Tempo Institute
No Comments

Ririe Rachmania – KEM 2013 : Menyentuh lewat Rasa

“Being one of 32 finalists from 1500 essays competition by tempo institute is a proud. Being one of the best ten is happiness. But, having KEM 2013 as my new family is a bliss,”

 

Awalnya kaget begitu tahu saya menjadi salah satu 32 besar finalis kompetisi esai mahasiswa ‘Menjadi Indonesia’ yang diselenggarakan Tempo Institute. Setelah mengetahui sekitar 1500 esai masuk untuk berkompetisi dalam kompetisi ini, saya tidak pernah kepikiran untuk sekedar menjadi salah satu finalis, rasanya terlalu ilusi untuk sekedar membayangkan.

Dikirimlah jadwal, dan terpapar sebuah fakta bahwa saya harus meninggalkan kuliah selama dua minggu. Mulailah ragu. Semakin ragu ketika melihat jadwal akademik bahwa camp ini akan menyita seminggu jadwal UTS saya. Akhirnya, saya memilih berjuang untuk tetap berangkat dan ijin kesana kemari.

Semakin mendekati jadwal, saya semakin overwhelmed. Saya juga mendapat program dari sebuah perusahaan telekomunikasi dan mengharuskan saya datang ke Jakarta selama dua hari selama KEM. Selain itu, tanggal 6 november saya langsung ditodong untuk berangkat ke semarang dalam program beasiswa yang saya ikuti. Keraguan tidak dapat dibendung. Tiket kereta sudah di tangan. Orang-orang di sekitar saya mengintervensi saya. “Yakin kamu nggak kuliah dua minggu?” “UTSmu gimana?” “Emang lomba apa sih kok lama banget?” “Yah jangan terbuai dengan embel-embel tempo dong, lihat apa benefitnya buat kamu,”. Saya akhirnya tetap teguh dan berkata bahwa saya berangkat untuk berkompetisi.

Sampai akhirnya saya bertemu dengan para finalis lainnya. Kebiasaan saya adalah mengamati satu-persatu sebelum akhirnya saya memutuskan saya harus bersikap seperti apa. Mendadak saya seperti kehilangan selera untuk meneruskan proses ini. Jangan tanya keinginan saya untuk pulang. Ingin rasanya saya menelepon orang rumah, atau siapapun di Surabaya dan berbagi kerinduan saya akan rumah, kampus, dan sekitarnya. Tapi gengsi ini sudah memenuhi. Saya juga sudah enggan berkompetisi karena saya sudah merasa inferior melihat peserta yang lain luar biasa. Saya nggak ngerti siapa itu Bandung Mawardi yang diceritakan Mbak Setya dengan mata berbinar-binar. Saya juga nggak begitu paham saat Mbak Britta dan Mbak Setya ngomongin tulisan-tulisan Gunawan Muhammad dalam pengisah buku. Buku-buku yang saya baca jadi terlihat sepele dan ngepop ketika tahu buku-buku yang di baca anak-anak KEM. Keliatannya sih, saya ketawa-ketiwi, saya pay attention dalam setiap sesi, tapi jujur pikiran saya ngawang. Saya jadi semacam nyesel kenapa memutuskan untuk berada di sini sedangkan saya mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan di Surabaya. Saya kayak nggak punya alasan berada di camp ini.

Tapi semakin hari, terutama ketika pemateri satu-persatu datang untuk mengisi sesi. Saya mulai mengikuti dan menikmati alur yang disajikan oleh KEM. Rasa kangen rumah, kampus, dan bahkan beban-beban yang saya bawa ke Bogor, pelan-pelan sirna. Saya mulai benar-benar sharing pada malam ke-4 pada kelompok sharing saya. Saya mulai memaknai tiap sesi. Memaknai apa yang Pak Rocky ingin sampaikan agar kami bisa menggunakan pisau analisa sosial kami. Memaknai apa yang sejarah ingin ajarkan kepada kami lewat mas Jeje Rizal. Memahami pluralisme yang masih menjadi polemik lewat kang Maman. Membuka pikiran mengenai LGBTIQ lewat apa yang Mbak Dani bagikan lewat riset-risetnya. Menyadari betapa menyedihkannya lingkungan tempat tinggal kita lewat Green Peace dan Gus Aak. Mempelajari berbagai macam kopi Indonesia lewat sepasang barista yang akhirnya saya harus muntah karena tidak terbiasa meminum kopi. Dan masih banyak lagi hal-hal yang saya mulai dapatkan makna dan esensinya lewat KEM ini.

