Tempo Institute
1 Comment

Shalahudin Al-Madury

16 oktober 2013.

Yes, ini hari pertama aku berproses di kelas. Langsung, aku dan bang Rianto terlambat beberapa menit masuk kelas. Di kelas ini aku merasa nyaman, kak Rius yang menggadang-gadang menciptakan “freedom academy” cukup membuatku tergiur.

Aku mendapat banyak hal baru disini, proses belajar mengajar yang membuatku kadang merasa “apa aku salah duduk disini”. Karena aku kadang tidak nyambung apa yang mereka bicarakan, mungkin karena selama ini aku terlalu berusaha untuk buta, untuk tuli, berusaha sok sibuk, sehingga seolah-olah tidak ada waktu untuk memikirkan Indonesia. Karena yang aku tahu, aku mahasiswa farmasi, ilmu pasti, belajar kimia, jaga lab, laporan praktikum menumpuk, begitulah lingkungan kampus menina-bobokkan aku agar tak peduli terhadap lingkunganku. Bahkan aku lupa jika aku adalah manusia.

Selama di WTS aku banyak belajar, belajar untuk memposisikan diriku sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Oleh karena itu, aku harus menerima perbedaan. Dari pelajaran di WTS aku mulai begumam, hemm.. rupanya belajar Menjadi Indonesia lebih sulit daripada belajar mengeja nasib obat dalam tubuh, dalam konsep farmakokinetik maupun farmakodinamiknya.

Jadi selama ini terlalu saklek untuk hal-hal yang pasti, ilmu sosial seakan mudah untuk dipelajari. Akan tetapi? Ketika diajak untuk menganalisa sosial, otakku berkata lain. Ya, harus aku akui… rumitnya belajar mematematikakan tubuh lebih sederhana daripada harus mengkalkuluskan Indonesia. Ya iyalah, di Indonesia ada banyak anatomi tubuh, sedangkan selama ini aku selalu mengeluh padahal baru belajar satu anatomi tubuh. Mungkin aku harus banyak belajar kepada Rocky Gerung, supaya bisa membongkar ilmu farmasi agar dapat disosialkan. Ah, rupanya aku tambah pusing nih…

Proses sharing, menulis refleksi rupanya cukup membantuku dalam mendefinisikan hari. Apalagi saat tulisanku ditelanajngkan oleh mbak Ninil, luar biasa sekali, terimakasih mbak. Kemudian, ketika kak Reus bilang bahwa bicaraku tajam tetapi tidak jelas. Terimaksih kak, sekarang  aku lebih memperhatikan teknik asertif.

 

Surat Rindu untuk Saudarku di KEM 2013

Kepada Yoni, Fikri, dan Bang Rianto.

Hai punggawa kamar nomor 2? Apa kabar kamu di Bogor, Surabaya, dan Jakarta?.  Yoni, aku ingin sekali banyak belajar dari kamu. Impianku di awal 2014, aku ingin menjajaki negeri Allah selain Indonesia Yon. Seperti kamu, semoga aku bisa main ke IPB biar banyak bertanya sama kamu. Oiy Yon, jaga ibadah ya.

Fikri, kamu taretan dibi’ fik. Aku salut sama kamu. Kamu menemukan Syi’ah dengan kesendirianmu, sedangkan aku? Aku memeluk Islam dari warisan orang tua. Salam buat Ayahmu di Surabaya fik. Oiya, inget gak, hampir tiap malam kita ngeronda untuk bangunin Yoni, katanya mau belajar. Tapi biasanya memilih untuk tidur kembali. Heheh

Bang Rianto, meski kita tidak terlalu lama bersama. Tapi aku melihat abang, kayak sutradara. Apalagi dengan topi hitam yang abng kenakan, amboi. Oiya bang, ingat gak waktu hari pertama saja kita sudah terlambat, diteriakin sama mbak Etha?

 

Untuk The Bujang; Kak Naufil, May, Uda Heru, Ari, dan Asep

Kak Naufi, be’na beremmah kaberreh kak? Beres? Oiya kak, tolarragih virus membacanah be’na ka engkok rah kak. Kak, engak enje’ bekto renungan be’na ngucak “lek, jek nangis, mun be’na nangis ecokocoh lak-mella’ ariyah”. (ini Bahasa Madura)

Aduuh May, mungkin kalo setelah bang rianto dan asep ada yang mau dikeluarkan lagi. Itu adalah aku, dan kamu, mungkin. Haha.. inget gak May waktu di sharing, kita sepakat untuk sama-sama tidak bicara? Lucu May, tapi malah mas baidawi dan mbak Rika membuka kita. Oiya May, waktu di PKBI kamu memulai bertanya duluan “din, menurutmu aku gimana sih?”. Oh Tuhan, semoga kita diberi waktu untuk bertemu lagi May, supaya kita bisa saling berefleksi.

