Tempo Institute
No Comments

Rintihan Pantura

Oleh: MUHAMMAD ISOMUDDIN – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nur Jati Cirebon

Ringkasan;

Budaya merupakan harta kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Tumbuh berkembangnya bangsa ini, tidak terlepas dari budaya yang membentuk karakter bangsa. Arus modernitas melintas tepat di garis khatulistiwa bangsa, menimbulkan tantangan dan ketegangan terhadap kebudayaan sendiri. Mencoba merangkai Indonesia lewat puzzle kecil bernama kota Cirebon. Kota yang punya empat keraton, tak membuat nuansa erotis sensual kentara. Permasalahan ekonomi yang menjepit pewaris kebudayaan, melakukan penyelewengan dengan menjual warisan kebudayaan. Sapaan modernitas sudah terdengar oleh bangsa ini. Menggiring pada bentuk masyarakat konsumtif dan ada paradoks dari kebudayaan. Teks sudah diganti dengan praksis, bentuk asli dirubah menjadi imitasi, nilai guna diganti dengan nilai liyan : prestice,status. Ini realita yang penulis temukan di kota Cirebon. Budaya sedang kebingungan di persimpangan jalan. Harus segera menentukan arah kemana budaya akan dibawa. Penyusunan strategi dan langkah konkret merupakan keniscayaan bagi penempatan posisi kebudayaan. Berangkat dari daerah, mengalisis sampai bertindak secara nyata untuk memperjelas rupa budaya. Dan dipersembahkan untuk Indonesia  yang berbudaya luhur dalam menciptakan karakter bangsa.

 

 ———

 

Perbincangan mengenai Indonesia tidak akan lepas dari atmosfer kebudayaan yang menyelimutinya. Budaya menjadi sebuah cerita indah dan panjang tak membosankan, melebihi dari apa yang ada dalam cerita negeri dongeng. Beberapa tahun ini, budaya menjadi barang langka untuk disaksikan di dunia nyata. Seolah cerita panjang tentang kebudayaan menjadi riwayat akhir sebuah perjalanan selama ini, menjelma negeri dongeng tersendiri—penuh keilusian untuk ditarik ke dunia nyata. Sapaan modernitas merasupi bangsa Indonesia sehingga tak sadar akan warna bajunya sendiri. Bila memang demikian, Indonesia bukan lagi sebuah bangsa yang kaya akan budaya tapi bangsa yang kaya akan “cerita budaya”.

Berangkat dari rangkaian Indonesia yang begitu kompleks, saya mencoba merangkai puzzle kecil dari Indonesia yaitu kota Cirebon. Kota persinggahan lintas pantura ini, mempunyai segudang kebudayaan—lengkap dengan keperihatinannya. Ada empat keraton yang berada di tengah kota Cirebon, yang seharusnya kental dengan aura keerotisan kebudayaan. Justru nuansa kebudayaan terasa mampat dan monoton. Tuan rumah dari tari topeng, sintren, batik, tembang pantura dan naskah kuno kini terselip ditumpukan bata gapura keraton. Kesulitan untuk meraba keberadaanya sekarang. Fakta mencuat ke permukaan minggu ini di harian kabar Cirebon, maraknya penjualan naskah kuno Cirebon ke luar negeri. Untuk merestorasi kertas naskah kuno menjadi lembaran uang kartal. Perhatian pemerintah tak begitu melirik untuk menjaga naskah kuno, malah lebih memilih jilidan proposal siluman dari pengintaian media.

Permasalahan ekonomi merupakan aspek urgen dalam penempatan posisi kebudayaan. Terlihat dari rentetan peristiwa, tradisi ditumbalkan untuk sesajen pemberhalaan uang. Di sisi lain, ada bentuk yang lebih halus namun menikam yaitu penjajahan budaya dilakukan oleh kita sendiri tanpa disadari mengamini sebagai suatu keniscayaan. Penyingkiran budaya dilakukan secara massal dengan merayakan pencitraan dalam menciptakan masyarakat konsumtif. Dimana kebudayaan direduksi dari bentuk asli ke bentuk imitasi, dari teks ke simbolik. Budaya tradisonal menghadapi tantangan industri kebudayaan yang begitu besar.

