Tempo Institute
1 Comment

Sekuntum Puisi untuk Indonesia

Oleh: RESPATI WASESA AFFANDI – IISIP

 

 

                                                                                                                                               Prolog:

Esai ini sekadar menceritakan gambaran sederhana kehidupan pengamen-pengamen kecil di sebuah kota metropolitan, di dekat Ibu Kota Negara. Juga tentang nilai-nilai kehidupan dan semangat mereka untuk menjaga kebersamaan dalam menghargai perbedaan. Mereka sangat menginspirasi. Bagi saya, sekelumit cerita ini perlu dikabarkan: Indonesia mesti sanggup menumbuhkan putik dan memekarkan bunga bangsa meski di tempat paling gersang, bernama jalanan.

 

 

 

Suatu Siang di Pinggir Kalimalang

Wajah Riski (10) nampak semringah keluar dari Saung Kalimalang. Ia girang karena berhasil menyelesaikan sebuah karya puisi. “Malam Menjelang Pagi”, begitu judul yang dia tulis. Kemudian menyusul Khaidil (11), Wahyu (13) dan Fatimah (12). Siang itu saya bertugas mendampingi beberapa anak jalanan menulis puisi dengan tema religi. Puisi mereka nantinya diterbitkan di salah satu media lokal di Bekasi, di rubrik Sastra Kalimalang.

“Bang, Jenong tidak bisa menulis,” ucap Riski pada saya.

Iya, betul. Satu dari teman mereka ada yang tidak bisa menulis dan membaca. Jenong (20) namanya. Ia malah paling dewasa di antara teman-temannya, kira-kira sepantaran saya. Beberapa kali dia mengayunkan tangan ke pelipis, telapak kusam itu mengusap keringat. Saya paham.

“Riski, coba kamu bantu Jenong. Jenong yang mengeja, kamu  yang menuliskannya.” Mata kami saling bertatapan.

Mengapa yang susah semakin susah/yang mapan semakin mapan/aku ingin semua manusia sama di hadapanMu, Tuhan.

Jenong akhirnya bisa juga menyelesaikan sebuah puisi. Itulah nukilannya. Kemudian saya lanjutkan membaca puisi Fatimah, “….kutulis puisi ini hanya untukMu, Tuhan/ karena pena ini digerakkan olehMu juga… Puisi Wahyu seolah melengkapi, “…susah payah kami lalui bersama, suka duka kami hadapi bersama, kebersamaan menguatkan kami. Terima kasih, Tuhan...”

Saya kagum pada mereka, terutama karena ketulusan dan kepolosan dalam mengungkapkan kecintaan terhadap Tuhan dan rasa kemanusiaan serta kesetia-kawanannya yang tinggi. Mereka menulis sambil mondar-mandir tidak karuan. Ada yang bertelanjang dada dan juga beberapa dari mereka keluar saung kemudian nyemplung ke kali. Saking lincahnya pula mereka kadang ada yang tertampar buku karena memang digantungkan dengan menggunakan tali dan jepitan dari atap saung. Hujan buku ini mengingatkan kami agar tidak sombong akan ilmu.

Tak terasa hari petang, matahari pun perlahan turun. Anak-anak jalanan yang pulang dari mengamen semakin banyak berdatangan. Kami pun duduk di bantaran (sungai) Kalimalang. Kalau sudah datang apalagi berkumpul, pasti mereka ribut dan cerewet, tapi saya malah menikmati. Mereka juga ternyata pintar menghibur diri dan orang lain. Mereka terlihat ramah, terasa sopan mengucapkan salam.

 

Dari Mimpi ke Puisi

Perkenalan saya dengan anak jalanan bermula dari Ane Matahari, seorang seniman dan tokoh musikalisasi puisi. Setahun yang lalu, pria berusia 40 tahunan ini mengutarakan keinginannya untuk mendirikan perpustakaan di pinggir Kalimalang, dekat Kampus Universitas Islam ‘45’. Saya sempat ragu, sebab ia terbiasa hidup di jalanan dan tak pernah tertarik dengan buku.

Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang, barulah saya sadar setelah mengetahuinya. Ane Matahari ternyata pernah belajar di Institut Kesenian Jakarta dan kemudian dengan penuh kesadaran memilih turun ke jalan. Dia tak mau berdiam diri. Berkat keuletan serta bimbingannya, anak-anak jalanan berhasil menyabet sederet prestasi dan menelurkan karya berupa album musikalisasi puisi. Bahkan, beberapa orang anak jalanan itu sudah mau kembali ke rumah tanpa rasa minder. Menikmati kehidupan, layaknya anak-anak seusia mereka.

