Tempo Institute
No Comments

Saneri Shere – Mengenal Wajah Indonesia

Bila saya diminta menceritakan tentang KEM TEMPO Menjadi Indonesia 2013 kepada keluarga atau sahabat, saya mungkin tidak akan menceritakan tentang proses kompetisinya. Mengapa demikian? Karena kompetisi menjadi bagian yang sangat kecil dalam program ini. Meski bertajuk “Kompetisi Esai”, sesungguhnya esai yang kami kirim hanyalah jembatan memasuki gerbang kegiatan yang tak ada tandingannya. Esai kami adalah tiket masuk sebuah universitas luar biasa.

Bagi saya, hal paling berkesan saat memasuki universitas KEM Menjadi Indonesia tentu saja bertemu dengan teman-teman baru. Saya sudah membayangkan akan bertemu 30 pemuda luar biasa dari berbagai wilayah di Indonesia, meskipun hanya 27 yang hadir. Ketika mendengar satu nama peserta dari Papua, saya langsung bersemangat. Entah mengapa, Papua selalu punya kesan eksotik di kepala saya. Saya kerap memikirkan “dengan cara apa” bisa menginjakan kaki di pelosok negeri nan indah itu.

Tersebutlah “Ajoi”, seorang lelaki Papua yang dimaksud. Sejak pertama kali berjabat tangan, saya katakan padanya bahwa pertemuan ini memperkuat keinginan saya untuk datang kesana. Bahwa bersahabat dengan orang Papua akan memberikan saya cukup alasan untuk berkunjung. Mungkin karena niat itulah, saya hanya butuh waktu beberapa hari saja untuk menjadi akrab dengannya. Kami banyak bercanda, bahkan Ajoi seringkali tak ragu-ragu menggoda saya dengan berbagai gombalan lucu ala para pengisi acara Dahsyat atau Yuk Keep Smile.

Wajah lainnya adalah seorang gadis soleha dari Kalimantan. Aksen bahasa jawa dan Kalimantan yang seringkali bercampur aduk membuat kami percaya bahwa Fitriana bukanlah orang Kalimantan asli. Meski demikian, ketika ia menyampaikan keprihatinannya tentang tanah Kalimantan, saya dapat melihat kecintaannya pada pulau itu. Selain itu, Fitriana membuat saya takjub dalam beberapa hal, khususnya cara ia memegang teguh prinsip untuk tidak bersentuhan atau bahkan berjabat tangan samasekali dengan lawan jenis. Prinsip semacam ini cukup familiar bagi saya, tapi baru pertama kali saya sungguh-sungguh berteman dengan gadis yang memiliki prinsip semacam itu. Sama takjubnya ketika saya mengenal Yoni, peserta asal Bogor yang juga memiliki prinsip yang sama.

Rombongan peserta dari Surabaya juga tak kalah uniknya. Riri, Mas Fikri dan Tiwi selalu membuat hari-hari KEM lebih hidup. Meski berkuliah di Universitas yang sama; UNAIR,  mereka mengaku baru mengenal dekat satu sama lain ketika program ini berlangsung. Riri secara khusus punya kesan tersendiri bagi saya karna kebetulan kami tidur satu ranjang selama berada di Wisma Tempo Sirnagalih (WTS). Kondisi itu memungkinkan kami untuk bercerita tentang berbagai hal sampai kami tertidur pulas.

Peserta lain dari Surabaya ialah Ihram. Siapa saja yang baru mengenalnya akan salah sangka, seperti halnya saya. Beberapa hari pertama, sebagian dari kami mengenal Ihram sebagai orang yang sangat serius dan pendiam. Dibalik itu, ternyata ia adalah sosok pria super humoris. Ia mampu membuat orang lain terpingkal-pingkal sementara dirinya hanya tersenyum tenang.

Bertolak belakang dengan Ari, sang pujangga dari Malang. Sejak awal, saya mengenal dia sebagai sosok yang lucu. Namun, menjadi tim sharing nya membuat saya terperangah bahwa dibalik tingkah lakunya yang super lucu, lelaki berperawakan kekar ini mempunyai perasaan yang sangat halus dan sensitif. Saya seringkali turut meneteskan air mata ketika mendengarkan ia bertutur tentang dirinya.

Keunikan para peserta KEM tak akan pernah lengkap tanpa kehadiran seorang gadis lemah lembut bernama Setyaningsih. Gadis Surakarta ini mampu memukau siapa saja karena keintimannya dengan Buku. Dia menyukai buku lebih dari apapun- mengagumkan!

Dari kota yang sama dengan Setyaningsih, Fajar memiliki keunikan tersendiri. Darah seni yang mengalir di tubuhnya sudah tidak diragukan lagi. Betapa tidak, ia tidak sekedar mampu bermain berbagai alat musik, tetapi juga mempertontonkan keahliannya dalam seni multitafsir. Saya ingat ketika ia membawakan solo performance yang begitu abstrak namun sungguh mempesona.

Sementara itu, gadis berhijab asal Jogjakarta, Brita Putri Utama, selalu punya cara khusus memperlihatkan kecerdasan dirinya. Saya seringkali memperhatikan kemahirannya menggunakan pengalaman pribadinya untuk memperkuat setiap argumen. Pemikiran kritis membuatnya cocok  berstatus mahasiswi  kampus ternama UGM.