“Maju kedepan, maju kedepan.. Hei, Asep! Duduk yang baik-baik, jangan nungging”. “lah itu…” Ada yang inget gak itu perkataan siapa? Heru. Her, pak Ketua The Bujang. Apa kabar kamu di Padang? Gimana puisimu her? Apa sudah namaku kamu jadikan actor dalam puisimu? Aku tunggu ya.

Hai, reka-reka Ngalam. Punapi katre Ari? Apakah sholat di Malang cukup membuatmu tertantang? Kalo tidak, cobalah kamu sholat di jembatan di jalan Suhat ri, cukup menantang itu. Ri, berteman sama kamu adalah kompor gas. Apa kabar sipuki jeliwati Ri? Salam hangat buat pak PU Kavling10.

Kang Asep, sinyal kuat kang? Padahal kalo ada kamu mungkin saat presentasi proyek kita, AntiCorruption Box tambah kocak sep.

 

Buat calon Apoteker. Athirotin Halawiyah S.Farm, Apt (k)

Assalamualaikum Hala, gimana laporan praktikummu? Lancar. Hehe. Makasih ya, sudah mendoakan aku menjadi menteri pendidikan. Oiya Hala, terkadang aku ngerasa aku salah ikut event Menjadi Indonesia ini, mungkin kamu juga merasa. Tapi terserahlah, emmangnya gak boleh farmasis memikirkan Indonesia. Harus! Yuk, menjadi farmasis yang Indonesia.

Untuk sosok Ihram, Fitri, Setya, Mas Fajar, dan Martin.

Hai orang-orang hebat, aku beruntung bisa kenal kalian. Ihram, ini bukan kapal ram. Ini obat. Akhirnya aku harus mengakui kekalahanku Ram, ketika kunjungan ke INDIKA Energi, tak satupun menyebut tentnag obat. Oke, kamu menang. Indonesia memang membutuhkan orang teknik, tapi teknik kefarmasian. Haha.

Fitri, khaifa halu? Terimaksih atas pesan yang engkau doakan kepadaku saat renungan, “semoga menjadi muslim ayng baik”. Oiya Fit, jalan dakwah masih panjang.

Buku, buku, buku, dan Ibu. Itu kamu Setya. Sosok yang pendiam yang lebih memilih melototi deretan susunan abjad.  Mantap, aku iri sama kamu Setya, dan Kak Naufil. Kalian betah banget sama buku, sedangkan aku terlalu panas mataku untuk berlama-lama bermain dengannya. Aku juga bercita-cita suatu saat aku akan ngajak anakku ke Gramedia, disitu aku melihat ada buku-buku karangan kalian, dan karanganku juga. Dan aku berkata pada anakku “nak, pengarang best seller itu, dulu teman ayah”. Subhanallah..

Malam semakin dingin di Kaliurang, sama dinginnya ketika aku dan mas Fajar mengamati bintang-gemintang di dekat kolam. Ingat kan mas? Mas Fajar banyak mengajariku agar peka terhadap lingkungan, terimakasih mas. Engkau mengingatkanku waktu kecil, aku sering ke sawah malam-malam hanya untuk mengamati bintang, dan mendengar suara air.

Martin, bagaimana pekerjaanmu? Mahasiswa sepertimu itu langka Tin, disaat aku dan kebanyakan mahasiswa menunggu kiriman orang tua. Kamu bekerja untuk membiayai kuliahmu dan bahkan berbagi untuk orang lain, dengan bekerja sampai 8 jam sehari. Semoga kita sama-sama sukses Tin. Oiya, kamu tidak lupa kan bagaimana cara memakai sarung? Kamu terlihat lebih tampan dengan sarung Tin. Hehe

Teman sharingku, Ririe, Guster.

Terimakasih Ririe, kamu sudah ngewall aku “sering tertawa ya udin”. Kamu lihat aku terlalu serius ya Ri? Ini aku lagi tertawa loh ri,. J Oiya Ri, terimaksih banyak atas sharing kamu. Aku juga sering merasa seperti kamu ri, aku juga sering melakukan pekerjaan sendiri atas dasar kurnag percaya kepada teman sekelompok. Ri, suaramu khas banget. Kecil, melengking, mendok, pas deh pokoknya sebagai warga Surabaya. Coba bilang Ri, “Iya tah?”… tuh kan, pas. Surabaya banget.

Guster, awalnya kamu dingin banget Ter. Kayak selalu kehabisan bahan untuk apa yang akan disharingkan, tapi lama-kelamaan. Mantap Guster. Kamu sering ngajak sharing, aku kangen pengen sharing sama kalian lagi. Baik-baik di sumareta ya Ter.

Terimaksih juga buat kak baidawi, Gea, mbak Rika dan kelompok sharingku. Yang sudah melebarkan telinganya untuk dengerin ocehan gak jelasku. Oiya, buat mas baidawi, aku ngakak mas pas sampeyan bilang “aku tahu din, cewekmu lagi ulang tahun”. Wkwkwkwk. Itu bukan cewekku mas, niatnya sih untuk calon istriku mas. Dulu…….! Ah, udah ah. (anak Unair loh Ri, mungkin kamu kenal).