Era modern yang menjunjung tinggi teknologi dan ilmu pengetahuan untuk sebuah kemajuan. Pemuda yang notabene sebagai pewaris tunggal dari kebudayaan, bertanggung jawab akan keberlangsungan dan eksistensi budaya tersebut. Telah ternarik peran pemuda ke dalam poros arus modernitas. Percepatan dan pemadatan rupa kehidupan, dilipat-lipat sampai tidak bisa dilipat dan tidak memperlihatkan wujud asli dari apa yang dilipat. Apa yang disebut sebagai deru mesin kapitalisme mutakhir yaitu differensiasi. Pembedaan-pembedaan telah diproduksi secara massal untuk membangun identitas dan gaya hidup. Konsumerisme dilepas secara bebas dengan melabelkan yang other terhadap produknya.

Kini kemodernan merupakan kiblat baru bagi masyarakat yang ingin mencicipi perubahan. Ada banyak pembangunan hypermart, diskotik, café, hotel diamini sebagai gairah kemajuan suatu daerah. Pembungkusan menarik yang ditawarkan dengan menonjolkan hal liyan dari apa yang disuguhkan. Gaya hidup dan life style membangun bangunan kokoh segitiga kasta. Dari sebuah sabda iklan oleh sang produser yang menjelma Tuhan dan mewajibkan untuk mengimaninya. Pemuda lebih mengikuti apa yang sekarang menjadi trend, dengan siklus pergantian dan tempo yang cepat, seolah mewajibkan diri untuk segera update. Tak ada pendirian kukuh hanya untuk mendapatkan apa yang dikatakan Heiddeger sebagai sublasi (pemberian pengakuan). Model kehidupan yang mengalir mengikuti arus bukan mengalir pada alur.

Terlihat begitu kentara di kota Cirebon sebagai persinggahan supir pencinta tembang pantura. Ada kelucuan orientasi pemuda yang mengkiblatkan pada titik gerbang rujukan, yaitu Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Kalau boleh kita sebut tiga kota tersebut sudah terbingkai sebagai: pragmatis, hedonis dan tradisionalis. Ditarik dengan menelan mentah-mentah apa yang sedang menjadi trend di kota tersebut. Berpengaruh besar dalam sosio-kultural kota Cirebon, khususnya para pemuja yang kehilangan orientasi asal. Dengan dalih membentuk Cirebon, tapi tak melihat bentuk yang sudah ada yang dimiliki Cirebon sendiri. Tidak adanya pijakan dari tanah sendiri, akultarasi lintas budaya ini hanya akan menciptakan formalism disoriented.

Mengambil bentuk dari pada etos dalam melihat budaya lain, akan menimbulkan pengagung permukaan tanpa kedalaman. Terkecoh dengan kutang perempuan dari isi yang kurang padat. Gaya hidup sudah seperti rukun dalam menjalani kehidupan dari sabda iklan Tuhan. Ketika praktik kebudayaan secara sosial dicumbu sebagai bagian dari gaya hidup. Menggiring pada bentuk paradoks antara yang inti dan luar, filosofis dan praksis. Masuk dalam bingkai nihilism, terperangkap kesubjektifan palsu melalui dunia citra.

Ada kerancuan representasi dari sebuah apresiasi terhadap budaya. dengan dalih ingin membudayakan apa yang dimiliki oleh kulturnya. Dengan memakai kaos bertuliskan “I love Cirebon”, “I love batik” dan lainya, seolah-olah dengan memakai itu sudah merepresentasikan masyarakat berbudaya. Gimana tidak keliru, cinta batik kok pakai kaos? Kenapa tidak dengan memakai batiknya saja. mungkin ini yang dinamakan sebuah simulasi oleh Jean Baudrillard, simbol mendahului dari apa yang disimbolkan.

