Tempo Institute
No Comments

Raymundus Rikang Rinangga Widya – Pertandingan Persahabatan

 Jauh dua dekade sebelum Soekarno berjumpa dengan Hatta, ia sudah lebih dulu berkenalan dengan Herman Kartowisastro—arék Mojokerto yang lantas menjadi kawannya di Europese School (setingkat SMP), Mojokerto. Persahabatan mereka bahkan berlanjut saat keduanya memutuskan studi di H.B.S Surabaya dan indekos di rumah Tjokroaminoto di Jalan Peneleh, Surabaya. Praktis mereka berkawan selama satu dekade: 1909-1919. Persis seperti memoar yang ditulis sendiri oleh Herman Kartowisastro: Pemuda Soekarno, Kawan Sekolah dan Kawan Mainku selama 1909-1919.

Pada periode itu, dari memori yang dimiliki Herman, pemuda Soekarno merupakan anak muda yang selalu ketagihan untuk menantang kawan-kawannya bertanding apapun: gasing, sabung ayam, layang-layang, sampai memperebutkan noni-noni Belanda yang jadi pujaan hati di sekolah. Begini salah satu cuplikan ceritanya. Suatu ketika, kisah Herman, ia memiliki ayam jago bernama “Bledek” dan beradu dengan ayam jago milik Soekarno. Dalam setiap pertarungan si “Bledek” selalu unggul dari jago Soekarno dan sejak itulah pemuda Soekarno selalu ngotot untuk menukarkan si “Bledek” dengan ayam jago pecundang miliknya. Kengototan keduanya, tak jarang sampai berujung pada baku hantam dan perpisahan untuk sementara.

Pendeknya, pemuda Soekarno itu, kata Herman: orang yang tidak dapat menerima kekalahan, yang mau menangnya sendiri. “Juga setelah ia menjadi presiden”, tandasnya.

Barulah pada dekade 1930-an, Soekarno bersua dengan Hatta. Orang Bukittinggi ini kelak tak hanya menjadi sahabat bagi Soekarno, tapi sekaligus menjadi musuh ideologisnya, lawan politiknya, dan juga oposan ide-idenya. Di sinilah Soekarno menemukan lawan sepadan yakni pribadi yang siap bertarung dengannya di arena ide, di gelanggang gagasan, serta di ruang-ruang pemikiran yang senantiasa terbuka untuk dipertandingkan dan diuji demi memperoleh konsep terbaik soal Indonesia, negeri yang amat mereka cintai.

Hatta dan Sjahrir tak pernah membangun kekuatan. Apa yang mereka kerjakan hanya bicara. … . Politik adalah machtsvorming dan machtsaanwending—pembentukan kekuatan dan pemakaian kekuatan. Saya kuatir, Bung. Anda berada dalam khayalan revolusioner,” tutur Soekarno soal dua sahabatnya itu.

Tak mau kalah, Hatta membalas tuduhan Soekarno itu. “Dan bahwa Indonesia hanya dapat dicapai dengan tenaga sendiri, dengan machtsvorming dan massa actie-accord, tidak pula kita membantahnya, melainkan sudah biasa pula kita menguraikannya. Akan tetapi, cukupkah ini membuktikan bahwa seorang nasionalis non-kooperator sudah melepaskan keyakinannya atas adanya pertentangan kebutuhan antara kaum pertuanan dan kaumnya sendiri,” tulis Hatta dalam koran Daulat Ra’jat, 30 Desember 1942. Hatta secara tajam menukikkan kritiknya kepada Soekarno bahwa gagasannya tentang strategi perjuangan bersifat agitatif. Lebih-lebih, kata Hatta, pemahaman Soekarno soal strategi non-kooperasi bertukar-tukar, dogmatis, dan tidak bisa lagi dipandang sebagai asas perjuangan.