Saya selama ini berada di lingkungan comfort zone yang cukup nge-pop, mendadak dipertemukan dengan realitas-realitas sosial yang tidak pernah ada dalam pikiran saya. Mungkin saya hanya mengetahui isu-isu tersebut di permukaan tanpa berusaha untuk benar-benar berempati. Sistem berpikir saya di acak-aduk. Saya disuruh belajar untuk benar-benar menjadi Indonesia. Tempo Institute berhasil memberikan saya sebuah insight baru mengenai Indonesia yang tidak pernah saya dapatkan dari pelatihan atau program-program lainnya yang saya ikuti. Menjadi Indonesia tidak hanya dipertunjukkan oleh seni tari atau seni budaya. Tidak ada penyeragaman pemikiran mengenai Indonesia. Kami ditantang untuk berpikiran terbuka, memproduksi pikiran, tanpa harus menjadi orang lain. Kami dibiarkan menjadi diri kami sendiri. Sejak itulah saya berhenti menjadi inferior. Saya berhenti menjadi sok-sok pendiam. Saya berhenti untuk tidak terlihat bodoh. Saya berhenti untuk memikirkan beban-beban saya. Saya berhenti untuk berkonflik dengan diri sendiri. Saya memutuskan sepenuh hati untuk menjalani proses ini.

Disini, saya menemukan apa yang saya cari. Saya memang belum menemukan diri saya dan apa yang saya kehendaki sepenuhnya. Tapi saya menemukan ‘semangat’ untuk menjadi seseorang yang mengenal dirinya sendiri dan kemudian bisa bermanfaat bagi sekitar. Disini saya ketemu kurang lebih 26 mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai keahlian dan kemampuan. Mereka passionate dengan bidang masing-masing. Ketemu fasilitator yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, saya bisa sharing sepenuh hati tanpa ada yang ditutup-tutupi. Untuk pertama kalinya saya nangis begitu saja dimana sebelumnya saya paling nggak suka nangis di depan umum. Saya juga heran betah banget capek lari-lari main kasti yang nggak jelas siapa yang menang. Sampai akhirnya lutut saya kumat padahal saya besoknya harus ke Jakarta, saya juga nggak nyesel. Saya juga heran bisa jago joget bang jali di sanggar akar. Dan bisa juga teriak-teriak sambil joget-joget saat malam awarding. Masa bodoh sama urutan, siapa yang juara, siapa yang masuk 10 besar. Saya lupa kalo ini kompetisi.

Saya ingin mememenuhi tulisan ini dengan ucapan terimakasih. Terimakasih tempo institute yang memberi saya kesempatan untuk menjadi salah satu 32 besar KEM Menjadi Indonesia. Terimakasih Mbak Mardiyah Chamim, yang sampai sekarang saya masih sungkan-sungkan dan takut saking kagumnya dengan Mbak Mar. Terimakasih pak kepala sekolah, Mas Andy yang kelihatannya menakutkan. Mas Andy ngajarin saya mengenai sebuah pilihan. Waktu saya ijin untuk mengikuti XLfuture Leaders di Jakarta, Mas Andy nggak memberi jawaban yang menyenangkan tapi membuat saya menyadari suatu hal, yaitu “Setiap pilihan ada konsekuensinya. Nggak bisa kita milih keduanya tanpa konsekuensi,”. Terimakasih Kak Rius atas semua hal yang diberikan dan motivasinya untuk kami semua meskipun saya nggak rajin nulis refleksi. Terimakasih Mas Badawi yang sudah mau sabar diribetkan dengan saya dan teman-teman sharing yang bermasalah dengan dirinya sendiri. Nasihat-nasihat Mas Badawi di Sharing hari terakhir masih melekat terus bagi saya. Terimakasih juga untuk Kak Rika yang juga sering menemani Mas Badawi untuk membantu kami dalam proses sharing dan membantu saya untuk memahami real life. Terimakasih juga untuk para fasilitator yang turut membantu saya dan teman-teman menjalani proses ini. Terimakasih!

