Tempo Institute
No Comments

Pesan Keteguhan dari Pulau Lombok

Oleh: FATIMAH ZAHRA – UNIVERSITAS PARAMADINA

Ringkasan

Esai ini bercerita tentang warga Ahmadiyah Lombok yang sudah mengungsi di Transito sejak 2006 yang belum ada kejelasan nasibnya hingga kini. Mereka mengalami hambatan ekonomi dan sosial, tak bisa pulang ke rumah asalnya. Namun, para pengungsi teguh dalam hadapi segala tekanan dan pengacuhan.

 

——————————

PERTENGAHAN SEPTEMBER 2012 lalu saya berkesempatan berkunjung ke Transito, tempat pengungsian Ahmadiyah di Lombok. Letak asrama Transito tak jauh dari pusat kota Mataram, eks gedung transmigrasi. Ada lebih seratus warga Ahmadiyah mengungsi di sana. Sehari-hari mereka menetap di dalam ruangan yang hanya dibatasi kain-kain bekas spanduk sebagai tanda pemisah antara satu keluarga dengan keluarga lain. Tiap keluarga – ayah-ibu serta anak-anaknya – tinggal di ruang petak berukuran 3×3 meter berbatas kain itu. Mereka berbagi tidur, anak-anak belajar, dan memasak di ruang yang sama.

Pada 1999, Ahmadiyah Lombok  kali pertama mengalami serangan oleh orang-orang yang menginginkan mereka keluar dari keyakinannya. Saat itu masjid Ahmadiyah di Bayan, Lombok Barat dibakar. Satu orang meninggal, dan semua orang Ahmadi di Bayan diusir.  Pada 2001, menyusul Ahmadiyah Pancor, Lombok Timur disasar; mereka juga terpaksa pergi dari kampungnya dan mengungsi. Sejak saat itu setidaknya delapan kali warga Ahmadi berpindah tempat mencari penghidupan ke sekitar Lombok-Sumbawa. Ada yang mengungsi ke sanak saudara, ada pula yang kembali berusaha membangun rumah di tempat lain. Namun, tak kurang dari delapan kali itu pula mereka terus-menerus diserang dan diusir. Tahun 2010 beberapa belas kepala keluarga beli tanah dan bangun rumah dari hasil keringat sendiri di daerah Ketapang, tapi lagi-lagi rumah mereka disasar dan dibakar. Ihwal ini, laporan sementara Komnas HAM mengindikasikan adanya sebuah pola yang “sistematis dan meluas”, dua unsur yang menunjukkan adanya pelanggaran berat atas kemanusiaan. Intensitas kekerasan atas nama keyakinan naik drastis pasca-Suharto, lebih-lebih di bawah pemerintahan Yudhoyono setelah mengeluarkan SKB 2008 anti-Ahmadiyah.

Sejak 2006, warga Ahmadiyah Lombok tinggal di Transito. Ada pasangan yang menikah di pengungsian, ada perempuan-perempuan mengandung, ada anak-anak yang lahir dan tumbuh besar juga di sana. Para pengungsi tersebut mengalami begitu banyak hambatan sosial dan ekonomi.

“Kami ini seperti tak diakui sebagai warga negara Indonesia,”  ujar Syahidin,  seorang pengungsi. “Kalau ketahuan kami orang Ahmadiyah, tinggal di Transito, kami mengurus KTP tidak akan diproses.”

Sebagian besar pengungsi tak punya kartu penduduk. Imbasnya, pasangan yang menikah tak bisa memiliki akta nikah, lalu anak-anak pun tak punya akta lahir, yang gilirannya akan kesulitan saat daftar sekolah. Pengungsi yang tak punya KTP tak bisa mendapat akses layanan publik seperti jaminan kesehatan. Status kependudukan yang diabaikan di tempat asal maupun di Transito bikin anak-anak sekolah kesulitan mendaftar beasiswa karena pejabat kelurahan enggan memberikan dokumen pengantar.

Menurut Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina, “Tenun kebangsaan kita seperti sedang dirobek-robek”. Sebagai sebuah negara-bangsa kita telah bersepakat untuk membentuk dan berada dalam sebuah kesatuan yang tak membedakan  baik agama, keyakinan, warna kulit, ataupun ras. Konstitusi menjaminnya. Namun, di pulau Lombok ini, ada sebagian penduduk yang hak-haknya sebagai warga negara dicerabut karena keyakinan yang dianut.

