Tempo Institute
No Comments

Pendiri Tempo: Pers Tidak Harus Netral

Koran Tempo/ Nasional

Rabu, 25 Juni 2014

PENDIRI TEMPO: PERS TIDAK HARUS NETRAL

 

JAKARTA – Salah seorang pendiri Tempo, Goenawan Mohamad, mengatakan media massa tidak harus bersikap netral dalam kebijakan pemberitaannya. Menurut dia, hal terpenting dari pemberitaan sebuah media massa adalah isi beritanya tidak memfitnah.

Bung Karno saat menulis di Fikiran Ra’yat juga tidak netral,” kata Goenawan ketika memperingati pembredelan Tempo ke-20 di kantor Tempo Media di Gedung Kebayoran Center, Jakarta Selatan, kemarin. Acara ini dihadiri sekitar seratus karyawan dan alumnus Tempo.

Jurnalis senior ini mengatakan, jika sampai sebuah media menyebarkan fitnah, yang akan terluka adalah seluruh bangsa ini. “Yang dirusak bukan hanya manusia, tapi (juga) akal sehat dan kejujuran,” kata pria 72 tahun ini.

Goenawan mengatakan, jika sebuah media memilih berpihak, pengelola media itu harus mempertimbangkan efektivitas dari pemihakannya. “Kadangkadang (bisa) tergoda efek non-moral,” katanya.

Karena itu, dia melanjutkan, pers memiliki tanggung jawab lebih berat ketimbang politikus lantaran memiliki tanggung jawab menyebarkan kebenaran informasi kepada masyarakat. “Kalau semua orang bisa dibayar untuk memfitnah, kerusakan sosial tak bisa dihindari,” kata pendiri komunitas Salihara itu.

Baru-baru ini, Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya, Fadli Zon, mengatakan majalah Tempo dan harian Kompas telah menyajikan porsi berita tidak berimbang dalam peliputan aktivitas kampanye kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. “Tempo danKompas sudah berpihak,” kata dia di Rumah Polonia, dua hari lalu.

Fadli beralasan, keberpihakan itu terlihat dari pemilihan kata dalam berita dan foto yang ditampilkan dalam meliput kedua pasangan itu. Menurut dia, berita majalah Tempo sudah tak obyektif. “Majalah Tempo (edisi 28, “Palagan Terakhir Prabowo”) pernah dalam editorialnya menyarankan pembaca untuk tidak memilih Prabowo,” katanya.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Eko Maryadi mengatakan Tempo masih berada dalam koridor jurnalistik. “Keberimbangan yang dilakukan Tempo terbukti dengan tidak hanya memuat berita soal Jokowi, tapi juga Prabowo,” kata dia kemarin. Menurut Eko, penilaian soal adanya keberpihakan media dalam pemberitaan pemilihan presiden 2014 ini bersifat subyektif dan mewakili pandangan partisan.

Media sebagai corong pemberitaan publik, kata Eko, memang perlu menjaga independensi dan netralitas. “Media itu boleh berpihak, tapi berpihak pada kebenaran,” kata dia. Eko member contoh, jika misalnya jumlah pendukung Jokowi 300 ribu dan pendukung Prabowo 100 ribu atau sebaliknya, itulah kebenaran yang harus disuarakan meski tak menyenangkan salah satu pihak.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top