpinan Menjadi Indonesia membuatku mengenali budaya-budaya lain, tanpa keluar uang dan keluar tenaga tentunya.

Peserta pertama yang datang pada Kemah Kepemimpinan Tempo Institut adalah aku. Meskipun dari Jatinangor Jawa Barat, aku lebih dulu sampai ke Jakarta pada Senin (14/10). Sedangkan peserta lain datang tepat pada Idul Adha itu, Selasa (15/10). Tiba-tiba datanglah dua orang laki-laki dari Solo, orang-orang memanggilnya Cak Udin dan Nopil. Kemudian setelah mereka, datang lagi Ajoy dari Papua. Alangkah senang hatiku karena dari dulu aku sangat ingin punya teman orang Papua.

Di kosanku yang terletak di depan kampus IPDN itu, ada beberapa anak Papua yang ngekos. Namun, aku tidak pernah bergaul dengan mereka dan mereka juga tidak pernah bergaul dengan kami. Semua orang di kosanku individualis.

Aku senang mendengar keributan-keributan, suara bercengkrama, dan tertawa terbahak-bahaknya orang Papua karena mendengarnya saja membuatku juga ikut gembira. Pernah suatu ketika, aku mendengar percakapan mereka dari lantai dua dan saat itu mereka tertawa terbahak-bahak. Seusai tertawa mereka menambahkan kata “ihi” seolah pengganti titik. Aku pun juga ikut tertawa mendengar candaan mereka. Jujur aku sangat suka logat orang Papua, sama dengan logat sahabatku dari Kupang. Bila berbicara dengan sahabatku yang Kupang itu, aku selalu mencoba menggunakan logatnya dan katanya entah itu menghiburku atau tidak,  usahaku tidak sia-sia. Hehehe

Ajoy pun datang sekitar pukul 16.00 wib. Lalu, setelah maghrib pun kami keluar mencari makan malam. Di jalanan aku banyak bertanya-tanya tentang Papua kepadanya. Terutama budaya Papua.

Dia pun menceritakan tentang suku di daerah Cenderawasih Papua yang memotong ruas-ruas jarinya ketika ada salah satu anggota keluarganya yang meninggal. Jadi bila seorang anak meninggal, maka anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, kakak, adik biasanya memotong ruas jarinya. Maka bila kita ke Papua, kita bisa temukan ibu-ibu yang tangannya seperti cacat.

Mayat di Papua biasanya di bakar, kemudian pada saat pembakaran itu ruas-ruas jari ikut dibakar di sana. Jadi ada dua kesedihan yang terjadi saat seseorang meninggal. Pertama, sedih karena anggota keluarga meninggal. Kedua, sedih karena ruas jari yang dipotong.

Di satu sisi saya merasa itu tak adil karena menyalahi hak asasi manusia. Namun, Ajoy menerangkan bahwa pemotongan ruas jari memiliki makna mendalam bagi masyarakat Papua. Bila anggota keluarganya tidak memotong ruas jari, malah itu yang akan dipertanyakan. Dia bisa diragukan apakah dia yang membunuh? Ke mana perasaaannya ketika saudaranya meninggal, tetapi tidak mau potong ruas jari?

Lalu, ia bercerita ketika haid, perempuan-perempuan Papua akan mengungsi ke suatu pondok di dalam hutan. Hal itu karena darah dianggap hal yang tidak suci dalam masyarakat Papua. Selama seminggu perempuan itu berdiam di sana dan sendirian. Ia juga  harus mengusahakan makanannya sendiri di hutan itu. Aku tidak terbayang bila setiap bulan aku harus tinggal di hutan sendiri. Sungguh menakutkan. Apalagi kita tidak tahu binatang-binatang apa yang berkeliaran di hutan itu. Bisa saja ada harimau yang tiba-tiba menghampiri kita. Seram sekali.

