Tempo Institute
No Comments

Mengenal Opini di Hari Pertama

“Penulis opini harus gaul dan tren,” kata Yos Rizal, Redaktur Opini Tempo ketika membahas modal yang dibutuhkan seorang penulis opini pada pertemuan pertama, Klinik Menulis Opini yang diselenggarakan Tempo Institute, Selasa,15 Maret 2016 lalu.

 

Klinik Menulis Opini

Sesi perkenalan pada Klinik Menulis Opini yang diadakan oleh Tempo Institute. Angkatan 1 tahun 2016, mulai tanggal 15 Maret hingga 12 April, setiap Selasa.

Modal gaul dan tren penting untuk membuat sebuah opini yang faktual dan aktual. Karena opini merupakan pendapat, pikiran, pendirian, atau pandangan seseorang tentang suatu peristiwa. Jika tidak gaul dan mengikuti tren, tulisan akan kaku dan datar.

Sejak tahun 2009, Tempo Institute konsisten menggelar berbagai klinik menulis. Sesuai dengan fokus kegiatannya ‘yaitu pengembangan jurnalistik secara luas’, tahun ini ada beragam menu klinik menulis yang dapat diikuti oleh siapapun sesuai minatnya. Salah satunya adalah Klinik Menulis Opini.

Klinik Menulis Opini tahun 2016 dibagi ke dalam empat angkatan, dan angkatan pertama sedang berlangsung sejak 15 Maret lalu. Klinik menulis yang diadakan setiap hari Selasa ini akan berakhir 12 April mendatang, untuk angkatan pertama.

Pada pertemuan pertama, angkatan pertama di tahun 2016, sebelum masuk materi, Mardiyah Chamim, direktur eksekutif Tempo Institute membuka kelas. Mardiyah memulai dengan kata sambutan ringkas. Setelahnya, para peserta dicairkan dengan sesi perkenalan.

Metode perkenalan yang digunakan cukup unik, “metode ini bisa mengukur kemampuan menulis teman-teman,” ujar Mardiyah Chamim ketika menjelaskan teknisnya. Sambil menjelaskan teknis, panitia membagikan metaplan kepada setiap peserta. “Silahkan tulis ciri-ciri kalian pada metaplan tersebut, tidak usah menuliskan nama,” kata Mardiyah, sapaan akrab Mardiyah Chamim.

Seorang peserta angkat tangan, “seberapa panjang Mbak?”

“Cukup tiga kalimat, satu kalimat juga bisa tapi minimal tujuh kata,” ujar Mardiyah menjawab. Peserta pun mulai khusyuk menulis. Suasana hening sebentar.

Setelah semua peserta menuliskan ciri-ciri dirinya, Mardiyah pun membacakan beberapa. “Saya seorang dokter, berkacamata, tinggi seratus enam puluh delapan centimeter, dan memakai kaos,” demikian salah satu bunyi tulisan peserta. “Hm, ini pasti pak Adil, jelas. Karena cuma pak Adil disini dokter, benar kan? Haha…,” Mardiyah menebak, diikuti tawa para peserta. Sebelumnya Mardiyah sudah mengenal Adil Pasaribu. Tulisan itu memang benar milik pak Adil Pasaribu, dokter bedah di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Pak Adil pun memperkenalkan diri secara langsung yang diikuti peserta lain.

“Jika orang yang saya tebak melalui apa yang dituliskan di sini benar, artinya sudah mampu menuliskan dirinya ke dalam tulisan agar mudah dipahami orang, jika salah berarti belum mampu,” kata Mardiyah menjelaskan makna metode perkenalan itu.

Mardiyah memang berhasil menebak beberapa nama peserta. Dengan itu, menurutnya ada peserta yang sudah memiliki kemampuan menulis yang mudah dipahami, tetapi ada juga yang belum. “Di klinik menulis ini, semoga kemampuan menulis teman-teman bisa lebih tajam,” kata Mardiyah menutup sesi perkenalan dan mempersilahkan Yos Rizal memulai materi. Yos Rizal merupakan Redaktur Pelaksana Tempo. Ia akan mengampu klinik menulis opini hingga pertemuan akhir. Dan pada pertemuan ke-tiga juga ke-empat, ia ditemani oleh dua redaktur lain; Iwan Kurniawan dan Idrus F. Shahab.

