Tempo Institute
2 Comments

RISET dalam Reportase

Jurnalis punya tiga alat: riset, observasi dan wawancara, untuk menggali informasi. Kelengkapan dan kedalaman sebuah berita amat bergantung pada kecakapan junalis menggunakan ketiga teknik tersebut.

 

Ide tulisan seberapa pun bagusnya, hanya akan menjadi pepesan kosong jika tanpa diikuti penggalian bahan atau reportase. Seorang wartawan biasa menggunakan tiga alat untuk mengumpulkan bahan: riset, observasi atau pengamatan dan waw
ancara. Di Tempo, ketiganya teknik ini sama pentingnya, karena merupakan kesatuan yang saling melengkapi.

Mari kita bahas satu per satu…

Reportase

Teknik Reportase Klinik Menulis Tempo Institute di Kota Tua 2015

Riset

Riset untuk berita tentu saja ini tidak sama dengan riset yang lumrah dipakai dalam dunia akademis, yakni upaya sistematis untuk meneliti kebenaran dari asumsi atau hipotesa tertentu. Di Tempo, riset merupakan aktivitas jurnalistik guna mencari dan mengumpulkan data dan informasi untuk bahan berita. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan bagi dari sumber-sumber primer maupun sekunder.

Jurnalis bisa melakukan riset sekadar untuk mendapatkan informasi sederhana seperti cara yang benar menulis nama orang atau tempat. Tapi juga bisa untuk mencari data dan informasi yang rumit seperti: kasus-kasus pembanding; teori yang bisa menjelaskan fenomena/fakta tertentu; aturan atau regulasi mengenai sebuah masalah; detil dari informasi tertentu; hingga dokumen pendukung yang berhubungan dengan persoalan yang hendak diberitakan.

Dalam pekerjaan jurnalistik, riset memudahkan tahapan lain dalam proses pengumpulan bahan, yakni pengamatan atau observasi di lapangan dan wawancara. Bekal pengetahuan mengenai nama sumber, nomor telepon, alamat, data statistik, dan latar belakang yang diperoleh dari riset bisa menjadi modal untuk menggali bahan lebih banyak dan lebih dalam lagi melalui observasi dan wawancara. Sebaliknya, jika melalui wawancara dan observasi wartawan gagal mendapatkan informasi maupun data yang diperlukan, dalam kasus tertentu riset dapat sangat membantu.

Contohnya, ketika melakukan investigasi atas kasus meninggalnya ahli purbakala di Yogyakarta, Herlambang, anggota tim investigasi Tempo, berhasil menemukan banyak informasi dan fakta-fakta detil mengenai kejadian tersebut. Akan tetapi, meski telah mewawancarai beberapa dokter dan ahli forensik, tim tetap tak mampu menyimpulkan penyebab kematiannya dan apakah mungkin dia dibunuh. Satu fakta penting terkait kematian Herlambang adalah hancurnya ruas tulang belakang nomor 3 dan 5, yang terletak tepat di belakang leher.

Informasi-informasi tersebut antara lain dapat diperoleh dari buku teks, jurnal, hasil penelitian, arsip, akte, catatan pengadilan, buku telpon, visum, dokumen publik/nonpublik, rekaman suara dan video, foto, kliping berita.

Agar data atau informasi yang diperoleh valid, berusahalah untuk mendapatkan informasi dari sumber asli. Artinya, kalau itu data pemerintah, usahakan mendapatkannya langsung dari lembaga pemerintah yang menyusunnya. Misalnya, data perdagangan dari Departemen Perdagangan, data kependudukan dari Badan Pusat Statistik, informasi mengenai pendirian perusahaan terbatas dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Saat ini riset dengan mudah dapat pula dilakukan lewat Internet. Hal ini tidak dilarang, bahkan dianjurkan, dengan catatan tetap memperhatikan validitas dan keaslian dokumen yang didapatkan secara online. Karena itu riset online sebaiknya dilakukan hanya pada situs-situs terpercaya milik lembaga-lembaga yang kredibel, seperti basis datapemerintah/lembaga negara, perusahaan/organisasi, lembaga-lembaga penelitian, media massa, perpustakaan, pusat arsip dan museum.

Keberhasilan sebuah riset online sangat ditentukan oleh kemampuan wartawan merumuskan data atau informasi yang hendak dicari dalam kata-kata kunci yang tepat. Semakin akurat kata kunci yang kita gunakan, semakin efektif riset kita. Cara paling mudah untuk mencari kata kunci yang tepat adalah menggunakan formula what, when, where, who, why, dan how.

What. Apa peristiwa yang hendak diriset? Jenis data apa yang dibutuhkan?

Who. Siapa narasumber yang sebaiknya dicari atau didatangi?

Where. Di mana peristiwa itu terjadi? Di mana bantuan pencarian yang baik bisa diperoleh?

When. Kapan satu peristiwa itu terjadi?

Why. Mengapa peristiwa itu terjadi?

How. Bagaimana peristiwa itu terjadi dan bagaimana memilih sekian banyak sumber?

Terkadang riset jurnalistik juga membutuhkan uji laboratorium. Langkah ini biasanya penting untuk memastikan konten dari zat atau bahan tertentu yang hendak diulas dalam berita.

Ketika Tempo menulis soal jamu yang dicurigai dicampur dengan bahan kimia, misalnya, wartawan Tempo membawa jamu tersebut ke laboratorium untuk diperiksa kandungannya. Dalam hal ini, uji laboratorium bukan saja untuk mendapatkan data sahih mengenai konten jamu, tapi juga sebagai bentuk verifikasi atas kecurigaan yang sudah ada bahwa jamu tersebut mengandung bahan kimia lain. Agar hasil uji laboratorium yang dilakukan terpercaya, sebaiknya menggunakan laboratorium milik negara, laboratorium universitas terkemuka, atau kepunyaan lembaga-lembaga riset terpercaya.

2 COMMENTS

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED ARTICLES

Back to Top