Soal keahlian berargumen, Rikang tak kalah hebat. Mahasiswa Atmajaya Jogjakarta ini terkenal sangat intelek. Ia kerap kali menggunakan istilah “dewa” yang mampu menandingi bahasa para profesor. Bila teringat Rikang, saya kadang merasa berdosa pernah menceburkannya dalam kelompok “hore” yang beranggotakan manusia-manusia konyol bernama Alfa, Benny, Guster dan saya sendiri. Kami sering tertawa membayangkan bagaimana perasaan lelaki intelek ini ditengah manusia-manusia yang selalu cekikikan setiap saat.

Hingga hari ini, saya cukup yakin bahwa Guster adalah biang keladi yang membuat kepala sekolah KEM menyebut kami kelompok “hore”. Mengapa? karena diantara kami berlima, dialah manusia terheboh yang seolah hidup hanya untuk suka cita. Selama saya mengenalnya, hanya sekali saya melihat laki-laki berambut ala Giring, Nidji ini menangis tersedu-sedu. Tidak percaya melihat dia menangis di hari perpisahan itu, saya sampai  termenung di dalam taksi sambil bergumam “ternyata anak itu bisa nangis juga ya”.

Perempuan manis yang membuat KEM saya begitu bermakna adalah Alfa. Saya menemukan banyak persamaan dengan dirinya sehingga menjadi dekat bukanlah hal yang sulit. Ia sangat periang namun di saat bersamaan bisa sangat sensitif. Namun saya menyukai gadis ini dengan segala tingkah lakunya, termasuk keunikannya dalam memberikan judul tulisan. “Jatuh cinta pada Indonesia” dan “Semoga Indonesia tetap rukun” adalah pilihan judul yang sering membuat “tim hore” terpingkal-pingkal. Meski demikian, judul-judul itulah yang menghantarkan dirinya menjadi Runner Up Menjadi Indonesia.

Sahabat lain yang akan selalu saya kagumi adalah Benny. Mahasiswa Psikologi Bunda Mulia ini patut diacungi jempol atas kegigihannya dalam memperjuangkan kelompok LGBT. Keterlibatan dirinya dengan kelompok LGBT memperkaya pengetahuan kami tentang kehidupan kelompok minoritas tersebut. Selain itu, Benny juga terkenal unik. Suara dan bau gas yang dikeluarkannya mampu menghentikan aktivitas apapun di KEM, bahkan kadang menjadi timer.

Bila kelompok hore perlu berlima untuk menjadi lebih ramai, Jody bisa melakukannya sendiri. Peserta termuda di KEM ini mampu menarik perhatian siapa saja dengan kelincahannya dalam bergaul. Ia menyukai segala bentuk tebak-tebakan, kecuali tebakan segitiga dalam segitiga yang membuatnya frustasi.

Jody kerap meledek siapapun yang ada di KEM, termasuk Hala. Hala ialah mahasiswi berparas ayu yang kerap menjadi sasaran candaan teman-teman karena namanya yang cathcy. Jody sering memimpin para peserta untuk bersorak “Hala..hala..yeyeye..Hala..Hala..Yeyeye..” sebagai bentuk dukungan bila Hala melakukan apapun.

Gadis berparas ayu lainnya berasal dari Padang. Perempuan bernama Suci ini memiliki logat Padang yang khas. Karena itulah, saya senang memanggilnya Uni. Ia adalah perempuan yang murah senyum sehingga siapapun yang dekat dengannya akan merasakan aura keramahan.

Suci bukanlah satu-satunya peserta dari Padang, ada Heru yang juga berasal dari tanah minang. Selama KEM, Heru merupakan salah satu peserta yang tak pernah ragu menyampaikan pemikirannya di depan publik. Saya masih ingat betul ketika kami tertawa terbahak-bahak saat ia melontarkan, “yang didiskriminasikan tidak selalu perempuan. Di Padang, justru laki-laki yang sial terus”.

Bercerita tentang para peserta KEM tak akan pernah ada habisnya. Saya masih mengingat jelas setiap wajah serta tingkah lucu mereka satu per satu. Ada Rianto yang mengajukan diri sebagai ketua fans club renang, ada Naufil dan Udin dari Madura yang kompak menjadi anggota club diskusi antara budaya, Asep yang sempat mewarnai KEM meski harus meninggalkan kami ditengah jalan, juga ada May, lelaki pendiam yang mampu menghabiskan belasan batang rokok dalam sehari.

Terakhir, tentu saja Sang Juara Menjadi Indonesia 2013 – Rezza Aji Pratama. Lelaki yang satu ini memiliki nada bicara yang lantang dan tegas, malah terkadang mirip seperti nada para aktivis yang sedang berdemonstrasi. Meski berparas serius, ia adalah teman yang tepat untuk diajak bersantai sambil bercerita.

Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari mereka. KEM Menjadi Indonesia telah berhasil membuat kami mengenal lebih dekat. Melalui perbedaan agama, suku, letak geografis dan latar belakang sosial budaya, saya mengenal wajah Indonesia yang sesungguhnya. Lebih dari itu, perbedaan tersebut justru menuntun kami melihat satu persamaan yang mendasar. Bahwa kami adalah pemuda-pemudi Indonesia yang sedang berproses untuk mengenali, mencintai dan memikirkan perubahan untuk bangsanya.

Akhirnya saya mengerti bahwa Menjadi Indonesia adalah proses berpikir untuk mengisi negeri ini.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top