Tempo Institute
2 Comments

Lead

Seperti intro dalam lagu, lead adalah pembuka tulisan. Lead harus menarik agar pembaca penasaran dengan isi tulisan. Rasa penasaran akan memaksa pembaca untuk meneruskan membaca hingga akhir. “Pastikan pembuka tulisan Anda menarik, karena sayang jika idenya menarik, tapi dibuka dengan tidak menarik, sayang, tidak akan dibaca redaktur,” kata Yos Rizal, Redaktur Pelaksana TEMPO. Ia terbiasa membaca tulisan-tulisan opini orang yang dikirim ke Tempo untuk dimuat di rubrik opini.
Untuk membuat lead, kalimatnya harus ringkas, pilihan katanya tepat, enak dibaca dan menarik. Selain itu, hindari menggunakan kata pasif, karena kesannya diam dan mati. Tulisan harus hidup yang dicerminkan oleh kata-kata yang dikandungnya. “Hindari mengawali tulisan dengan kalimat ‘Dalam rangka…., Setelah itu…, Pada suatu hari…, dan kalimat sejenisnya,” kata Yos Rizal menegaskan.
Yang perlu dicatat, dalam membuat lead sebaiknya kita menuliskannya secara ringkas—baik kalimat maupun alineanya dan gunakanlah kalimat aktif, sehingga membuatnya terkesan punya tenaga, yang dapat dirasakan oleh para pembaca.

Contohnya; “Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan,” kata Pramoedya Ananta Toer.

Usahakan membuat lead dalam alinea yang ringkas, paling banyak terdiri dari informasi when, where, dan who. Keterangan lain bisa dituliskan pada alinea-alinea berikutnya. Misalnya, “Berawal dari surat pengaduan tanpa nama, Bupati Dudu tertangkap tangan menyerahkan dana suap. Ini terjadi justru di sela acara sunatan.”
Alinea tersebut cukup ringkas namun memberikan sedikit misteri yang pasti akan memikat pembaca.

Pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan: apa isi surat tersebut, siapa yang menyerahkan, kasus apa yang menjerat si bupati, hingga siapa dan kapan acara sunatan itu digelar. Contoh tadi juga memberikan sedikit petunjuk atas peristiwa yang diberitakan, tak lain dan tak bukan perihal kasus suap atau korupsi.

Sudah mempelajari teknik membuat lead tapi belum juga menemukan pembuka yang menggigit? Cobalah kiat satu ini: berpikir bebas! Beranilah untuk sedikit berimajinasi dan membayangkan kira-kira titik mana yang akan mencuri perhatian pembaca. Rekalah kembali jalannya peristiwa yang hendak diberitakan, lalu temukan hal segar untuk diungkap, entah deskripsi kejadian, detail-detail kecil, maupun hal lain yang khas. Perlu diingat, lead bisa diibaratkan sebagai ruang pertaruhan dan pertarungan para jurnalis dalam menyajikan beritanya. Sekali mengentak, tulisan akan terus dibaca. Sekali klise dan membosankan, pastilah ditinggalkan.

Proses membuat lead dapat berbeda bagi setiap orang. Kendati demikian, teknik menulis lead sebenarnya dapat dipelajari, terutama dengan memahami ragamnya sebagai berikut.

Lead Pertanyaan.
Lead ini mengawali dengan kalimat tanya. Contohnya; Jika jalanan menunjukkan bangsa, apa yang mau dikatakan tentang Jakarta?

Lead Nyentrik.
Lead yang seperti yang kaliamatnya seperti menulis cerpen atau novel.
Contohnya; Braak…sekolah itu pun ambruk. Untunglah anak-anak yang sedang belajar itu selamat. Selamat nyawanya, tapi mungkin tidak nasib pendidikannya.

