Tempo Institute
1 Comment

OBSERVASI dalam Reportase

Jurnalis punya tiga alat: riset, observasi dan wawancara, untuk menggali informasi. Kelengkapan dan kedalaman sebuah berita amat bergantung pada kecakapan junalis menggunakan ketiga teknik tersebut.

 

Ide tulisan seberapa pun bagusnya, hanya akan menjadi pepesan kosong jika tanpa diikuti penggalian bahan atau reportase. Seorang wartawan biasa menggunakan tiga alat untuk mengumpulkan bahan: riset, observasi atau pengamatan dan wawancara. Di Tempo, ketiganya teknik ini sama pentingnya, karena merupakan kesatuan yang saling melengkapi.

Mari kita bahas satu per satu…

Praktik Reportase

Peserta Klinik Menulis Tempo Institute praktik reportase di Kota Tua Jakarta, 2015

Riset

Observasi 

Kamera dalam pembuatan film sebenarnya bisa dipandang sebagai kepanjangan mata penonton. Kamera membantu menangkap gambar adegan, lalu menyajikannya ke hadapan pemirsa.

Observasi mirip dengan itu. Dalam observasi wartawan menjadi kamera, bahkan lebih: di samping merekam dengan matanya, dia mendengar dengan telinganya, mengendus dengan hidungnya, mencecap dengan lidahnya, meraba dengan kulitnya, bahkan mengikuti suara hati. Dengan kata lain wartawan harus mengggunakan seluruh inderanya dalam observasi. Kemampuan menggunakan inderanya secara maksimal akan sangat membantu wartawan menghasilkan observasi yang bagus, atau “basah” dalam istilah Tempo, yakni laporan yang kaya fakta, detil, mendalam dan akurat.

 

1 COMMENT

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED ARTICLES

Back to Top