Tempo Institute
No Comments

Setyaningsih – Para Pengisah

15 Oktober 2013, tubuh-tubuh bergerak dan berpindah kota. Mahasiswa-mahasiswa terpilih meninggalkan rumah, kampus, dan rutinitas untuk menjalani peristiwa yang lain. Wajah-wajah saling bertemu, menyapa, tersenyum, dan bertanya. Wajah-wajah saling menyebutkan nama, tempat tinggal, dan kampus. Sebuah tradisi klise, tapi memang butuh untuk saling mengenal. Kemah Menjadi Indonesia 2013 oleh Tempo Institute mungkin akan menorehkan hari-hari berbeda. Bukan sekadar menterengnya label mahasiswa, tapi karena setiap tubuh akan menorehkan kisah. Memartabatkan diri menjadi pengisah.

Sejak awal, aku memang sengaja menghindari facebook untuk mengetahui siapa saja yang lolos mengikuti KEM 2013. Meskipun penyelenggara telah mengirimkan daftar nama-nama peserta dan besar kemungkinan kita bakal saling menemukan serta bertatap muka secara teknologis dalam jejaring sosial. Momentum sakral ini rentan rusak. Aku menantikan saat-saat mendebarkan ketika bertemu yang tidak aku kenal dan ketahui wajahnya. Kita akan saling berjumpa dan menyapa.

Maka, aku mengingat perjalanan ke Wisma Tempo Sirnagalih, Megamendung, Jabar adalah perjalanan aneh, tapi berharga. Kita disatukan oleh kebutaan arah dan tempat untuk menemukannya. Kita berdesakan-desakan di bus, berlari ke stasiun, berfoto di depan loket, dan menunggu kereta api yang akan membawa kita saling berperistiwa bersama. Maka, betapa pentingnya sebuah pertemuan atau tatap muka ini.

Dalam buku Seperti Sungai yang Mengalir (2013), Paulo Coelho menulis renungan tentang tatap muka. Renungan membawa tatap muka sebagai peristiwa bermakna. Paulo menceritakan seorang bernama Theo Wierema yang berkata, “Zaman sekarang, orang-orang jarang saling bertatap muka, dan kalau mereka tidak saling bertatap muka, mereka tidak akan bertumbuh.” Dengan membuat orang bertatap muka, Theo meyakini bahwa dirinya turut memperbaiki harapan-harapan yang rusak. Masih ada hal baik yang ingin turut diwujudkannya. Tatap muka membuka ruang untuk saling mengenal, menautkan batin, dan paling tidak saling tersenyum.

Dan tatap muka inilah yang akan membawa kita, tubuh-tubuh yang tak saling kenal, untuk saling bercerita. Kita sama-sama mengisahkan Indonesia lewat Jawa, Sumatra, Jakarta, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Bali, Papua. Kita harus meyakini diri bahwa kita bukan tubuh yang kosong karena kisah-kisah itu ada di dalam diri kita. Tubuh kita adalah himpunan aksara yang saling bertaut bersama waktu. Maka, sangat disayangkan ketika akhirnya kita harus menunda pertemuan-pertemuan klub “Silang Budaya” karena lelah beracara. Dan aku harus melewatkan klub renang karena aku tidak bisa berenang.

Namun, aku kira Wisma Tempo tetap tempat yang cukup puitis untuk membuat kita mengingat pohon, air, wayang, kopi, buku, rumput, keluarga, permainan kasti, dan rumah. Kita sejenak mengabaikan dingin dan kantuk untuk mengikuti setiap materi. Lalu, melakukan sistem tanya jawab seperti seminar-seminar yang ada di kampus. Seharusnya, kita bisa saling bercerita hutan dalam epos Mahabaratha dan Ramayana atau dalam film Tarzan ketika materi Lingkungan hidup.

“Pengisah Buku”, aku bersyukur mampu hadir bersama nama ini untuk klub menceritakan buku yang dibaca. Aku menyesali padatnya acara dan tubuh kita yang tidak bisa melawan capek hanya mampu berkisah dalam periode yang singkat. Syukurlah kita masih bisa mencuri-curi waktu untuk saling bercerita buku. Dan ingat, kita mendapat beberapa buku dari Tempo; Cari Angin, Bahasa!, Pengakuan Algojo 1965, Don Quixote, Catatan Pinggir 10 ( ini buku favoritku), Surat dari & untuk Pemimpin.

Kerja literasi, termasuk membaca dan menulis adalah kerja kehidupan. Jangan sampai kita menghina diri kita sendiri dengan terjun bebas sebagai mahasiswa perlombaan, menulis hanya untuk perlombaan. Berkisah sepanjang hidup adalah cara untuk berbagi dengan orang lain. Merasakan diri sendiri ada bersama yang lain. Bagi seorang penulis, menulis itulah yang sangat penting, bukan latar belakang pendidikan atau gelar sarjana (Mo Yan, 2013). Menulis bukan hanya sekadar kita mahasiswa, tapi kita manusia. Menjadi apapun, kuliah di fakultas apapun, di aliran apapun, di LSM apapun, di kantor apapun, dan di negara manapun kita nanti, tentu bukan menjadi penghalang untuk kita berliterasi.

Aku berterimakasih kepada teman-teman untuk pertemuan dan pengisahan sepanjang dua minggu di bulan Oktober 2013. Terimakasih pula untuk yang memberiku buku-buku (Kisah-Kisah dari Tanah Merah, Tiran dan Benteng, Dari Akar Kami Tumbuh, SI Semarang dan Onderwijs, Restorasi Pendidikan di Indonesia ), yang mengisahkan tentang air dan anjing lucunya, yang mengaku  yang memberiku pembatas buku, yang membelikan buku keren; Nenek Hebat dari Saga, yang satu rumah (kamar) dan sampai jenuh mendengarku mengoceh buku, yang merecokiku membaca saat sarapan, yang memanggilku “Ibu Kita Kartini”, yang memanggilku “Gramedia berjalan”, yang memanggilku “Bibbi Bokken”, yang mau membaca buletin “Ora Weruh”, yang senasib di warung kelas ekonomi, yang senasib di kelompok Meja Bundar Ceria, yang mengingatkanku akan rumah dan Bilik Literasi, yang bercerita tembang dan ibu, dan yang mempersembahkan lilin-lilin bercahaya.

Aku bukan pengingat yang handal, Namun, aku sadar bahwa kita telah memiliki dan saling menempati ruang bersama bernama KEM 2013. Maka, aku berikhtiar untuk mengingat bukan hanya lewat foto, tapi aku juga akan mengingat kalian lewat kata. Semoga kita terus memartabatkan diri menjadi para pengisah.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top