“Saya fokus kepada persoalan mentalitas dan moralitas anak-anak. Kadangkala, orangtua mereka tanpa sadar melakukan perbuatan tidak baik tersebab himpitan permasalahan rumah tangga. Kalau sudah memiliki landasan moral, mereka akan bisa menyadarkan keluarga dan lingkungan sekitar. Saya terus menggali potensi mereka, terutama melalui puisi dan musik. Materi inilah yang dijadikan bahan untuk edukasi kreatif bagi pertumbuhan rohani.. Ini art therapy dan perpustakaan adalah pemantiknya,” begitu ungkap Ane suatu kali.

Semua orang bebas bermimpi. Perpustakaan di bantaran Kalimalang berdiri gagah meski terbuat sekadar dari rakitan bambu. Buku perpustakaan tersebut sumbangan masyarakat. Buku apa saja. Mimpi kami dengan pemuda lain akhirnya bisa terwujud. Sejak itu, anak-anak jalanan yang biasa mandi dan main di Kalimalang bernaung di saung. Mereka mulai gemar membaca buku, majalah, komik, dan buku pengetahuan lainnya sambil tiduran. Ada juga yang hanya memainkan gitar kecil, sementara matanya menerawang ke perempatan lampu merah yang tidak begitu jauh jaraknya dari  saung.

Saya sering mengamati mereka diam-diam. Kadang pura-pura sibuk menatap layar laptop sembari mencuri pandang saat mereka asyik duduk dan membaca di saung. Bila seorang anak membaca, yang lain akan ikut membaca. Namun, mereka tak semua bisa karena sebagian mereka memang tidak mengenyam bangku sekolah. Kekurangan tersebut justru menjadi kelebihan. Satu di antara mereka, yang bisa membaca, biasanya berlagak ingin menceritakan isi buku pada teman lainnya. Ceritanya dibesar-besarkan. Nah, di sinilah, yang tidak bisa membaca, penasaran dan mendesak si pencerita mengajari membaca. Proses itu berjalan dari minggu ke bulan hingga akhirnya mereka pun satu persatu berangsur bisa.Sangat alamiah.

Kami menyebutnya Perpustakaan Pinggir Kali atau Saung Kalimalang karena memang bukan perpustakaan laiknya di kampus ataupun sekolah-sekolah. Ini hanya tempat, bagaikan kata di dalam  pantun, “Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kami menumpang…” Untuk itulah, kami mesti memberi: berbuat sesuatu supaya bermanfaat bagi masyarakat. Hajat dan hak orang banyak, termasuk milik mereka yang papa.

Saung inilah yang akhirnya mengantarkan saya menjadi pengais kata-kata. Sebuah media lokal menawari dan memercayai kami menggarap serta mengisi satu halaman penuh koran setiap minggunya sebagai ruang ekspresi budaya. Halaman itu bernama Sastra Kalimalang. Dari situ, kami kerap mengajak anak jalanan, tukang ojek, anggota satpam, PSK, napi atau pun pedagang asongan dan pedagang kaki lima agar ikut terlibat menuliskan puisi-puisi bagi negeri tercinta. Dari merekalah saya menemukan rupa kata yang tidak hanya sekadar kata, tapi makna menubuh di dalam-Nya.

Mengeja puisi, membaca negeri

Apakah Tuhan adalah Ibu?/ atau Tuhan adalah Ayah?/ katanya Tuhan itu indah/tetapi, mengapa orang berperang karena Tuhan?/ jangan-jangan Tuhan kesepian/ Ia tak berayah, juga tak beribu/ Ia terus mengalir dalam darah di tubuh kita/ Tuhan itu dekat sekali. (1)

Tulisan di atas ialah penggalan puisi “Yang Maha Indah” karya Khaidil dan telah dimuat di halaman Sastra Kalimalang, Radar Bekasi (Jum’at: 27/1). Bocah berbadan kurus dan berambut pirang ini biasa mengamen di lampu merah tepatnya di perempatan Jalan Cut Mutia-Chairil Anwar Kota Bekasi. Ketika membaca secara seksama satu persatu karya mereka di rumah, saya amat menikmatinya. Wajah mereka membayang ketika saya menuliskannya kembali. Mereka selalu jadi ingatan, dan malah berlaga dengan kekerapan insiden tawuran antarpelajar maupun tindakan anarkis mahasiswa di Bekasi. Sepintas, tergambar pula sebaya mereka di seantero pelosok negeri yang tidak sekolah: mereka belum dilunasi janji kemerdekaan bernama pencerdasan.

Dari media massa pernah diberitakan bahwa setiap tahun ada sekitar 880 ribu anak bangsa berpotensi buta aksara. Tapi, anak jalanan di hadapan saya ini, meski tak sekolah, bukanlah generasi pendendam. Mereka bukan pembenci Indonesia. Kalau datang ke Perpustakaan Pinggir Kali, kita akan melihat bendera merah putih lusuh berukuran kecil terpasang rapi di dinding bambu: itu pemberian mereka. Sebuah rasa dan sikap nasionalisme itu sendiri. Bisa jadi ada perasaan mereka ingin mengibarkan Sang Saka seperti anak-anak sekolah mengibarkannya di hari Senin, meski tanpa upacara. Berarti mereka menaruh harapan besar pada bangsa ini.

