Tempo Institute
7 Comments

“Rekonstruksi Sistem Pendidikan Indonesia dengan Penerapan Sistem Focus on Subject”

Oleh: RAHMAT HIDAYAT – UNIVERSITAS HASANUDDIN

 

 

 

Ringkasan Esai

Berbicara mengenai kehebatan serta kemajuan sebuah bangsa, kita tidak akan terlepas dari yang namanya peranan penting sebuah “PENDIDIKAN”. Pendidikan di semua negara merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat dalam negara tersebut. Tanpa adanya pendidikan, yakinlah bahwa negara tersebut tidak akan pernah mengalami yang namanya perkembangan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem yang betul-betul bagus untuk menata proses pendidikan yang akan berjalan. Sistem pendidikan yang diterapkan oleh masing-masing negara itu berbeda-beda, termasuk Indonesia. Jika kita memperhatikan sistem pendidikan yang berlangsung di Indonesia sekarang ini, sepertinya perlu dievaluasi keberhasilannya. Sudah banyak sistem yang telah dicoba oleh bangsa kita, akan tetapi sistem tersebut belum bisa membuat negara kita maju dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem baru yang bisa memperbaiki kondisi pendidikan di negeri kita yang tersayang.

 

——————-

Sistem yang saya maksudkan di sini adalah sistem pembelajaran focus on subject, maksudnya adalah di dalam menempuh sebuah pendidikan, kita tidak boleh melakukan pemaksaan kepada orang lain untuk mempelajari dan menekuni pelajaran yang mereka tidak inginkan atau sukai. Seharusnya kita memberikan kebebasan kepada seluruh pelajar untuk memilih bidang yang mereka sukai sesuai dengan minat dan bakatnya. Sehingga dengan begitu, mereka tidak akan tertekan dalam hal proses belajar mengajar, mereka akan belajar dengan nyaman dan tanpa beban karena apa yang mereka pelajari adalah bidang yang memang mereka inginkan yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Sehingga, akhirnya nantinya akan lahir pelajar-pelajar yang ahli di masing-masing bidangnya. Jadi, dengan begitu, dengan penerapan sistem ini, setiap siswa atau pelajar akan difokuskan untuk belajar sedikit saja yang penting mereka ketahui secara mendalam tentang apa yang mereka pelajari. Lagi pula, secara logika untuk apa kita mempelajari banyak hal kalau ternyata ilmu yang kita dapatkan mengenai pelajaran tersebut hanya kulitnya saja, tanpa kita mempelajari secara mendalam ilmu yang kita pilih.

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Banyak orang yang mengatakan bahwa kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) di sebuah negara merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi serta perkembangan sebuah negara menuju negara maju. Semakin banyak penduduk sebuah negara, maka negara tersebut juga akan cepat mengalami perkembangan. Akan tetapi, jika kita bercermin ke negara kita yang tercinta yaitu Indonesia, hal tersebut tidak kita dapatkan. Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat banyak, tetapi sampai sekarang negara kita masih berada pada posisi negara berkembang. Menurut saya, kuantitas SDM dari sebuah negara memang tidak bisa kita abaikan begitu saja, akan tetapi hal yang paling penting dari semua itu adalah kualitas yang dimiliki oleh masyarakat yang ada di negeri tersebut.

Contohnya seperti negara China, selain memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak, kualitas masyarakatnya juga sangat bagus yang tidak jauh berbeda dari negara-negara Eropa dan Amerika. Di negara ASEAN sendiri, kita bisa lihat bagaimana Singapore yang hanya sebuah negara kecil yang memiliki jumlah penduduk yang sangat sedikit dibandingkan Indonesia, akan tetapi Singapore lebih baik dan lebih maju dibandingkan Indonesia, begitupun dengan negara yang lainnya seperti Jepang, Korea dan yang lainnya. Apa sebenarnya yang membuat mereka bisa seperti itu? tidak lain jawabannya adalah karena kualitas masyarakat atau SDM-nya yang sangat bagus dibandingkan dengan Indonesia. Di sini, saya tidak mengatakan bahwa kualitas SDM atau masyarakat Indonesia itu sangat tidak bagus, akan tetapi kualitas tersebut masih perlu diperbaiki lagi dan ditingkatkan supaya kita tidak tertinggal dari negara-negara lainnya yang sudah maju.