“Kami ini seperti sepetak tanah yang belum merdeka,” ujar Rahma mengungkapkan kesulitan tanpa dokumen kewargenagaraan.

Meski demikian, mereka memilih tetap teguh dengan keyakinannya – betapapun bertahun-tahun hidup di bawah tekanan sekaligus diabaikan keberadaannya.

“Memangnya orang-orang yang mengusir dan menyuruh kami keluar dari iman kami, bisa menjamin bahwa jalan yang mereka paksakan bisa membuat kami tentram? Kami bertahan. Kami rela kehilangan harta benda dan melewati segala ancaman, intimidasi, serangan—meski sulit—serta kepedihan ini. Karena kami mendapatkan kedamaian dengan keyakinan ini. Kedamaian itu yang membuat kami kuat melewati semua ini.”  ujar ibu-ibu satu suara saat saya mengobrol melingkar dengan mereka. Keteguhan ibu-ibu ini, menggaris pesan untuk kita: Silahkan penjarakan tubuh kami, tapi tak akan pernah bisa atas pikiran dan keyakinan kami.

Saya meyakini bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Tuhan menciptakan kita dalam penuh warna, supaya kita saling belajar dan mengambil hikmah satu sama lain. Berusaha memberangus keragaman yang ada, apalagi dengan kekerasan, adalah sebuah perbuatan yang naif. Berkaca dari keteguhan ibu-ibu pengungsi Transito, menekan orang lain untuk menjadi sama dengan kita hanyalah perbuatan sia-sia.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Keniscayaan yang pasti ada. Menjadi pilihan kita, akan bersikap seperti apa pada hal yang niscaya ada itu. Menumpah darah untuk menyingkirkannya, telah kita lihat hanya akan menjadi rantai konflik panjang yang tak pernah usai, dan sia-sia. Atau, menerima perbedaan sebagai sumber kekayaan.

Saya menjadikan perbedaan sebagai warna dan sumber pelajaran hidup dalam interaksi sosial. Bersama teman-teman kampus di Dewan Keluarga Masjid (DKM) Paramadina, kami membentuk sebuah organisasi keagamaan yang inklusif. DKM ini seperti rohis atau Lembaga Dakwah Kampus bila di universitas-universitas lain. Rohis banyak dikenal sebagai sebuah organisasi yang sektarian. Memandang kelompoknya paling benar dan ingin meyingkirkan yang lain.  Namun, di DKM ini kami berusaha membentuk kultur lain. Organisasi terbuka bagi ideologi keyakinan dan pikiran apapun. Menjadi anggota DKM tak harus mesti berjilbab, bahkan ada juga teman non-muslim turut bergabung.

Belajar dari pengalaman,  interaksi secara personal dengan yang berbeda merupakan metode yang ampuh untuk menerima dan menghargai keragaman. Saya senantiasa mendorong rekan-rekan “minoritas” keyakinan untuk speak out.  Saya punya banyak teman beragam keyakinan: Ahmadiyah, Bahai, Kristen, Syiah dan lainnya. Terutama saat kasus-kasus kekerasan terhadap kelompok-kelompok keyakinan ini merebak, saya dorong dan perkenalkan teman-teman ini ke organisasi. Biasanya setelah kenal secara personal dengan teman dari kelompok keyakinan yang sedang disasar, rekan-rekan lain bisa memandang masalah yang ada secara lebih humanis.

“Kaget sih waktu denger dia ngaku Ahmadiyah. Baru pertama kali soalnya punya temen Ahmadiyah. Jadi seneng sih punya temen beragam. Sekarang kalau ada kejadian apa-apa saya suka nanya keadaannya sama temenku ini.” ujar Hayat, anggota DKM setelah seorang Ahmadi speak out.

Pendidikan publik di lingkup kecil ini sangat penting supaya lingkungan sekitar kita belajar untuk menerima dan menghargai perbedaan. Ada begitu banyak  masa depan anak-anak yang tercerabut karena ketidakdewasaan kita menghadapi perbedaan. Seperti puluhan anak-anak pengungsian Transito ini, yang berebut mencium tangan saat saya hendak pulang. Masa depan mereka masih panjang.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top