Tempo Institute
No Comments

Merajut Cita Bangsa di Balai Kambang

Oleh: DEWI MAGHFIROH – UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

 

Ringkasan

Pendidikan masih menjadi sesuatu yang prestisius. Konsep standarisasi internasional santer diperdebatkan. Sementara, pendidikan toh tak dapat menjawab persoalan bangsa. Begitu pula dengan sistem pendidikan yang secara tidak langsung mengarah pada academic orientad. Tanpa diimbangi dengan penanaman nilai-nilai. Pengajar pun seolah menutup mata, dan hanya sebatas melaksanakan tugas. Maka dari itu, pendidikan Indonesia memerlukan terobosan-terobosan untuk mencapai cita bangsa yang termaktub dalam Undang-undang. salah satunya pendidikan di Balai Kambang. Di tempat tersebut memadukan antara ilmu agama, pendidikan formal, dan ketrampilan. Siswa tak lagi dituntut hanya pada satu sisi yaitu akdemik. Namun, ketulusan untuk tercapainya sebuah ilmu dan membentuk moral pelajar. Membangun sikap kesopanan, kedisiplinan, dan kreativitas.

————————-

 

Bergelimang manusia tumpah ruah di pojok pendidikan. Iming-iming bilingual, standart international masih menjadi dambaan. Khususnya untuk mereka yang berstatus anak penggede. Namun, sebagai masyarakat kecil yang hanya mampu menyusur mulut dengan sirih seadanya, pendidikan bukan pada statusnya namun lebih pada esensi. Koceh-koceh mulut petinggi yang selalu membumbung menyoal pendidikan, toh akhirnya berujung bisnis. Tumpulnya orang yang berpendidik tanpa bermoral menjadikan semakin merosotnya kualitas manusia. Tak ada yang patut dipercaya kecuali menemukan jalan sendiri. Cita pendidikan di negeri ini yang termaktub dalam undang-undang pun mulai pudar. Mencoba bangkit merangkai serpih-serpih yang telah berserakan. Sebuah terobosan untuk merajut cita pendidikan kembali, yakni sistem pendidikan yang menggabungkan antara ilmu agama dan pendidikan formal.

Pendidikan masih menjadi idaman setiap rakyat. Orang tua menginginkan pendidikan tinggi kepada anaknya. Secercah harapan pun terbesit “anakku harus menjadi orang yang sukses tak seperti orangtuanya”. Tetes-tetes keringat dibiarkan bercucuran untuk beberapa lembar uang lusuh, kumal.

Terik mentari menjelang, masyarakat Desa sekitar tempat tinggal saya sudah siap di peraduan nasib. Kehidupan yang bisa dikatakan jauh dari kemewahan. Keliling dari desa ke desa dengan memanggul dagangan, di perempatan jalan mengatur lalu lalang kendaraan tanpa embel-embel pangkat dan hanya mengharap receh dari tangan-tangan tulus pengemudi. Bergumul dengan debu menjadi suatu keharusan. Mereka lakukan setiap hari hingga mentari terbenam. Semua itu tak ada yang lain demi pendidikan seorang anak.

Sejauh ini pendidikan Indonesia belum bisa sepenuhnya mencetak generasi-generasi yang berbudi luhur dan berpemikiran luas. Sepak terjang yang selalu menekankan pada akedemik menjerumuskan pendidikan pada kegelapan. Angka menjadi tuhan tersendiri bagi pelajar. Pemuja nilai. Betapa tidak, pengajar selalu menekankan pada anak didiknya untuk mempunyai nilai tinggi dan lulus cepat. Tanpa memberikan pemahaman bagaimana proses untuk mendapatkan sebuah nilai dan kelayakan untuk meninggalkan bangku pendidikan. Alhasil pragmatisme yang dipahami pelajar. Instan lebih dipilih daripada harus bergeliat dari nol hingga mencapai sebuah asa. Euforia pendidikan pun seakan diamini semua lapisan.