Indonesia memiliki potensi yang sangat bagus untuk dikembangkan, apalagi kita didukung oleh Sumber Daya Alam (SDA) yang banyak dan melimpah. Banyak negara luar yang mengatakan bahwa Indonesia adalah surganya dunia. Jadi, apa lagi yang kurang dari negeri kita yang tercinta ini, tinggal kita sebagai penghuninya yang harus cerdas dalam memanfaatkan semua itu. Kualitas SDM sebuah negara tidaklah langsung tercipta begitu saja, akan tetapi dibutuhkan sebuah proses yang panjang dalam pembentukannya. Singapore yang dulunya tidak mendapatkan perhatian dunia internasional, sekarang sudah menjadi salah satu negara yang dianggap berhasil memajukan negaranya, serta menjadi representative dari komunitas ASEAN di mata dunia internasional. Oleh karena itu, untuk menjadikan negara kita ini maju dan berhasil, maka yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan kualitas SDM yang kita miliki.

Dan menurut saya, cara yang paling bagus untuk meningkatkan kualitas SDM dari negara kita adalah dengan memperbaiki sistem PENDIDIKAN yang selama ini kita jalani dan terapkan di negara ini. Pendidikan sangat berperan penting dalam hal pembentukan karakter dan kualitas masyarakat sebuah negara. Jika kita memang tidak ingin ketinggalan dari negara lainnya, dan ingin bersaing di kancah internasional, maka Indonesia perlu mengevaluasi sistem pendidikan yang selama ini telah diterapkan. Kita mencari alternatif baru atau memperbaiki sistem yang sudah ada, intinya sistem pendidikan di Indonesia harus segera dibenahi. Dan menurut saya, tidak masalah ketika kita mengadopsi ataupun belajar dari pengalaman negara-negara lain dalam hal sistem pendidikan yang diterapkan di negaranya.

Pendidikan merupakan satu hal yang sangat penting untuk peradaban bangsa setiap Negara di dunia ini. Hal ini disebabkan karena pendidikan merupakan hal yang sangat dinamis dan sangat peka terhadap perubahan berdasarkan perkembangan zaman. Pendidikan di Indonesia mengalami beberapa perkembangan sejak zaman perkembangan Hindu Budha sampai dengan zaman pasca reformasi sekarang. Perkembangan pendidikan di Indonesia mulai dari masa perkembangan Hindu Budha sampai paska kemerdekaan berkembang secara stimultan. Dari mulai perkembangan sastra yang dibawa oleh Hindu Budha, pesantren oleh masa perkambangan Islam, sampai sekolah yang dibawa oleh masa colonial Belanda sampai sekarang. Pendidikan di Indonesia mempunyai system semi disentralisasi. Yang dimaksud dengan semi disentralisasi adalah setengah disentralisasi setengah sentralisasi. Dalam konsep manajemen sekolah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan sekolah diserahkan sepenuhnya oleh sekolah, akan tetapi dalam system evaluasi masih menganut sentralisasi dimana ujian Negara diselenggarakan oleh pemerintah pusat.

Kurikulum di Indonesia telah mengalami pergantian beberapa kali hingga pada saat ini kurikulum yang bertahan adalah Kurkulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum ini disinyalir sebagai kurikulum yang paling baku diterapkan di Indonesia. Ketika Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) digulirkan, banyak pihak yang merasa senang bahwa sekolah mendapatkan kesempatan untuk menentukan sendiri arah atau model pendidikan disekolahnya. Namun, kemudian harapan itu sirna kembali ketika ternyata masih ada ujian nasional atau UAN yang membuat model pendidikan yang diberikan sekolah harus kembali lagi seragam. Tak terbayangkan memang ketika KTSP ini harus dilakukan disekolah-sekolah negeri yang satu kelas muridnya bisa sampai 40-50 orang, sementara gurunya hanya satu orang. Sungguh jauh panggang dari api atau bagai punguk merindukan bulan.