Selain wanita yang haid, wanita yang sedang hamil besar juga diungsikan ke hutan. Para suami akan membuatkan pondok kecil di belakang rumahnya. Jadi bisa dikatakan anak-anak Papua “brojol” di hutan dan dilahirkan sendiri oleh ibunya tanpa bidan. Sungguh luar biasa. Ditengah orang-orang kota menggunakan alat-alat canggih ketika melahirkan dengan operasi, orang Papua lebih memilih untuk melahirkan anaknya sendiri. Kemudian, setelah kelahiran itu mama (panggilan untuk ibu di Papua) akan membawa anaknya ke rumahnya sendiri.

Namun, Ajoy juga mengatakan bahwa ada “udang di balik batu” mengenai hal itu. Pengungsian yang dilakukan oleh wanita itu adalah karena si istri yang tidak mungkin memenuhi nafsu syahwat sang suami. Suami-suami itu umumnya memiliki dua istri, jadi ketika istri pertama sedang hamil, maka syahwatnya akan dilayani oleh istri kedua.

Demikian sekelumit tentang Papua yang membuatku terpana. Membayangkannya saja adalah hal yang luar biasa. Ketangguhan wanita Papua dan kekuatan-kekuatan fisik mereka. Wajar saja orang bilang orang Papua kuat-kuat karena budaya yang membentuknya demikian. Aah.. ingin rasanya aku ke Papua.

Baru-baru ini aku terlibat perdebatan di grup what’s app organisasi kemahasiswaan yang pernah aku ikuti. Di sana memang mayoritas ialah orang-orang Islam fundamentalis atau bila frontal kita mengatakan di sanalah bibit-bibit anggota partai politik Islam berwarna dasar hitam. Seseorang mengepos sesuatu tentang Syiah yang bersifat amat provokatif. Lalu, ada senior menanggapi dengan judge yang sangat tidak pantas. Sontak aku sangat terkejut dengan pernyataan itu.

Aku pun menjelaskan kepada grup itu bahwa Syiah itu banyak macamnya. Sungguh kejinya kita bila menggeneralisasi orang-orang Syiah, seperti contoh kasus itu. Ya, bagiku semua orang itu sama saja yang membedakannya adalah sikapnya. Orang tarbiyah dapat juga berbuat zalim, begitu pula dengan orang Syiah, orang Sunni, Muhammadiyah, NU, dan lain sebagainya.

Beruntung aku memiliki sahabat Fikri Disyacitta di KEM ini. Fikri memberikan perspektif lain tentang Syiah padaku. Hari-hari terakhir sering kami habiskan bercerita tentang kehidupan. Ia juga menceritakan bagaimana sebetulnya Syiah dan bagaimana akidah yang diterapkan oleh pengikut Syiah. Aku tidak pernah mendapat cerita-cerita anarkis dari Fikri. Maka dari itu, mindset-ku tentang Syiah sangat baik.

Ia memilih Syiah karena pemikiran filsafat Syiah yang sangat oke menurutnya. Ia pun orang yang terus mencari. Itu yang aku salut dari Fikri. Namun, soal tata cara ibadah memang ada beberapa hal yang berbeda, tetapi dia menjelaskan padaku maksud-maksud ibadahnya itu.

Aku sangat menghargai orang-orang yang melakukan sesuatu itu karena alasan dibanding orang yang ikut-ikutan. Memang benar kata Rocky Gerung  bahwa kita sulit untuk melepaskan kepercayaan-kepercayaan kita. Maka dari itu, kita tidak mau mencari- lagi sebab muasababnya kenapa kita melakukan hal ini dan hal itu.

Setelah aku memberikan statement di grup itu. Semua langsung saling dukung untuk kontra denganku. Mereka memaparkan hal-hal yang memburukkan Syiah. Aku menyebutnya mereka mencari pembenaran-pembenaran dari statement mereka tentang Syiah. Ya, mau bagaimana lagi di dalam grup itu hanya satu orang yang mendukungku. Dia juga tidak setuju dengan orang-orang yang mengecap orang lain tanpa pernah berhubungan langsung dengan orang Syiah. Itu juga mengerikan bagiku.

Aku takut, pembenaran-pembenaran yang mereka cari sampai ke kaki langit itu hanyalah bentuk kesombongan semata karena merasa mereka yang paling benar. Akhirnya aku tidak mau lagi berdebat tentang kepercayaan karena kepercayaan seperti kemaluan yang tidak bisa diumbar pada orang lain. Cukup kita saja yang meyakini kepercayaan itu.

