Tempo Institute

Lokakarya Strategi Komunikasi: merancang komunikasi dengan berkelanjutan

Tempo Institute menggelar Lokakarya Pengembangan Strategi Komunikasi di Hotel Santika, Bandung, Senin-Selasa (6-7 Maret 2017). Lokakarya ini digelar dengan pembelajaran berbasis pengalaman.
Menurut fasilitator lokakarya ini, Gregorius Tjai Van Lie, pengalaman peserta menjadi modal utama dalam pembelajaran. Peserta,merupakan mitra Knowledge Sector Initiative, saling berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka di lapangan.
Peserta, sebanyak 33 orang dari 21 lembaga penelitian dan unsur pemerintah, memiliki pengalaman dalam membangun komunikasi di lembaganya masing-masing. Pengalaman mereka menjadi bahan utama yang digali dalam lokakarya ini.
Menurut pembicara lokakarya ini, Paramita Mohamad, Strategi Komunikasi adalah soal bagaimana menggapai tujuan. “Selama itu terkait pertukaran informasi, bahkan dalam ranah informal, adalah strategi komunikasi,” ujarnya, Senin (6/3).
Dalam paparannya, Mita menyatakan, dalam strategi komunikasi, kita tak harus merangkul semua pengampu kepentingan. “Strategi itu adalah seni berkorban. Mana yang dirangkul, mana yang dibiarkan,”
Sesuaikan prioritas dengan ketersediaan sumber daya manusia, regulasi, hingga dana. Strategi bukanlah soal hal yang ideal.
“Karena dalam aplikasi, pasti ada yang berubah dari rencana. Maka yang penting adalah kita punya tujuan,” ujarnya.
Lokakarya diharapkan bisa memiliki pemahaman tentang strategi komunikasi dan mampu mengembangkan program komunikasi di lembaganya.
Menurut Ali Nur Sahid, salah satu peserta dari Pusat Studi Agama dan Demokrasi, Universitas Paramadina, pelatihan sangat perinci.
Baginya, lokakarya ini menjadi kelanjutan dari serial lokakarya sebelumnya. “Pelatihan ini lebih evaluatif. Memberikan kami gambaran apa yang telah kami lakukan, dan bagaimana langkah selanjutnya,” kata Ali.
Dengan program komunikasi yang terencana, maka hasil penelitian bisa digunakan pemerintah untuk mengambil kebijakan.
Ani Pudyastuti, peserta dari BAPPENAS menyatakan sebenarnya mereka juga butuh hasil penelitian dari lembaga-lembaga penelitian. Karena BAPPENAS juga tak mungkin meneliti sendiri dari nol. Harapannya, dengan lokakarya ini membuka komunikasi bagi sektor pengetahuan dan merapatkan kesenjangan yang ada di antara para pengampu kepentingan sektor pengetahuan. (*)

Back to Top