Tempo Institute
No Comments

Mengujungi Dapur Tempo

Memasuki hari kesepuluh, peserta Kemah Esai Mahasiswa (KEM) ‘Menjadi Indonesia’ akhirnya berkunjung ke kantor Tempo Grup di bilangan Velbak, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (29/11).

Selama ini, peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini hanya bisa membaca sajian Tempo. Kalau toh  bisa mengintip dapur Tempo, mereka hanya bisa mengintip melalui rubrik ‘Dapur Tempo’ yang jarang diterbitkan.

 

Para peserta diterima LR Baskoro, Redaktur Pelaksanan Bidang Hukum. Bersama Mardiyah Chamim, direktur eksekutif Tempo Institute, pria yang biasa disapa Cak Bas ini menerangkan sejarah dan profil Tempo.

Cak Bas mengawali cerita dari pembredelan Tempo pada 21 Juni 1994. Paska tumbangnya Orde Baru, kran kebebasan pers dibuka. Opsi yang dipilih adalah terbit lagi.Maka Tempo terbit  lagi.

Menurut Cak Bas, saat kebebasan pers terbuka lebar, banyak media menulis asal jadi. Tapi tidak bagi Tempo, menulis berita harus benar dan presisi pilihan katanya. Berkaca pada pengalaman, hanya gara gara satu kata yang kurang presisi, Tempo bisa digugat. Bahkan tak hanya gugatan. Mardiyah menceritakan, Endah WS, wartawati Tempo pernah diculik saat menginvestigasi soal penyelundupan solar.

Walau ruang pertemuan penuh dengan peserta, namun mereka antusias mengorek Dapur Tempo. Tak hanya soal keredaksian, para peserta banyak bertanya aspek aspek lain. Misal soal data pengelolaan, dampak berita Tempo, amplop, layout koran/majalah, penegakan etika jurnalistik, advertorial/iklan hingga opini.

Di akhir kunjungan, peserta KEM mengunjungi ruang redaksi Tempo. Mereka melihat langsung Dapur Tempo dan melihat sendiri bagaimana kerja Tempo, ikut merawat Indonesia.

Note:

Program Kemah Esai Mahasiswa adalah Program Tempo Institute. Tempo Institute adalah sayap dari Tempo Grup, penerbit Majalah Tempo, Koran Tempo, tempo.co dan Tempo English.

 

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top