Bagiku, kita tidak akan pernah bisa membicarakan kepercayaan kita pada siapapun (terutama yang berbeda dengan kita) selagi kita tidak mau saling mendengar. Ditambah dengan ketidaktahuan kita mengenai kepercayaan yang berbeda dengan kita. Setidaknya, kita perlu menjadi ahli teologi untuk mengerti semua itu.

Banyak hal-hal mengenai Indonesia yang harus dibicarakan. Entah itu tentang ketakjuban kita akan budaya-budayanya atau bagaimana penerapan toleransi terhadap kepercayaan-kepercayaan yang berbeda dengan kita. Tugas kita memang tidak akan pernah usai. Jangankan untuk merubah Indonesia, untuk membicarakannya saja masih sulit. Aku rasa  seluruh masyarakat Indonesia perlu ikut KEM Tempo Institut agar dapat bebas membicarakan Indonesia.

 

Bicarakan Indonesia tentu Bicarakan Kalian

Rasanya tidak afdhal bila aku membicarakan Indonesia, tetapi tidak membicarakan sahabat-sahabat yang menginspirasiku selama di KEM. Merekalah yang membuatku selalu merenung dan berpikir akan Indonesia. Hadirnya mereka, membuat turut hadirnya kegelisahanku mengenai apa yang harus kuperbuat untuk Indonesia. Mereka bukanlah orang luar karena mereka pun sekarang sudah ikut mengalir dalam darahku.  Salah satu orang yang ikut mengalir dalam darahku ialah Martin Rambe. Badannya tak sebesar cita-citanya. Pemuda berbadan kecil ini (mudah-mudah tambah besar ya dek, hehehe) sungguh menginspirasiku dalam perjuangan pendidikannya. Ia banting tulang memperjuangkan pendidikannya dari SMP sampai kuliah di USU benar-benar atas perjuangannya sendiri. Aku tak terbayang bila aku menjadi dirinya, apakah aku bisa memperjuangkan pendidikanku? Semangatnya selalu kukisahkan pada teman-teman kampus, betapa bangganya aku memiliki sahabat yang struggle seperti dia.

Kisah yang baru bagiku ialah kisah Benny Prawira. Mengapa? Karena bagiku dia adalah aktivis LGBT IQ sejati. Memang aku banyak menemukan orang-orang dengan LGBT IQ di kampusku, tetapi aku tidak pernah menemukan orang seberani Benny dan memproklamirkan bahwa ia aktivis LGBT IQ. Dia pun turut membantu orang-orang LGBT IQ dengan mendirikan komunitasnya. Sungguh nyata pengabdianmu Ben!

Lalu, ada Heru Joni Putra dari Padang. Aku pun sudah berhubungan lewat wall facebook dengan Heru karena merasa sama-sama orang Minang awalnya. Ketika aku cari namanya di google sungguh luar biasa sekali prestasinya, terutama dalam menulis puisi. Aku sangat kagum dengan puisi-puisi Heru yang menurutku out of the box. Kata-katanya pun ringan dan dapat kumengerti, sehingga akhirnya jadilah aku masuk Heru Fans Club. Hahaha. Satu hal yang paling berkesan dari Heru, yaitu ketika aku sangat takut dengan kamar nomor 9 dia mengatakan, “Apa yang Uci takutkan dengan hantu? Begitulah Ci kita hidup. Kita juga harus bertoleransi dengan makhluk halus.” Kata-kata dialah yang paling menenangkan dan membuatku bertahan sampai akhir di kamar nomor 9. Selain itu, banyak saran-sarannya yang menenangkan hati. Aku bisa bilang dia lebih dewasa dari teman-teman lainnya dalam memaknai hidup.