Sekalipun begitu, persahabatan Soekarno dengan rekan politiknya demikian hangat dan lugas. Lepas dari watak alot dan berapi-api manakala berdebat soal hal-hal yang demikian prinsip. Seolah aroma permusuhan di panggung ideologis luruh oleh gurauan yang demikian cair. Juga oleh air mata yang memateraikan persahabatan sejati mereka. Buktinya, sekuen mengharukan tentang perjumpaan Hatta dengan Soekarno yang terbaring sakit di Wisma Yaso.

Hoe gaat het met jou ? (Bagaimana keadaanmu)” tanya Soekarno dalam bahasa Belanda kepada Hatta.

Sontak tangan Hatta memegang lembut tangan sahabatnya itu. Bibir mereka bergetar. Soekarno terisak dan Hatta tak mampu menahan perasaannya. Air mata Hatta juga tumpah. Kedua sahabat ini saling mempererat genggaman seolah takut berpisah. Dwitunggal ini merasa ngeri jika akhirnya mereka benar-benar menjadi Dwitanggal.

Yang menarik ialah, negeri ini sudah lama kehilangan teladan persahabatan mirip yang ditunjukkan Soekarno dengan Hatta. Empat dekade lebih, meminjam penjelasan Cornelis Lay, relasi sosial negeri ini terkungkung oleh kekuasaan remuneratif yang semuanya serba dikalkulasi dengan uang sebagai kompensasi pertalian itu. Seolah tak ada yang tulus, yang murni, yang tanpa pamrih, sekalipun itu menyangkut persahabatan.

Menyaksikan hal tersebut, tentu ada gumam kegelisahan, gusar kegundahan, dan gertak kemarahan. Kemah Kepemimpinan “Menjadi Indonesia”, saya kira hadir untuk membongkar energi negatif tersebut untuk diarakahkan menjadi suatu tekad mewujudkan negeri yang gilang-gemilang kelak. Berkaca dari pengalaman saya kurang lebih dua minggu, Kemah Kepemimpinan merupakan gerak eksistensial untuk mengubah kegelisahan, kegundahan, dan kemarahan menjadi ladang menyemai pengharapan.

Bagaimana tidak, ada dua puluh lima anak dari seluruh pelosok negeri yang artinya ada dua puluh lima paradigma berpikir. Ada dua puluh lima gaya berbicara. Ada dua puluh lima gagasan soal ke-Indonesia-an. Dan dari dua puluh lima hal-hal yang berbeda itu, hanya satu hal yang secara pasti disepakati bersama: Indonesia yang ljaya.

Dari satu pengharapan itulah, Kemah Kepemimpinan ini menurut saya berusaha untuk mereproduksi semangat-semangat yang dahulu diteladankan Soekarno dan Hatta kepada bangsanya. Bermula dengan melatih anak-anak muda dari seluruh pelosok negeri untuk berani menggelar panggung-panggung pertandingan gagasan, gelanggang perdebatan ide, dan arena pertarungan pikiran. Bukan untuk mencari siapa pemenang dan siapa pecundang, tapi semata-mata untuk semakin menyadarkan bahwa perbedaan gagasan ialah suatu keniscayaan dalam ruang-ruang sosial yang demikian majemuk.

Dan pengalaman selama mengikuti Kemah Kepemimpinan saya rasa berusaha untuk membuka percakapan soal perbedaan ini. Dan yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk membuka diri dan membagikannya kepada kawan-kawan sebagai medium untuk menempa rasa soal berbagai problem yang ada di Indonesia. Keberanian inilah yang lantas dibungkus dengan ketulusan bersahabat dan kegembiraan berkawan.

Dan demikian juga seperti Soekarno dan Hatta di ujung perjumpaan mereka, tawa dan tangis menjadi materai persahabatan kami. Sekaligus menjadi janji, bahwa Kemah Kepemimpinan “Menjadi Indonesia” adalah komitmen yang tak bisa ditawar untuk terus menghela perubahan bagi negeri yang kami cintai: INDONESIA. []

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top