 

Buat anak ibukota. Saneri, Alfa, Rezza, Benny, Jody

Tahu gak, 2 minggu ikut KEM sampai di Jogja aku diejek sama temen-temen kampus, soalnya belum bisa ngomong “gua-elo”. Haha.

Oh iya, Sere. Pas waktu kumpul di Gereja Immanuel itu, aku melihat kelihaianmu mengajari anak kecil bernyanyi. Tak begitu kuingat lagu apa yang kamu ajarkan untuknya, yang pasti keren. Apalagi setelah berkunjung ke sanggar anak akar, aku lihat seharusnya ada beberapa ribu sanggar anak akar di Indonesia Sere. Yang ada beribu kali lipat orang seperti Sere, aku malu sama kamu Sere. Padahal di lingkungan aku saja, banayak anak-anak yang tidak ada biaya uantuk melanjutkan sekolah, tapi aku hanya diam saja. Lanjutkan Sere!

Alfa, Benny. Kalian simbol anak Jakarta banget. Haha. Esai kalian keren, Alfa, ajak aku ke Jepang ya. Biar aku lebih cinta kepada Indonesia. Haha. Ben, ajari aku untuk lebih peka terhadap manusia.

Rikang, cara bicaramu keren kang. Tenang, aku banyak belajar dari cara kamu memilih diksi. Dan sikap tenang dan tidak terburu-buru. Ayo ketemu di Jogja Kang.

Jodi, inget gak waktu kita muter-muter cari masjid? Sampai di kementerian agama? Untung gak sampai Monas. Oiya Jod, jangan nangis terus ya… Indonesia tidak membutuhkan air matamu, tapi butuh yang lain dari kamu. (kata penyair sih).

Untuk Rezza. Za, tahu gak aku melihatmu di stasiun Bogor, tak kira kamu itu panitia loh. Terus ingat gak Za, waktu jalan kaki untuk jum’atan di Mesjid, percakapan ringan kita.?. OIy lagi Za, ketika games memasukkan spidol ke dalam botol? Disitu aku lihat kelihaianmu mengkoordiner kelompokmu Za, lucu, dan mengesankan.  Ah,.. aku jadi teringat tulisan yang ada di kaosmu Za “Ber(t)ani karena Benar”. Sip. Melihatmu naik podium aku senang Za, karena aku yakin, kamu mampu memegang amanah itu.

 

Kelompok sharing sementaraku. Tiwi, Brita.

Tiwi, inget gak waktu berlarian menuju stasiun gondangdia? Kamu repot dengan statusmu yang maba. Padahal kita semua sama, Maba juga sih. Terus inget gak, waktu sharing kamu bilang aku pendiam? Heheh,,, baru pertama kali aku dibilang pendiam. Biasanya cerewet.

Brita, Alhamdulillah kita bertemu di Jakarta. Setelah sebelumnya sering komunikasi dalam menyiapkan keperluan KEM. Semoga kita bisa bertemu lagi, entah di Jogja, atau dimana saja.

 

Untukmu Uni Suci dan Pace Ajoi.

Apa kalian ingat, waktu di penginapan Pejambon? Sorenya aku dan kak Naufil bertemu Uni Suci dari Unpad, dan malam harinya kamarku kedatangan Yohanis Ajoi. Saudara kita dari Papua. Jujur, pertama aku melihat Ajoi sama halnya dengan ketika aku bertemu orang Papua lainnya di Jogja. Ada perasaan takut sekaligus kurang nyaman.

Namun, hal itu hanya beberapa saat saja. Ajoi merubah stigma negatifku tentang orang papua yang sebelumnya aku kenal. Ajoi tak seperti kebanyakan mahasiswa Papua yang ada di Jogja, yang suka membuat onar dan cukup mengganggu. Tapi Ajoi tidak, melalui percakapannya yang kocak, lucu, dan logatnya yang khas aku kagum sama Ajoi. Apalagi malam harinya aku, Ajoi, dan Suci bermain ke Monas. Kami bertiga menikmati takbir malam idul adha di Monas.

Apa Uni Suci dna Ajoi mengingatnya? Ketika aku memilih tidak makan malam, hanya untuk mengamati tingkah laku ibukota? Terus Uni Suci nyeletuk “Sibuk ngamati bencong ibukota Din”. Hehe… Suci, senang ya kita bisa bareng Ajoi takbiran di Monas.

Ah… aku jadi merindukan kalian semua.

***

Kawan. Aku tidak tahu, dimana aku akan menemukan kalian dimana lagi. Aku takut aku tidak bisa memikirkan Indonesia lagi. Aku takut tidak menemukan forum untuk berdiskusi dengan orang-orang hebat seperti kalian lagi. Aku merindukan kalian. Salam hangat, Cak Udin.

 

Yogyakarta, 17 November 2013.

(Cak Udin, Yogyakarta, shalahuddinalmadury@yahoo.com, iamalmadury.blogspot.com )

1 COMMENT
  1. suci

    aku juga rindu kamu diin dan semuanyaa 🙁

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top