Rahma Yulia Prastiwi atau yang biasa aku panggil “Papoy” adalah yang termuda dari kami semua. Meskipun tampak childish dari luarnya, tetapi bila melihat tulisan-tulisannya kita bisa melihat betapa dewasanya Tiwi. Dalam berpikir, ia pun kreatif menurutku. Athirotin Halawiyah, cah ayu ini sempat pula menghubungiku lewat facebook. Tanpa disangka, kami ditakdirkan satu kamar. Senangnya J. Meskipun baru semester 5, aku sangat terkaget-kaget dengan kemampuannya dalam beragama. Belakangan barulah aku tahu bahwa dia anak ustadz dan 6 tahun mondok. Hehehe. Hampir sama dengan Tiwi, dari luar Hala kelihatan childish, tetapi dari tulisannya kalian tidak akan yang menulis adalah Hala.  Oya, dia juga sangat baik menumpangiku dua hari dua malam di kos-kosannya. J Lalu, teman sekamarku lagi bernama Rielya Alfa Florianti Lasano, namanya sangat indah. Juara dua KEM ini memang sangat ramah, perhatian, dan mengayomi sebagai sosok seorang kakak. Ia juga memiliki empati yang sangat tinggi terhadap teman-temannya. Pada Alfa, aku belajar bagaimana berempati dan mengayomi orang lain.

Yoni Elviandri, ketika awal membuka facebook-nya aku sangat minder sekali dengan Yoni. Pada album fotonya terdapat target-target yang belum ia capai. Ia pun sudah berkeliaran ke banyak negara. Belum lagi dengan banyaknya buku yang ia terbitkan sendiri. Dia menginspirasiku dalam membuat buku. Oya, suaranya juga bagus apalagi ketika menyanyi “Kampuang Nan Jauah Dimato dan Ayam Den Lapeh”. Sayang belum sempat diperdengarkan.

Kemudian, Brita Putri Utami gadis “Wong Jowo” ini memiliki sense humor yang amat besar. Bersamanya saya selalu tertawa terbahak-bahak. Namun, dibalik tertawanya itu ada keprihatinan terhadap anak-anak difabel yang begitu kuat merasuki jiwanya. Aku melihat ada impian besar dari matanya, merealisasikan cita-cita membuat persamaan hak untuk orang-orang difabel. Pemikiran-pemikirannya cukup kritis dan radikal. Dari seluruh anak KEM saya paling suka dengan pemikiran Brita.

Fadrin Fadlan Bya, seorang “Bli” dan seorang “Cak” ini cukup unik menurutku. Bila bertemu langsung, ia selalu saja mengundang tawa. Namun, bila di jejaring sosial, ia adalah sosok yang bijaksana dan selalu mengeluarkan quotes-quotes yang membuat orang-orang merenung. Aku sempat deg-degan dengannya saat mengomentari esaiku. Hehehe. Lalu, pria yang sama hitam manisnya dengan Bli, ialah Fikri Disyacitta. Menurutku dia dewasa melebihi umurnya. Bukan dari tampang saja (peace kalau yang ini), tetapi juga pemikiran. Bayangkan, dia mengenal Marx ketika dibangku sekolah dasar, berpikir tentang Tuhan ketika SMA, dan memilih Syiah sebagai pedoman hidupnya akhir-akhir ini. Seperti yang kujelaskan pada esaiku, dia menginspirasiku tentang Syiah. Ketika orang berbicara Syiah itu anarkis, setidaknya aku bisa menolak itu karena aku memiliki sahabat Syiah yang amat lembut hatinya. Oya yang aku senangi dari Fikri, ia memiliki empati sangat tinggi dan bersikap selalu menolong. Trimakasih Fikri pernah mengantarkan makanan saatku sakit bersama Hala.

