Tempo Institute
No Comments

Strategi Berbicara pada Publik

 

IMG_0312a

Penting bagi Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) menjelaskan program jaminan sosial kepada publik dengan gamblang. Program-program baru yang digawangi oleh BPJS misalnya, berpotensi polemik ketika implementasi. Antisipasi tidak cukup hanya pada penggodokan konsep program, perencenaan dan pengawasan pelaksanaan. Yang tak kalah penting adalah menyampaikan tindakan-tindakan antisipasi itu kepada publik.

‘Berbicara’ kepada publik ternyata gampang-gampang susah. Dengan gaya khas birokrat yang formal, seringkali hal-hal penting yang menjadi pokok penjelasan tidak tersampaikan. Oleh karena itu, mengerti cara media bekerja untuk kepentingan publik jadi mendesak.

Itulah yang dieksplorasi DJSN dalam workshop “Ayo Menulis, Mari Bertarung Gagasan di Ruang Publik”, bersama TEMPO Institute tanggal 13-14 Februari 2014. Dalam workshop, lembaga yang resmi terbentuk sejak 2008 ini berstrategi menyampaikan gagasan di ruang publik, terutama media. Debra H. Yatim, salah satu pembicara, mengajak peserta berkreasi agar isu-isu penting lembaga bisa menjadi buah bibir, tak kalah dengan isu korupsi. “Ayo, jangan sampai isu jaminan sosial yang penting ini jadi tidak menarik,” Katanya.

Seringkali, isu penting yang dimiliki lembaga tidak disambut media karena dinilai kurang menarik. Workshop membekali peserta dengan perspektif media untuk mengukur menarik atau tidaknya gagasan bagi publik. Misalnya dari segi angle dan fokus persoalan yang ingin disampaikan, apakah penting bagi publik?. Hal lain, kriteria layak berita juga perlu diperhatikan betul oleh peserta. Teknis penyampaiannya pun harus langsung, jangan bertele-tele. Jika bisa memenuhi kebutuhan media berupa berita layak muat, lembaga tidak perlu lagi membayar wartawan untuk datang dan meliput. Jadi, strategi pertama adalah pastikan isi dan kemasan gagasan menarik dari sisi jurnalistik.

Menggaet media untuk membuat pemberitaan dengan menyediakan bahan yang menarik, belumlah cukup. Ada cara lain berbicara pada publik. Peserta diajak ‘menjual’ isu seputar jaminan sosial langsung kepada publik dengan cara menulis populer di media massa. Opini dan esai cukup ampuh mempengaruhi perspektif pembaca. Ini adalah strategi kedua.

IMG_0095a

Ketika menulis opini, peserta harus memahami karakter media yang dituju. Setiap media membuat kriteria berbeda untuk tulisan opini yang bisa lolos meja redaksi. Peserta diajak membuat tulisan dengan memperhatikan isu yang disukai, gaya menulis, jumlah karakter, dan nilai-nilai yang dianut media.

Strategi ketiga, lembaga bisa memanfaatkan berbagai media sosial. Banyak manfaat yang bisa diperoleh, utamanya karena bisa langsung berinterkasi dengan audiens. Kepentingan sosialisasi dan penjelasan tentang sesuatu bisa cepat sampai pada publik melalui media sosial.

Terakhir, peserta berlatih berbicara pada media lewat simulasi siaran pers. Lembaga tidak hanya harus matang dalam hal konten, tetapi juga sikap tubuh dan gaya bicara. Hal ini tidak bisa ditawar demi citra institusi di depan media yang menjadi corong lembaga berbicara pada publik.

 

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top