Sebagai pertemuan awal, Yos Rizal meleburkan peserta yang berjumlah 15 orang itu dengan materi pengenalan rubrik opini; baik secara teoritis juga praktik di berberapa media cetak.

Di Koran Tempo, rubrik opini disebut Pendapat. Sedangkan di Kompas, Media Indonesia dan Republika disebut Opini. Panjang artikel setiap media juga beda-beda, “kalau kita di Tempo maksimal lima ribu karakter, itu dengan spasi. Yang lain bisa sampai enam atau tujuh ribu karakter,” kata Yos Rizal.

Opini adalah pendapat, pikiran, pendirian, atau pandangan seseorang tentang suatu masalah dan bisa dipertanggungjawabkan dengan berdasar dalil-dalil ilmiah yang disajikan dalam bahasa populer. “Dalam opini, pastinya sudut pandang pribadi penulis sangat dimungkinkan,” kata Yos sapaan akrab Yos Rizal.

Karena opini adalah pendapat, maka penulisnya harus menguasai apa yang ditulis. Penulis harus mampu meyakinkan pembaca bahwa apa yang dia tulis memang bidang yang benar-benar ia kuasai, maka latar belakang penulis penting diketahui pembaca. “Seorang sarjana hukum menulis tentang kesehatan, siapa yang percaya? Meski ia menguasai, tapi pembaca akan sulit percaya,” kata Yos Rizal menjelaskan materi tentang modal yang dibutuhkan untuk menulis opini.

Selain harus kompeten terhadap isu, penulis opini juga harus mampu menulis secara terstruktur. “Argumentasinya harus runut, jelas, logis, dan kaya referensi. Maka, membaca memang suatu kewajiban,” Yos menambahkan.

Yos Rizal

Yos Rizal sebagai pemateri dalam klinik menulis opini Tempo Institute. Angkatan pertama tahun 2016, mulai 15 Maret hingga 12 April 2016, setiap Selasa.

Dimulai dari ide

Modal utama menulis opini adalah ide. “Ide adalah harta paling berharga yang dimiliki penulis,” demikian kata Yos Rizal. Opinilah yang membedakan antara satu penulis dengan penulis yang lain.

Kadang kita bingung, dia kok bisa punya ide itu ya? Sebenarnya ide ada dimana-mana. Dari peristiwa, dari fakta, dari bacaan, dari riset, dari pengalaman orang lain, dari mana-mana. “Tinggal bagaimana kita melihat segala sesuatu, kepekaan kita harus diasah melihat segala sesuatu,” kata Yos Rizal mengupas sumber ide.

“Saat ide sudah ditemukan, langsung tuliskan! Karena kadang kita lupa,” kata Yos menegaskan.

Tentu tidak berhenti disitu saja. Menurut Yos, setelah ide ditemukan, penulis harus merumuskan angle. “Dari sisi mana kita mau menulis? Tentukan, agar tulisan fokus,” katanya lagi.

“Apa angle mas,” tanya Mohamad Shihab, peserta yang berprofesi sebagai dosen Ilmu Komunikasi Presiden University, Jakarta.

Angle adalah sudut pandang. Setiap permasalahan memiliki aneka ragam sudut pandang, bisa positif, negatif, bisa juga netral. Tergantung dari arah mana melihatnya. “Misalnya, melihat seekor gajah. Jika Anda diminta mendeskripsikannya, bagaimana Anda melakukannya? Pasti Anda kesulitan jika tidak menentukan sisi mana yang akan Anda deskripsikan. Apakah ekornya? Kakinya? Belalainya? Atau gadingnya?,” demikian Yos memberi contoh menentukan angle. Agar mudah mengeksekusi angle, sebaiknya ditulis dengan kalimat tanya, misalnya Bagaimana bentuk belalai gajah?

Tapi, menentukan angle juga gampang-gampang susah. Karena sebuah isu dapat dilihat dari berbagai angle. Namun demikian, seorang penulis harus dapat melihat angle yang menarik dari isu tersebut. “Itu memang sejatinya penulis opini,” kata Yos lagi sebelum mempersilahkan peserta istirahat selama 15 menit.

Setelah istirahat peserta kembali ke kelas. Yos Rizal menjelaskan tentang outline dan judul sebuah angle…

Tunggu ulasan berikutnya…

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED ARTICLES

Back to Top