Muhammad Fajar Putranto, pria yang tulen berdarah seni ini seringkali membuatku kebingungan. Terutama dari tingkahnya. Ia memanglah seniman sejati karena semua hal ia hubungkan dengan seni, sungguh jenius! Meskipun dia pendiam, tetapi bila sudah dekat dengannya ia akan sering mengeluarkan hal-hal konyol yang membuat kita tertawa-tawa. Aku pun setuju dengan pendapat Hala yang mengatakan Fajar adalah tipe pria yang romantis. Ahaaaay. Setelah itu ada sahabat yang selalu menjadi teman sekelompokku. Entah itu dalam kelompok sharing, kelompok games, dan kelompok minum kopi. Dialah Rezza Aji Pratama. Memang namanya sangat familiar karena ternyata banyak yang bernama sama dengannya. Namun dia selalu menyanggah karena bedanya ia memiliki “Z” dobble. Leadership-nya tak diragukan lagi karena aku rasa semua peserta KEM dapat mudah terpengaruh ketika Rezza berbicara. Aku juga kagum dengan Rezza karena ternyata diam-diam, dia sudah menerbitkan dua buah buku. Itu sesuatu yang “Uwooooow”.

Fitriana gadis Jawa yang kuliah di Kalimantan ini sering kali memermasalahkan logatnya yang menurutku tidak bermasalah. Aku sangat mengerti dengan pemikiran-pemikiran Fitri yang berbeda dengan pesarta KEM untuk beberapa hal. Dalam Ilmu Komunikasi kita mengenal frame of reference dan field of experience, dari itulah aku mencermati Fitri. Meskipun kita tak banyak bercerita tentang apa-apa yang mendoktrinmu, tetapi aku pernah merasakan ada diposisimu dan memang berpengaruh sangat besar dalam hidup kita. Tak ada yang salah ketika kita memilih, yang salah adalah ketika kita tidak bisa menentukan pilihan kita. Aku pun sangat salut dengan keberaniannya dalam mengutarakan perbedaan itu karena kita dilahirkan untuk berbeda dan menerima perbedaan-perbedaan itu bukan?

Dari tanah Batak (lagi) ada Guster C. Sihombing. Awalnya aku mengira dia adalah lelaki yang amat cool, tetapi sesudah tahu aslinya ternyata ia adalah sosok yang hangat. Selain Raja Batak mungkin ada Raja Ngakak untuk Guster. Hahaha. Bertolak belakang dengan Guster ada Ihram yang merupakan sosok ustadz menurutku. Kebanyakan dari perempuan KEM memang mengagumi sosok pak ustadz ini dan ada pula yang mengagumi suara Ihram yang seperti penyiar TVRI. Pengetahuan agamanya juga sangat luas, tetapi yang aku salut dia mampu menahan emosi, meskipun dalam perdebatan. Salut!

Lalu ada manusia pohon, Jody Baskara. Ia memang tinggi sekali. Aku sering mengejeknya dengan judul lagu Wali: Jodi alias Jodoh Ditinggal Mati (amit-amit sih Jod, hehehe). Pertama kali berkenalan, ia yang lebih dulu mengajak berkenalan denganku di Gereja GPIB Imanuel. Saat berkenalan aku merasa Jody menghafalkan pertanyaan. Baru-baru ini aku mengonfirmasi padanya, ternyata benar dia menghafalkan pertanyan. Oh My God Jody. Hahahaha. Mengapa aku bisa tahu? Soalnya, pertanyaan dengan kalimat dan runtutan yang sama ia bertanya lagi ke teman disampingku, Setya. Dari Jody aku baru tahu bahwa lelaki itu bisa menangis juga, bisa riang sekali, dan bisa amat melankolis. Jadilah stereotipku tentang lelaki berubah karena Jody. Power Ranger merah, berubah! Hahaha. Trimakasih Jody. J

Sekilas tampak sosok May Rahmadi ialah sosok yang pendiam. Namun, bila ngobrol dengannya itu akan berbicara berbagai hal.  Meskipun awalnya aku merasa dia cool, tetapi ternyata dia cukup ramah denganku. Aku melihat May sebagai anak gaul Jakarta banget gitu loh! Hehe. Lalu, Naufik Istikhari KR yang sangat kutu buku sekali. Aku memanggilnya “Upil”. Hihihi. Aku merasa dia berternak kutu buku di rumahnya. Namun, terkadang ada hal-hal unik yang ada dalam dirinya, seperti dirinya yang amat narsis. Soalnya baru kali ini aku menemukan kutu buku yang narsis. Hehehe. Sejenis dengan Upil ada yang namanya Setyaningsih. Tulisannya ada di mana-mana. Saat pertama kali bertemu dirinya, ia bertanya, “Sudah ke mana saja kam mengirimkan tulisanmu?”. Jleb banget bagi aku. Hahaha. Namun yang aku suka dari Setya kata-katanya amat sastra sekali dan cara berpikirnya pun cukup radikal. Ketika melihat daun jatuh saja misalnya, dia sudah bisa membuat enam halaman esai. Inspirasinya sepertinya bergudang-gudang, seperti aku melihat gudang Cina di kawasan Pondok Klenteng Padang yang amat padat.