Berbicara bahasa jawa Cirebon jarang ditemui di tempat-tempat umum. Ada keminderan yang mendera di masyarakat. Jika berbicara bahasa jawa berkonotasi orang desa dan katro, lebih suka memakai bahasa Indonesia ala Jakarta. Apalagi musik tarling pantura, hampir tidak ada pemuda yang menyanyikannya. Lebih menggauli musik Mtv dan boy band berbehel dan pamer BB. Tak ada café menggelar live musik pantura, cuma ditemukan di acara nikahan atau pesta rakyat. Bahkan sampai di kampus sekelas negeri pun tidak ada. katanya sih, mengumbar nafsu, padahal kita tahu pejabat kampus pun nafsu akreditasi toh. Tersubordinasinya kultur Cirebon menempatkan titik terbawah dari garis vertikal status sosial.

Membentuk sebuah oposisi biner antara tradisional dan modern. Tradisional yang bersifat tua, kuno, Statis, lambat dan modern yang bersifat muda, baru, dinamis, cepat. Sudah menghegemoni dikalangan pemuda, tradisi terlihat sebagai wabah virus lepra yang melumpuhkan dan lebih mengambil bentuk kemodernan sebagai vitamin perubahan. Anak muda terjangkiti “kepikunan dini” atas dirinya sendiri yaitu tradisi asal sebagai identitas otentik.

Perlu adanya kesadaraan dan pengakuan bahwa kebudayaan kita sekarang sedang kebingungan di persimpangan jalan. Harus sigap dan cepat menentukan arah kemana akan dibawanya budaya ini. Tindakan perubahan dengan wacana yang mengawang-awang di langit harus ditarik ke bumi untuk tindakan yang konkret. Mendirikan dan menjalankan pusat-pusat kebudayaan di daerah perlu diadakan untuk mengkat kebudayaan lokal. Indonesia tidaklah berarti tanpa adanya budaya yang berada di daerah-daerah. Menjadi Indonesia bukanlah memuja Indonesia. Namun, bertindak mengangkat daerah untuk dipersembahkan kepada Indonesia.

Strategi pemerintah pun penting dalam menyusun strategi kebudayaan untuk memunculkan kearifan lokal yang masih terselip dalam taradisi dan untuk meminimalisir penyelewengan budaya seperti penjualan naskah kuno. Mengubah karakter masyarakat yang konsumtif menjadi produktif, peniru menjadi pencipta, pengikut menjadi kreator. Perlu ditanamkan secara dini dan aplikatif di lingkungan sekolah. Agar pembagunan karakter yang diharapkan bisa terwujud ketika tulisan ini lapuk.

Kebudayaan tradisional tidaklah asketis dan konservatif terhadap dunia modern dan tidak juga mendistorsi kebaruan secara binal. Namun menempatkan pada satu tatanan yang menjadi akar untuk menumbuhkan karya baru sehingga dapat berdiri tegak dari terpaan angin kumbang. Turut ambil aktif dalam tindakan penciptaan dan tindakan kreatif, bukan menjadi mayoritas yang diam dikuasi oleh segelintir elite.

Yasraf Amir Piliang mengatakan bahwa revitalisasi kebudayaan bukan sekedar menggali puing-puing tradisi untuk diagung-agungkan semata, melainkan kearifan lokal yang tersimpan dalam warisan budaya Indonesia digunakan sebagai pencerahan dalam mengubah karakter masyarakat konsumtif. Menjadi Indonesia yang berbudaya tidaklah mustahil dan bukan angan-angan yang terlalu muluk. Karena memang bangsa ini sudah mempunyai riwayat sejarah budaya nyata. Kita tinggal meneruskan dan mengolahnya dalam mengahadapi budaya modern. Pada umur Indonesia ke 100 tahun akan menjadi kiblat dari cerminan dunia.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top