Kadang-kadang saya malah iri melihat mereka begitu ceria berenang di kali, naik ke atas untuk memainkan ukulele, bongol dan kecrek, atau sibuk menyiram pohon yang mereka tanam di bantaran kali.—hal yang tentu tidak pernah dinikmati anak sekolahan. Pengetahuan yang mereka dapatkan memang bukan melalui paparan teori dan hafalan buku-buku. Tapi, bukankah ilmu juga berangkat dari kenyataan hidup?

Di jalan raya, ketika orang menciptakan ruang privasi dalam kendaraan masing-masing, sebaliknya, mereka kian paham makna kebersamaan. Mereka makin menghargai perbedaan: ternyata setiap orang mempunyai hak mengapresiasi atau tidak terhadap ekspresi mereka.  Gambaran itu menjadi semakin jernih ketika saya menyaksikan seorang anak jalanan tengah memakan mie instan di samping Saung.  Dua orang temannya menghampiri kemudian mengatakan ingin ikut makan karena lapar dan hasil mengamen belum mencukupi. Tanpa muka cemberut, anak itu membiarkan semangkuk mie instannya dimakan bertiga. Ini tentu bukan persoalan ada atau tidaknya uang, tapi persoalan paham atau tidaknya ketika menghadapi rasa lapar. Mereka ternyata mengerti.

Barangkali kehidupan memang telah mengajarkan jalannya sendiri-sendiri bagi manusia. Begitupun saya dan anak jalanan. Sikap mereka memperjelas betapa pentingnya merawat kebersamaan dan menghargai keberanekaragaman.

Puisi-puisi mereka pun akhirnya selalu mengingatkan saya pada tragedi kemanusiaan di Bekasi—tragedi yang meruntuhkan bangunan toleransi. Di Ciketing, serombongan orang menyerbu umat yang tengah menunaikan ibadah. Hal serupa berulang pada penyegelan gereja jamaah Filadelfia di Tambun Utara. Di Kranji, satu orang tewas dibakar massa dalam insiden bentrokan Betawi-Ambon: melihat video amatir yang merekam kejadian ini, setiap manusia waras pasti tersinggung rasa kemanusiaannya.

Benar kata Anies Baswedan, bangsa ini harus tegas, berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Negara mesti bertanggung jawab melindungi warganya tanpa pandang siapa dan berapa mereka (2). Kekerasan antarkelompok masyarakat di negeri ini sesungguhnya telah merusak tenunan kebangsaan kita. Dari tahun ke tahun tali kebersamaan itu semakin rantas, padahal pendahulu kita sudah merajutnya susah payah. Permusuhan dengan membawa panji agama seolah-olah membenarkan bahwa ‘aku’ boleh menundukkan ‘yang lain’ di luar aku. Bukankah kemerdekaan ini terselenggara atas berkat rahmat-Nya dan didorong oleh keinginan luhur untuk hidup bersama?

Saya percaya, mencintai Tuhan dan sesama manusia adalah juga ikhtiar menjadi Indonesia. Persatuan yang diajarkan Bapak Bangsa bukanlah ‘satu’ dalam hitungan angka. Satu, jika boleh disebut, mungkin seperti yang pernah diucapkan Uskup Soegijapranata: kemanusiaan itu satu (3).  Kata kemerdekaan, perikemanusiaan dan perikeadilan dalam Pembukaan UUD 1945 menggambarkan dengan gamblang betapa ‘kita’ sebenarnya sangat nasionalis, tapi amat humanis.  Rasa cinta itulah yang akan merawat Indonesia tetap ada di dalam hati setiap warganya.

 

Begitulah, dari akar jalanan saya telah dituntun melihat batang tubuh Indonesia dengan dahan, ranting, cabang dan daunnya yang terus meruyak. Pohon itu tetap tegap berdiri gagah dan selalu menumbuhkan putik serta memekarkan kuntum-kuntum bunga bangsa: sementara, angin terlalu kencang dan hujan teramat deras.

 

Catatan

  1. Puisi-puisi tersebut telah dimuat di Harian Radar Bekasi, halaman 6, Rubrik Sastra Kalimalang, Jumat (27/1/12). Sastra Kalimalang terbit setiap Jumat dan dikelola oleh Komunitas Sastra Kalimalang yang berkegiatan di Saung Kalimalang.
  2. Kalimat Anies Baswedan di dalam opininya yang berjudul “Tenun Kebangsaan..” dan dimuat di Harian Kompas, 11 September 2012.
  3. Kalimat yang diucapkan Soegijapranata dalam film Soegija garapan Garin Nugroho.
1 COMMENT

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top