Terimakasih mentor-mentor terutama Mbak Elsa. mentor dan Ibu Kos favorit. Makasih banyak ya Mbak Elsa udah banyak saya repotin. Makasih juga untuk Gea, bisa memahami saya saat proses-proses sharing meskipun kita nggak pernah banyak ngobrol di luar sharing. Terimakasih untuk Mas Respati untuk cerita-ceritanya yang inspiring. Terimakasih Mbak Ulfa untuk nasehat dan lilinnya. Terimakasih Mas Isom untuk apapun. Terimakasih juga Mbak Etha & Mbak Mytha yang sudah mau direpotin dengan laundry-an kami semua. Terimakasih!

Dan terimakasih untuk anak-anak KEM 2013. Terimakasih Mbak Setya, udah mau dengerin keluhan-keluhan saya, mau bangunin saya untuk sholat subuh, mau berbagi cerita soal buku meskipun saya sering nggak mudeng, saya tunggu tulisan-tulisan Mbak Setya yang lain ya. Terimakasih Mbak Shere, atas cerita-ceritanya di malam hari sebelum tidur, teman mbangkong, semoga saya bisa dapet beasiswa susi kayak Mbak Shere yak. Terimakasih Mbak Britta & Jody yang paling sering bikin ketawa. Sampe sekarang kalo keinget waktu-waktu sama kalian berdua, bawaannya pengen ketawa terus, pokoknya kita harus ketemu lagi ya! Terimakasih Ajoy, maaf ya kalo saya suka bercanda gombal-gombal. Terimakasih Udin, Guster, May, dan Bang Rianto (meskipun Bang Rianto cuma sebentar) atas sharing-sharingnya. Seriously, awalnya bete kenapa harus satu kelompok sharing sama empat cowok yang aku nggak paham, tapi ternyata kalian ngasih banyak pelajaran hidup ke aku. Meskipun kita nggak ada yang mau mulai duluan untuk sharing tapi sharingnya malah berjalan seru dan nggak selesai-selesai. Semoga kita terus tetap berproses ya, aku tunggu cerita-cerita kehidupan kalian yang amazing!

Terimakasih Fikri, seperjuangan dari Suroboyo, Fisip Unair, bahkan sekelas tapi baru kenalan di KEM 2013, terimakasih sudah baik sekali disaat lutut saya kumat, kamu anak politik paling kewl fik. Terimakasih Mas Rikang, yang ternyata rumah kita satu kampung tapi ketemunya di bogor, atas sharing mata kuliah dan teori-teori komunikasi. Walaupun kamu selalu bully saya, salah satu hal yang saya syukuri di KEM ini adalah ketemu kamu mas yang sangat passionate dengan ilmu komunikasi, semoga saya bisa kaya gitu ya! Terimakasih kelompok tetangga yaitu Mas Ihram yang suaranya bikin ati tentram, kang yoni dan martin salah satu objek gombalku. Dan terimakasih Dek Tiwi dan Fitriana atas sharing dan guyonan-goyanannya selama ngerjain project. Terimakasih Kak Alfa, yang udah dengerin curhatanku soal KEM. Terimakasih Hala yang suara cemprengnya selalu bikin gempar KEM tapi malah ngangenin. Terimakasih Mas Ari atas sharingnya soal komunikasi dan wajahnya udah bikin ketawa nggak berhenti-henti. Terimakasih Mas Rezza untuk bantuan-bantuannya. Terimakasih Mbak Suci atas sharing-sharingnya dan udah mau belajar Bahasa Jawa dengan super keras. Terimakasih Uda Heru udah ngajarin bahasa minang dikit-dikit. Terimakasih Naufil untuk guyonan-guyonan ala meduro. Terimakasih Beni lebih membuka pikiran saya mengenai LGBTIQ, semoga kamu selalu diberkahi. Keep learning and becoming Indonesia!

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top