Tempo Institute
6 Comments

Menyunting Tulisan

 

Forum nulistik

Editor Tempo, Bagja Hidayat, dalam percakapan di “Forum Nulistik – Tempo Institute” beberapa pekan lalu, berbagi pengalaman soal mengedit tulisan sendiri. Dalam rentang dua jam, Bagja mengupas soal menyunting tulisan bersama teman-teman Nulistik. Berikut petikan percakapan tersebut.

BAGAIMANA MENGEDIT TULISAN SENDIRI

Pengalaman saya menulis untuk Tempo, yang paling sulit adalah bersikap keras pada diri sendiri, yakni menjadi algojo bagi tulisan sendiri. Jika mengedit tulisan orang lain saya bisa tega memangkas, menghapus, menambah tajam tulisan, tapi seringkali tak berdaya jika menghadapi tulisan sendiri.

Padahal, mengedit tulisan sendiri adalah tahapan paling penting dalam menulis. Pada tahap itu kita dituntut berdamai sekaligus bersikap keras dengan bahan, tega pada kerja keras sendiri, hingga melatih disiplin pada rambu-rambu menulis: deadline, jumlah karakter, dst.

Penyakitnya adalah, kita malah sering tak bisa menjadi editor bagi diri sendiri. Padahal dalam menulis editor itu penting. Di dunia wartawan tak ada penulis kelas satu sebab di belakang mereka menyeringai para editor. Merekalah yang bertugas menyelaraskan, merapikan, mendisiplinkan bahan, mengecek fakta, pada artikel yang mereka edit.

Penulis kelas satu itu hanya ada di dunia fiksi, terutama puisi. Dalam dunia nonfiksi, apalagi penulisan populer, ada aturan-aturan yang tak bisa diterabas. Editor itulah orang yang paling bertanggung jawab pada penulisan. Karena ia gerbang terakhir sebuah artikel ditafsirkan oleh pembaca. Jika editornya lalai, penulisnya bisa dicemooh karena salah logika, misalnya. Nah, sebelum tulisan kita dikuliti para editor, sebaiknya kita kuliti sendiri.

Para penulis biasanya mengerjakan tahapan menulis seperti ini:
Ide –> pengumpulan bahan –> bikin outline –> menulis –> merapikan –> mengedit –> menyerahkan pada editor –> terbit.

Kami di Tempo biasa menggunakan tahap seperti ini:
ide –> menentukan angle –> riset –> menuliskan semua bahan –> tinggalkan dan mengejrakan hal lain yang tak berhubungan dengan tema itu –> membaca ulang atau menambahkan bahan –> tinggalkan lagi –> mengedit.

Kenapa saya mengerjakan hal lain di luar tema itu? Agar saya lupa. Kalau sudah lupa dan saya menghadapi tulisan itu kembali, saya menjadi orang lain yang bisa tega melihat dan memperlakukan tulisan itu.

Dengan begitu, saya segera bisa menemukan kesalahan-kesalahan elementer: salah koma, salah titik, typo, kacau logika kalimat, dst. Bahkan bisa ketahuan saya ternyata tanpa sadar memasukkan bahan yang tak berhubungan dengan angle tulisan itu.

Saat mengedit itu pula saya memeriksa banyak hal:
1. kesalahan menulis
2. memeriksa kesesuaian bahan dengan angle
3. memeriksa pembuka dan penutup
4. memeriksa pengalineaan
5. memeriksa istilah
6. memeriksa jumlah karakter
7. memeriksa koherensi antar paragraf
8. memeriksa ketajaman ide
9. mengecek fakta

Itulah sebetulnya fungsi dan peran para editor. Nah, bolehkah editor mengubah gaya bahasa penulis? Seberapa jauh otoritas editor?
Ada dua jenis editor:
Editor yang membiarkan kekhasan penulis muncul dan editor yang memaksakan gaya menulisnya saat mengedit. Editor jenis pertama itu baik. Editor jenis kedua itu editor gatel.

Jika tulisan jumlah karakternya berlebih, apa tips yang paling mudah buat menguranginya?
Pangkas. Periksa lagi angle tulisan. Biasanya ada satu-dua paragraf yang tak sesuai angle. Singkirkan mereka. Karena, itu adalah cabang-cabang yang membuat tulisan tak fokus.
Jagalah fokus tulisan sesuai Outline. Outline itu menentukan dan penting. Setialah pada outline

Buatlah outline agar tulisan tak melantur, dan setialah pada outline.
Bacalah tulisanmu selepas diedit. Sederhanakan, sampai mudah dipahami sebab tujuan kita menulis agar orang lain paham. Bila perlu, mintalah teman atau anggota keluarga membaca tulisan Anda. Jika si pembaca tak paham dengan tulisan kita, berarti tulisan Anda telah gagal dan perlu ditata lagi.

6 COMMENTS
  1. Bella Ayu Miranda

    it’s so awesome article, memang menjadi pemangkas untuk tulisan sendiri sangatlah sulit, mengontrol ego dalam menulis mengenai apa yang ingin kita tulis dan sebenarnya tidak berhubungan dengan ide yang ada menjadi boomerang sendiri bagi si penulis yang harus tega bumbu ide nya dipangkas. article ini bermanfaat sekali terutama di bagian tahapan menulis yang sangat inspiratif. terima kasih.

    1. Tempo Institute

      Terimakasih kembali Bella 🙂

  2. Moeldjanee Ibral

    Salah satu sahabat dan mentor saya penah bilang : mengedit/memangkas tulisan sendiri itu perumpamaannya adalah “killing our boyfriend”. 😀

    Btw tulisan ini sangat membantu

    1. Tempo Institute

      Salam,

      terimakasih komentarnya 🙂

    2. Tempo Institute

      Terima kasih Ibral, semangat terus menulisnya ya 🙂

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED ARTICLES

Back to Top