Tempo Institute
No Comments

Menjadi Indonesia Lewat “Rumah Pelangi” di Bantaran Sungai Bengawan

Oleh: SEPTI DIAH PRAMESWARI – UNIVERSITAS PARAMADINA

 

Hawa dingin di pagi itu tak menyurutkan langkah seorang gadis muda untuk keluar rumah. Dialah yang sering dipanggil “Ustadzah Ida” oleh anak-anak kecil di kampung mereka. Seorang gadis lulusan SMA, tapi punya semangat tinggi untuk berbagi dengan sekitarnya. Ia terus melangkah, menyusuri tanggul dan berhenti di sebuah rumah mungil di pinggir tanggul. Meski mungil, rumah itu terlihat ada nuansa ceria yang melingkupinya. Mungkin karena cat warna-warni di dindingnya. Mungkin juga karena suara keceriaan anak-anak yang terdengar keluar. Di depan rumah mungil itu terpampang papan putih bertuliskan “Rumah Pelangi” dengan huruf berwarna-warni. Apa itu Rumah Pelangi?

Ceritanya berawal saat banjir besar melanda sebagian besar Solo yang dekat dengan bantaran sungai Bengawan Solo dan anak-anak sungainya di akhir tahun 2007 silam. Kejadian itulah yang menjadi awal perjuangan gadis bernama Ida yang tinggal di kampung Sawangan, di pinggir kota Solo. Waktu itu, dia masih duduk di bangku putih abu-abu. Rumahnya ikut terendam air bah hingga setinggi lima meter. Banjir yang datang tiba-tiba di pagi buta itu tanpa isyarat, sehingga hanya pakaian yang menempel di badannyalah yang dapat diselamatkan. Bantuan materiil berupa selimut, tenda, bahan makanan segera datang dari berbagai pihak tak kurang dari 12 jam setelah air bah datang. Namun, kesedihannya belum terobati karena buku-buku pelajaran dan ijazahnya mulai SD-SMP sekaligus sertifikat-sertifikat penghargaan yang ia miliki ikut terendam banjir. Tidak hanya itu, ayahnya yang sudah lama sakit tiba-tiba meninggal dunia. Dua hari setelah air bah surut dan ia mulai membersihkan rumahnya bersama sang ibu, lagi-lagi air bah kembali datang menghampiri. keadaan seperti itu berlangsung hingga 4 kali dalam 2 pekan. Ia putus harapan. Ia berniat tak akan kembali ke sekolah.

Keadaan mulai berangsur normal setelah sebulan berlalu, air bah tak datang-datang lagi. Ia membangun asa kembali setelah tersadar bahwa lingkungannya membutuhkan kehadiran dia dan orang-orang sepertinya. Ia kembali ke sekolah, tapi sekarang tidak hanya sekolah aktivitasnya sehari-hari. Ia tersadar ketika melihat anak kecil yang setenda dengannya di camp pengungsian saat bencana banjir menghampiri. Anak itu masih duduk di bangku kelas 1 SD. Namanya Eka. Eka kecil selalu merajuk pada ibunya agar diantar ke sekolah. Setiap kali ingat sekolah, Eka kecil merajuk. Ibunya bukan malas mengantar Eka kecil ke sekolah, tapi yang menjadi sebab ialah sekolah Eka kecil ikut terendam banjir. Kerusakan bangunan sekolahnya pun tergolong parah, sehingga memakan waktu yang lumayan lama untuk membenahinya. Namun, Eka kecil tak paham tentang keadaan itu. Eka kecil sering menangis meraung hanya karena ia tak dapat pergi ke sekolah. Hingga suatu pagi suara tangis Eka kecil tak terdengar. Eka kecil ternyata sakit. Ida begitu terharu melihat keadaan Eka kecil yang begitu antusias pergi ke sekolah meski suhu badannya tinggi. Berbeda dengan dirinya yang kehilangan semangat untuk melanjutkan sekolah.