 

Sesuatu yang harus kita perbaiki adalah paradigma pemikiran. Baik itu dari para pengambil kebijakan (para pejabat di kementerian), para pelaksana di tingkat managerial (Para pejabat di tingkat dinas baik propinsi maupun kabupaten) sampai pada para pelaksana di lapangan (para guru). Tenaga kependidikan merupakan ujung tombak usaha perwujudan tujuan pendidikan. Tugas pokok mereka adalah menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan/atau memberikan pe1ayanan teknis dalam bidang pendidikan. Mereka terdiri dari tenaga-tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti dan pengembang dalam bidang pendidikan, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar. Semuanya itu harus berfungsi sebagaimana yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Jika semuanya bisa berjalan sesuai dengan koridornya, maka yakinlah, bahwa pendidikan di Indonesia bisa menjadi pendidikan yang terbaik di dunia.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki pendidikan yang ada di negeri ini, seperti yang saya sebutkan tadi bahwa tidak ada salahnya ketika kita mencoba meniru, mengadopsi serta belajar dari pengalaman negara lain dalam memajukan pendidikannya. Sudah banyak negara di luar sana yang telah berhasil mengembangkan pendidikan dengan metode yang mereka gunakan, dan salah satunya adalah negara Finlandia. Finlandia telah diakui oleh dunia internasional sebagai sebuah negara yang berhasil memajukan pendidikan di negaranya. Sedikit saya berikan gambaran pendidikan di Finlandia sebagai bahan acuan atau pelajaran bagi kita untuk memperbaiki sistem pendidikan di negara kita. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!

Jika kebanyakan negara percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru beranggapan sebaliknya, testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Kita belajar di sekolah hanya ingin dapat nilai akademik yang bagus dan memuaskan. Faktor pemahaman dan penerapan menjadi elemen yang diremehkan, pokoknya yang penting nilai kita bagu. Pada usia 18 tahun, siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi. Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak pra-TK. Hal ini membantu siswa belajar bertanggung jawab atas pekerjaan mereka sendiri.

Semua siswa dibimbing menjadi pribadi yang mandiri, mencari informasi secara independent. Karena dengan adanya banyak pendiktean membuat para siswa akan merasa tertekan dan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan. Bagaimana dengan siswa yang kurang cepat tanggap ? Mereka akan mendapatkan bimbingan yang lebih intensif. Inilah yang membuat Finlandia berhasil menyandang gelar Negara dengan pendidikan paling berkualitas di dunia. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, contohnya: Pertama, masuk kelas, kemudian datang tepat waktu, berikutnya membawa buku, dsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha. Dari sini, dapat dilihat sangat tercermin kalau guru di sana tidak menuntut anak didiknya untuk mengerjakan dengan hasil yang harus benar, para guru Finlandia menghargai setiap usaha dari siswanya.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Adanya ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Dari gambaran ini, kita bisa belajar bahwa ternyata, negara yang tak diunggulkan bisa menjadi yang terbaik di dunia, tentu semua itu karena adanya kemauan & usaha yang keras serta kesolidan dari berbagai pihak.

Selain di Finlandia, Indonesia juga bisa belajar dari negara-negara lain yang memiliki sistem pendidikan yang sangat bagus. Menurut saya, kita harus bertindak dari sekarang, kita bisa belajar dari sistem yang diterapkan di Finlandia. Selain itu, dalam hal proses pembelajaran siswa tidak boleh dipaksa untuk mempelajari pelajaran yang tidak mereka sukai, setiap siswa memiliki kelebihan tersendiri di bidang tertentu. Kita tidak bisa memaksakan semua siswa harus suka belajar matematika, karena ada siswa yang tidak memiliki keahlian sama sekali di bidang matematika, akan tetapi orang tersebut memiliki keahlian di bidang seni misalnya. Oleh karena itu, sistem pendidikan yang selama ini hanya melakukan pembagian jurusan ketika SMA, mungkin mulai sekarang, sistem pembagian jurusan itu sudah dilakukan di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Di sini, siswa bebas menentukan kelas jurusan apa yang ingin mereka masuki sesuai dengan minat dan bakatnya. Dengan begitu, saya sangat yakin bahwa siswa akan belajar dengan santai serta siswa tidak akan mengalami yang namanya stres Karena bidang yang mereka pilih adalah bidang yang mereka memang sukai, mereka pilih tanpa ada paksaan dari siapapun.

