Tempo Institute
No Comments

Memberi Ruang bagi Minoritas

 

 

Kemah Menjadi Indonesia yang memasuki hari ke empat, para peserta mulai menampakkan isi esay mereka. Banyak esai mereka yang membeber keragaman dan ruang bagi minoritas yang ada di Indonesia. Minoritas ini tak hanya mengacu pada suku atau warna kulit. Namun banyak minoritas lainnya.

Misal  Dian Nisita yang mengamati nasib lagu lagu daerah yang kian tersisih dan jadi minoritas di tengah gempuran lagu lagu Indonesia, K-Pop dan lagu barat. Bahkan, saat masih KKN di Kalimantan, suatu daerah yang hanya memiliki satu lagu daerah namun jarang ada yang hafal syairnya. “Kenapa lagu daerah ini tak dirawat,” kata mahasiswi Universitas Indonesia ini. Lagu lagu daerah, justru malah terpinggirkan di kampungnya sendiri.

Nasib terpinggirkan juga banyak dialami pejalan kaki. Mahasiswa UGM, Yogyakarta Azhar Irfansyah demokrasi di ruang selebar lima kaki ini. Menurutnya, demokrasi tak hanya melulu soal pemilu. “Tapi juga bagaimana kesepakatan kita memberikan ruang bagi minoritas pejalan kaki,” ujarnya. Menurutnya, kini banyak tafsiran baru atas trotoar; sebagai lahan usaha.

 

Peserta asal Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Daniel Hermawan menuturkan pengalamannya. Sebagai etnis keturunan, dia mendapat perlakuan yang berbeda di lingkungannya. Dia sering diejek dengan sebutan Cina sama anak anak kecil. “Saya ga tau apa mereka paham apa itu Cina? Atau diajarkan oleh orang tua,” kata dia.

 

Daniel mempertanyakan, apakah Bhineka Tunggal Ika sebagai slogan Indonesia atau hanya sekedar hiasan dinding ? Menurutnya, perbedaan tak harus dipaksakan dalam persatuan. Tapi perbedaan harus ditoleransi. Toleransi adalah proses, bukan hasil. Proses ini masih berlangsung; proses Menjadi Indonesia.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top