Melihat Eka kecil sakit, ia bertanya pada Eka kecil dan sungguh jawaban mulut mungilnya membuat hujan di hati gadis itu semakin deras. Eka kecil menjawab, “Eka kepingin sekolah, mbak. Eka wedi dadi cah bodho. Eka kepingin dadi dokter. Dadi dokter kudu pinter yo, mbak?”[1] Dari Eka kecil ia belajar. Ia bulatkan tekad untuk meraih cita-citanya. Bukan hanya untuk sekolah, tapi ia mengabdikan dirinya untuk mengajar Eka kecil dan teman-temannya.

Hari itu juga Ida bertekad untuk punya semangat yang tinggi layaknya Eka kecil. Di tenda pengungsian, ia kumpulkan teman-teman Eka kecil, tentu saja bersama Eka untuk belajar dan bermain bersama. Hal itu disambut dengan antusiasme yang tinggi, baik dari orang tua maupun anak-anak sendiri. Selain belajar dan bermain, Ida sering mendongeng untuk anak-anak. Ida yakin lewat dongeng, Ida dapat berbagi banyak hal dengan anak-anak. Rutinitas itu berjalan tidak hanya saat di tenda pengungsian. Setelah rumah mereka dapat di huni kembali, kegiatan bersama anak-anak itu tetap berlanjut di rumah Ida. Jika saat di tenda kegiatan itu berlangsung di siang hari, namun saat di rumah Ida kegiatan itu dilakukan di sore hari mengingat Ida pun sudah harus kembali ke sekolah. Sebagian besar anak-anak yang ikut kegiatan Ida belum dapat kembali ke sekolah karena sekolah mereka belum selesai dibenahi.

Beberapa minggu kemudian, saat anak-anak sudah mulai kembali ke sekolah, Ida berpikir bahwa waktunya berbagi dengan anak-anak sudah selesai. Namun, dia kembali berpikir, kenapa ia harus berhenti untuk ikut serta membantu mencerdaskan putra-putri bangsa ini. Akhirnya Ida tetap membuka rumahnya untuk menjadi rumah singgah bagi anak-anak. Ida mencari donatur buku-buku bacaan anak agar anak-anak mendapat tambahan ilmu dari buku-buku bacaan. Ida sadar, jika hanya mengandalkan orang tua anak-anak tersebut, mereka hanya akan dapat membaca buku dari sekolah. Ekonomi orang tua mereka yang sulit, mengingatkan bahwa dapat menyekolahkan anak-anak mereka pun sudah termasuk kebahagiaan tersendiri. Di lingkungan Ida, hanya segelintir orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus SMP apalagi SMA. Hal ini juga yang mendorong Ida untuk tetap berbagi dengan anak-anak di sekitarnya.

Sekarang Ida telah lulus SMA, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di kotanya. Kesibukan sebagai mahasiswa tidak menghalanginya melakukan aktivitas dengan anak-anak di rumah singgahnya. Lewat jerih payah Ida mencari donatur dan mengumpulkan uang pribadinya, Ida berhasil menyewa satu ruangan kecil untuk rumah singgahnya, tepat di bibir tanggul Bengawan Solo. Di rumah itu ia habiskan waktu bersama anak-anak. Membagi semangat, membagi cerita dan berdongeng untuk anak-anak. Rumah itu ia beri nama ‘Rumah Pelangi”, di mana ia berharap lewat rumah itu anak-anak di sekitarnya mampu melihat indahnya pelangi cita-cita mereka. Cita-cita mereka yang beragam yang tergantung di langit layaknya pelangi beraneka warna yang sering terlihat di atas riak-riak Bengawan Solo. Lewat usaha Ida juga, teman-teman Ida tertarik menjadi sukarelawan untuk berbagi bersama anak-anak kampung di Rumah Pelangi. Tidak hanya materiil yang mereka bagi, tapi waktu, perhatian, semangat dan cita-cita pun mereka bagi. Sekarang Rumah Pelangi tak pernah sepi dari aktivitasnya. Penulis yakin, di luar sana ada seribu Ida yang peduli dengan Indonesia. Semoga terus tumbuh Ida-Ida yang lain di berbagai bidang, yang peduli dengan masa depan anak-anak bangsa.



[1] “Eka ingin sekolah, mbak. Eka takut jadi anak bodoh. Eka ingin jadi dokter. Jadi dokter harus pintar kan, mbak?”

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top