Lead Ringkasan.
Jenis ini biasanya digunakan untuk menampilkan inti dari berita yang diungkap. Karena bersifat ringkasan, umumnya pembaca langsung segera mengetahui masalah apa yang dituliskan tanpa mesti melanjutkan membaca seluruh artikel. Akan tetapi, bukan berarti lead model ini menjadi tidak baik karena sifatnya yang jelas dan ringkas. Justru bila wartawan piawai menggunakan bahasa, pembaca akan merasa terguncang, terheran, hingga tergelitik untuk mendalami seluruh isi berita.
Contohnya; Walaupun dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu… dst

Lead Bercerita.
Karena memakai unsur naratif, lead seperti ini kadangkala digemari oleh pembaca. Dengan bahasa yang mengalir, pembaca dapat seolah-olah terlibat dalam peristiwa, mengalami suasana saat kejadian, atau bahkan seakan menjadi salah satu tokoh di dalamnya. Keunggulan dari lead semacam ini adalah juga kemampuannya menggambarkan cerita bersisian dengan situasi di lokasi. Pembaca, tentu saja, tidak akan kesulitan untuk menangkap topik tulisan tersebut.
Kendati demikian, wartawan harus sangat berhati-hati agar penggambarannya tidak berpanjang-panjang, apalagi berlebih-lebihan. Hal yang malahan membuat esensi berita dapat menjadi kurang dan hilang fokus.

Contohnya:
Sesosok perempuan bersijingkat keluar kamar. Napas yang memburu sedemikian rupa ditahannya. Tidak lama berselang, menggema erangan panjang. Lampu panggung pun seluruhnya padam.

Lead Deskriptif.
Hampir mirip dengan lead naratif, lead ini dapat mendorong pembaca untuk melihat, mencium atau mendengar kejadian. Perbedaannya terletak dari penggunaan bahasanya. Bila lead naratif menggambarkan “cerita”, maka lead deskriptif mengungkapkan citra atau kesan. Ia dapat saja berupa citra suara (”Ledakan kembali menggema di satu pelosok Bagdad”), citra rupa (“Goresan garis yang seolah sekenanya ditorehkan dalam sebidang kanvas itu mengundang kekaguman penikmatnya”), atau mungkin citra aroma, yang mendeskripsikan wangi panen duren atau anyir sungai Ciliwung.

Contohnya; Keringat mengucur di wajah lelaki tua yang tangannya buntung itu. Ia merogoh saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil koin ratusan uang kembalian. Pak Saleh, tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani ….dst

Lead Kutipan.
Tidak jarang lead ini digunakan karena sifatnya yang mengena sekaligus mengundang tanya. Sumber kalimatnya bisa saja dari pernyataan menarik narasumber, atau referensi tertulis yang dekat dengan pembaca. Akan tetapi, persoalan yang kerap muncul adalah bagaimana ungkapan tersebut tidak terkesan klise, hal yang condong membuat pembaca hilang selera. Lain dari itu, kutipan kadangkala ditampilkan secara sepotong saja, sehingga belum tentu menggambarkan kenyataan sebenarnya.
Misalnya, seorang tukang ojek mengeluh tentang rencana revitalisasi Kota Tua di Jakarta dan ia mengungkapkan kalimat yang kemudian jadi lead seperti ini: “Kawasan Kota Tua mau ditutup sampai Sunda Kelapa? Wuih…(Tempo, 26 Juni 1994). Kutipan ini berpotensi menjadi tidak tepat menggambarkan perasaan tergusur si tukang ojek dan, bila wartawan tidak memberi penjelasan tentang kapan pernyataan diungkap, bisa saja kutipannya seolah tak punya kaitan dengan berita.

2 COMMENTS
    1. Tempo Institute

      Salam,
      Lead adalah pembuka tulisan. Ibarat intro dalam lagu, atau ibarat makanan pembuka. Sebagai pembuka maka harus dibuat menarik. Selain judul yang harus menarik, lead sangat mempengaruhi pembaca untuk melanjutkan membaca tulisan itu sampai habis atau tidak.
      Jadi, pastinya lead dipakai dalam penulisan buku.

      Terimakasih

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top