Tempo Institute
No Comments

Mari Mendorong ‘Mobil’

Jakarta, Jumat pagi di ujung November. Lalu lintas macet tiada tara. Kendaraan tumpah ruah di jalan raya. Pagi itu, peserta Kemah Kepemimpinan ‘Menjadi Indonesia’ akan mengunjungi kantor General Electric (GE) di Wisma BRI, di bilangan Semanggi. Mereka dibebaskan berangkat sendiri dari penginapan di daerah Pasar Minggu. Dari Pasar Minggu, mereka naik Metro Mini 640 jurusan Tanah Abang. Mereka akan meniti jalur padat;  Jl Raya Pasar Minggu dan Jl Gatot Subroto.

Tapi kendala tetap saja tiba. Selain macet, moda angkutan itu mogok. Pertama mogok di Pancoran. “Saya terpaksa ikut mendorong,” kata Robbi Irfani salah satu peserta Kemah .  Tapi itu belum berakhir. Angkutan itu mogok lagi di depan Polda Metro, terpaksa dorong lagi. Menjelang wisma BRI, di turunan jembatan Semanggi mogok lagi.  “Total, tiga kali mogoknya,” kata dia. Jarak Pasar Minggu-Semanggi ditepuh dalam satu setengah jam.

Di kantor GE, banyak materi didapat. Tentang profil GE, teamwork, mengenali kepribadian hingga soal kepemimpinan. Dalam materi kepemimpinan, CEO GE Indonesia, Handry Satriago sendiri yang menyampaikan materinya. Di atas kursi roda, Handry memantik tentang definisi kepemimpinan.

Handry juga bercerita karirnya di GE, juga pengalamannya. Salah satunya soal penyakitnya. Handry terpaksa duduk di atas kursi roda karena kanker getah bening melumpuhkan dua kakinya. Padahal, dia sedang senang mengoleksi kupu-kupu atau main tetaer.  “Saat itu saya masih kelas dua SMA, masih 17 tahun,” ujarnya. Handry mengurung diri. Tiga bulan dia tak keluar kamar.

Suatu hari, ayahnya masuk ke kamar dan membuka jendela kamarnya. Sinar matahari masuk ke kamar. Ayahnya berkata, “Nak, hidup itu pilihan,” ujar Handry mengutip ayahnya. Jika Handry mau tetap mengurung diri, ayahnya tak masalah. Tapi kupu kupu yang jadi incarannya, tak akan datang ke kamar. Teman teman teaternya juga tak akan selalu datang menjenguknya.

Mendengar cerita ayahnya, Handry tersadar.  Dia langsung ke luar kamar, minta ibu memanggilkan taksi. “Saya mau sekolah,”kata dia. Handry memutuskan untuk tetap maju walau harus dengan mendorong kursi rodanya. Dia mengibaratkan, harus selalu mendorong ‘mobil’ walaupun jalan menanjak di hadapannya. “Saya harus jalan maju terus. Karena jika tak jalan, saya akan habis,” kata dia. Sejak saat itu, Handry terus melaju.

Dia lalu kuliah ke Institut Pertanian Bogor.  Gelar Master dalam Bisnis Internasional diraihnya dari Monash University di Australia dan dari Institut Pengembangan Management Indonesia. Gelar Dokornya dia raih dari ke Universitas Indonesia. Pada 2010 Handry jadi CEO  GE Indonesia pertama asli Indonesia.

Mendengar cerita ini, Elsa Restriana salah satu peserta Kemah Kepemimpinan terharu. “Saya hampir menitikkan air mata,” kata mahasiswi UGM ini. Hapsari Kusumaningdyah, peserta lainnya merasa mendengar pidato Steve Jobs di depan wisuda Stanford University pada 2005. “Ini inspiratif,” kata mahasiswi Universitas Indonesia ini. Steve Jobs adalah pendiri perusahaan Apple Computer. Saat pidato, dia bercerita soal kanker pankreas yang dideritanya. Penyakitnya ini membuatnya maju dan melaju kencang. Hingga lahirlah perangkat macam iPod, iPhone hingga iPad.

Kepada para peserta Kemah Kepemimpinan, Handry berpesan; “Selamat mendorong mobil anda,” kata dia.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top