Raymundus Rikang Rinangga alias 3R merupakan sosok yang bijaksana. Kata-kata yang dikeluarkannya pun penuh ilmu. Aku juga sangat terkesima ketika ia menjadi penengah di antara kami yang masih pro-kontra mengenai kepulangan Rianto. Beberapa wanita memang mengaguminya, mungkin karena ganteng kali ya. Hahaha. Oiya, Rikang pun sangat baik telah membuatkan karikatur gambarku. Trimakasih ya. J Lalu, ada yang selalu bertengkar mesra dengan Rikang, ialah Ririe Rachmania.  Saat KEM dulu ia sangat mencemaskan tugas-tugas jurnalistiknya, meskipun akhirnya terselesaikan dengan baik. Perempuan kritis ini penuh dengan prestasi di antaranya ia pernah dianugerahi beasiswa XL dan beasiswa Djarum Foundation. Saya sendiri tahu untuk mendapatkan beasiswa tersebut tidak sembarang orang yang bisa. Lalu, ada Saneri meskipun awalnya aku kira dia adalah wanita perkasa (saat mendengarnya berbincang dengan sopir angkot), tetapi ternyata Saneri adalah orang yang lembut sekali. Apalagi ketika hari terakhir, ia menangis berderai-derai. Sosoknya berada ditengah-tengah sanggar akar sungguh menginspirasiku. Ditambah lagi dengan pengalamannya mendapat beasiswa dengan keterbatasan yang ada. Sungguh struggle!

            Salahuddin Al Madury, dialah orang KEM pertama yang bertemu denganku selain Mba Etha Handayani. Dia juga peserta KEM yang pertama kali me-smsku, ditengah kesendirianku di penginapan waktu itu. Aku melihat Cak Udin itu seperti cabe rawit. Meskipun dia masih muda, tetapi pemikirannya cadas. Aku juga suka dengan kefrontalannya dalam berpendapat. Di dunia ini, jarang sekali kita bisa menemukan orang-orang yang bisa jujur mengutarakan pendapatnya, seperti Cak Udin dan Fitri. Berbahagialah kalian bisa melalukan itu. J

Terakhir, orang yang aku pinjam pengalamannya dalam karyaku ini, Yohanis Ajoi. Aku selalu senang menceritakan budaya Papua kepada teman-temanku sejak aku kenal Bung Ajoi. Hal yang membuat aku terkesima dari Ajoi ialah pengetahuannya yang luar biasa. Awalnya maaf, aku begitu stereotip menilai orang Papua terbelakang. Soalnya, di film-film orang Papua cenderung dikisahkan sebagai orang-orang yang kehilangan akses pendidikan. Namun, Ajoi menyadarkanku bahwa dia adalah salah satu “mutiara hijau” dari Papua. Meskipun ia bercita-cita jadi wartawan Tempo, aku malah melihatnya akan menjadi seorang Gubernur Jayapura suatu saat nanti. Terima kasih Bung Ajoy!

            Itulah sepenggal kisahku dengan orang-orang luar biasa ini. Barangkali hanya Tembok Cina yang mampu menampung semua kisah kita di Wisma Tempo Sinargalih itu. Kalian adalah orang-orang yang selalu dapat kuceritakan, mengenai ketangguhan dan penerimaan. Sampai sekarang pun kisah-kisah itu masih terus mengucur dari mulut ini sahabat. Terima kasih telah membentuk kepribadianku untuk Menjadi Indonesia. Tetaplah mengalir dalam darahku. I really love you all.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top