Pendidikan di Indonesia seharusnya memang seperti itu, kita mengarahkan setiap siswa untuk focus ke bidangnya masing-masing, sehingga dengan begitu, nantinya kita akan lahirkan para pelajar yang ahli di bidangnya masing-masing. Untuk apa kita memaksa seseorang untuk belajar sesuatu yang tidak dia inginkan, hal tersebut sama saja kita membunuh kreativitas siswa tersebut, serta secara perlahan kita akan membuatnya menjadi gila. Selain itu, untuk apa kita mempelajari banyak hal kalau ternyata ilmu yang kita dapatkan mengenai pelajaran tersebut hanya kulitnya saja, tanpa kita mempelajari secara mendalam ilmu yang kita pilih. Akan tetapi, ketika kita sudah bagi dari awal, maka kita akan focus ke bidang kita masing-masing untuk bukan hanya sekedar mempelajari kulitnya, akan tetapi kita akan bisa memahami sampai isi terdalamnya. Sistem seperti inilah yang banyak diterapkan di negara-negara maju seperti Amerika dan China. Mereka memang mempersiapkan masyarakatnya untuk dididik di satu bidang, yang nantinya diharapkan orang tersebut akan menjadi orang yang ahli di bidangnya yang dapat memberikan kontribusi untuk bangsa dan negaranya. Tidak ada kemustahilan di dunia ini, dalam hal ini, saya secara pribadi sangat mengharapkan Indonesia dapat belajar dari pengalaman Finlandia tersebut serta negara-negara maju lainnya khususnya dalam bidang pendidikan.

 

 

let’s we move together and we change our nation to be better than before.. Never say give up!

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

–            Wahyudi blog

–            www.kompasiana.com

–            www.ilmu pendidikan.net

 

7 COMMENTS
  1. Muhammad Nur Ilham

    Seharusnya Indonesia mengkaji ulang sistem pendidikan. Lebih baik maksimalkan kreativitas dan kolaborasi, daripada berkompetisi demi membanggakan diri sendiri. Gurunya harus memberikan kebebasan untuk berusaha walaupun salah tetap dihargai, di Indonesia tidak ada, Guru meminta siswa harus semua benar dan harus dapat 100. Bagaimana? anda merasa kolaborasi akan hancur karena pendidikan yang hanya memaksimalkan ujian untuk bersaing? Indonesia harus malu pada Finlandia. Harus dikaji ulang sistemnya, bagaimana pun caranya demi menurunkan angka bunuh diri gara-gara tidak lulus UN

  2. jaelani

    Saya sependapat bahwa penilaian yang dijadikan tolok ukur kwalitas siswa kita justru mengganggu potensi anak didik kita. Bahkan dengan kurikulum 2013 pun potesi inteligensi yang tetap saja mencolok. Bagaimana dengan potensi imaginasi, potensi spiritual, potensi phisik, dll yang untuk mendudkung life skill dalam menghadapi kehidupan?. Guru guru kita masih saja sangat disibukkan dengan penilaian yang terlalu jlimet dan bertele-tele. Saya berharap sistem pendidkan kita terutama K-13 lebih effektif.

  3. mardiyah

    menurut saya pendidikan di indonesia saat ini hanya mengejar nilai nilai dan nilai. seharusnya sistem pendidikan kita tidak hanya mengejar nilai tp juga mengutamakan kejujuraan

  4. wahyudi

    Pemerintah sebagai pembuat dan pemberi kebijakan terhadap segala aturan dan sistim pendidikan wajib mengevaluasi prihal sistim,aturan maupun kurikulum pendidikan yg tidak terindikasi oleh berbagai kepentingan selain kepentingan utk menjadikan konsep pendidikan lebih baik dan menciptakan SDM yg memiliki kualitas sesuai dgn kapasitas dan kemampuan warganya .
    Sangatlah dibutuhkan perubahan/manuver dalam konsep pendidikan yang mengutamakan pada kemampuan personal untuk menumbuh kembangkan kreatifitas diri anak didik/siswa utk mampu menemukan potensi dirinya dan dapat berguna sesuai kebutuhan lingkungan masyarakatnya selain dapat pula melakukan aktifitas berguna sesuai karakter dan kepribadiannya.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top