Imbas kondisi pendidikan yang seperti itu menjadikan generasi kini bermental nglokro. Yang ujung-ujungnya materi yang dikejar. Pendidikan tanpa didasari moral yang selaras. Sebagai buktinya banyak koruptor yang berada di kerangkeng penjara, jauh lebih banyak lagi yang masih berkeliaran melenggang kesana kemari. Oh, ternyata memang sistem pendidikan kita ini ada yang salah. Mencetak yang berpendidik tanpa bermoral. Padahal moral jauh lebih penting untuk menata kepribadian. Kesadaran setiap manusia tak akan terlahir tanpa kepribadian yang bermoral. Sehingga jika setiap orang mempunyai moral yang baik, kualitas hidup bermasyarakat dan bernegara pun akan baik pula.

Balai Kambang

Balai Kambang mengingatkan saya pada pendidikan yang sebenarnya. Berdiri di desa kecil di Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara. Namun siswa datang dari berbagai daerah dan kalangan. Balai kambang didirikan atas keprihatinan seorang kakak beradik terkait pendidikan Indonesia yang semakin menapaki jurang kegelapan. Awalnya kakak-beradik tersebut menginginkan putra-putrinya mendapatkan pendidikan yang layak. Begitu pula kondisi di sekitar yang masih asing dengan bangkau sekolah. Kemudian mempunyai niatan untuk mewadahi mereka agar dapat mengenyam pendidikan. Pendidikan yang menggabungkan antara ilmu agama dan sekolah formal. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau Sekolah Menengah Pertama, Madrasah Aliyah (MA) atau Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mereka diwajibkan untuk tinggal di asrama. Di sana diajarkan kemandirian dan kreativitas.

Sebuah terobosan pendidikan di tengah konsepan sekolah yang masih grambyangan tanpa arah yang jelas. Pengajaran di Balai Kambang menekankan pada ketulusan untuk tercapainya sebuah ilmu dan membentuk moral pelajar. Tak hanya melulu mengkaji ilmu agama, namun juga ilmu sains. Di tengah tuntutan jaman yang serba modern dan canggih Balai Kambang menyesuaikan dengan perubahan jaman. Namun, tetap tanpa melupakan esensi agama. Jika setiap orang memahami akan agama masing-masing secara luas dan mengindahkan fanatisme, kehidupan akan selaras.

Pelatihan-pelatihan ketrampilan juga semakin diberlakukan. Seperti, menjahit, merajut, otomotif, berdagang, dan kerajinan tangan. Diungkap pengasuh yayasan, harapan mandiri setelah lulus juga sangat diperhatikan pengajar. Mereka dibekali pengetahuan lebih setidaknya untuk pegangan diri sendiri lebih-lebih orang disekitarnya.

Dalam pendidikan formal biasa, seorang guru diyakini menjadi orang yang bisa digugu lan ditiru siswa. Kenyataannya, mereka hanya menjadi pengajar. Berbeda dengan di Balai Kambang. Pengajar selain menjadi pengajar, juga menjadi pamong, pengasuh, dan pendidik.

Merajut Cita

Isu miring pendidikan Indonesia tak menjadikan semakin terpuruk. Tamparan tersebut sebagai introspeksi semua elemen. Baik sang pemangku  kebijakan pendidikan dan rakyat biasa. Cita pendidikan yang telah menjadi serpih-serpih daun kering yang siap diguncang angin mulai terkumpul kembali. Banyak jalan untuk menuju Roma, begitu pula banyak jalan menuju gerbang kemajuan pendidikan. Pendidikan tak hanya dari satu sisi yakni, pemerintah. Kita dapat menjadi berpendidik dan bermoral dari manapun arahnya.

Balai Kambang menjadi salah satu terobosan pendidikan di Indonesia. Rakyat Indonesia harus yakin akan pendidikan. Pendidikan bukan sebagai penentu kursi kekuasaan. Namun, melalui pendidikan sebagai bekal ilmu untuk mengembangkan keahlian.

Cita yang terwujud tak selamanya harus ditempuh di jenjang yang eksklusif. Lebih-lebih dengan biaya yang mahal. Bukan apa dan siapa yang dapat menentukan cita kita. Namun, kita sendiri yang harus begerak. Jika setiap cita kecil selalu dirajut maka akan menjadikan kekuatan besar. Kekuatan negara akan terbentuk dari generasi yang mau peduli dengan kondisi negaranya.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top