Tempo Institute
No Comments

Lead, Mengawali Tulisan

Bagja Hidayat

Bagja Hidayat dalam diksusi offline forum nulistik, Tempo 2015

 

Anda kerap bingung bagaimana memulai tulisan? Jumat pekan lalu, dalam obrolan Forum Nulistik (editor Tempo Bagja Hidayat) dan Mardiyah Chamim (Direktur Eksekutif Tempo Institute) mengupas bagaimana sebuah tulisan diawali. Berikut nukilannya.

Bagaimana Mengawali Tulisan?

Lead adalah pembuka tulisan. Jika judul seperti etalase pada sebuah toko, lead adalah pintu masuk ke dalam toko itu. Ibaratnya, pembaca adalah seorang calon pembeli. Mereka akan tertarik membeli sebuah baju setelah melihat etalase yang menarik. Lalu, giringlah ia masuk ke dalam toko lewat pintu masuk yang tak terkunci.

Pembuka tulisan karena itu harus mudah dibuka, membujuk calon pembeli memasukinya, hingga mereka memilih sebuah baju dan bertransaksi di kasir. Setelah membayar ia harus dipaksa melihat-lihat barang lagi dan membeli lagi. Begitulah idealnya sebuah tulisan, sebuah toko, yang terus membujuk dikelilingi terus oleh para pembelinya. Begitulah fungsi etalase, tujuan akhirnya membuat setiap orang bertransaksi di kasir.

Karena itu lead adalah pertaruhan para penulis. Jika ia gagal membujuk, pembaca tak akan memasuki keseluruhan tulisan, alih-alih mencerna, mengunyah, menerima atau menolak, ide/opini yang ingin disampaikan penulisnya. Maka lead harus dibuat semenarik mungkin.

“Menarik” memang terkesan klise, karena begitulah memang seharusnya sebuah tulisan. Agar tak abstrak, ukuran lead yang menarik jika ia menjadi setting sebuah tulisan. Pembaca tahu sejak paragraf pertama apa yang ingin disampaikan penulis dalam sebuah artikel. Karena ia sebuah pintu, lead menerangkan dengan jelas ide pokok yang akan dijabarkan oleh penulis itu.

Karena itu kegagalan lead adalah jika ia tak bisa menjadi tempat ide pokok dari sebuah tulisan. Para penulis seringkali membuat sebuah tulisan secara kronologis. Ia bagus karena pokok pikiran akan runut. Tapi cara seperti ini sering menjebak karena lead tak menjadi setting atau pokok soal. Sebaik-baiknya menulis adalah dimulai dari tengah.

Lead menjadi semacam puncak atau klimaks dari sebuah tulisan yang membetot pembaca mencari awal dan akhirnya. Karena itu unsur sebuah tulisan adalah flashback. Lengkapnya sebuah tulisan mengandung unsur-unsur ini: narasi, deskripsi, kutipan, flashback, humor, opini.

Dengan narasi, sebuah ide dipaparkan. Dengan deskripsi sebuah ide dibumikan, barangkali dengan analogi. Kutipan membuat artikel punya wajah karena ia memiliki tokoh. Kilas balik membuat cerita jadi berkonteks, humor agar tak garing, dan opini membuat sebuah tulisan jadi bernyawa dan bertenaga—sebab adanya sebuah ide menjadi alasan utama sebuah artikel ditulis.

Persoalannya, lead sering kali menghilang ketika kita sudah siap menulis. Kita tertubruk bahan sehingga bingung memilah dan memilih pokok soal mana yang akan dijadikan pembuka. Maka buatlah outline. Bagi mereka yang sudah terbiasa menulis, outline seringkali terbentuk di kepala ketika menemukan sebuah ide yang layak ditulis atau melihat dan mendengar sebuah peristiwa yang memancing sebuah ide dan opini.

Sebaik-baiknya outline adalah dituliskan. Ketika membuat outline kita jadi tahu seberapa jauh bahan yang kita punya. Outline menuntut bahan diserakkan. Dan menulis pada dasarnya menyusun bahan yang terserak itu menjadi sebuah artikel yang berbentuk. Bagaimana menyusunnya? Kembalikan pada angle. Angle itu cara kita melihat masalah.

Angle menjadi pijakan sebuah artikel ditulis. Dari situlah berangkatnya. Susun sebuah angle dengan pertanyaan berbekal 5 W 1 H. Kumpulkan bahan-bahan yang sudah ada itu untuk menjawab angle. Bahan yang tak relevan dan penting dengan angle itu disisihkan. Bahan paling relevan dan menarik disiapkan sebagai pembuka. Hasilnya adalah bahan yang fokus. Fokus membuat artikel menjadi ringkas dan jelas.

Ringkas dan jelas adalah unsur utama dalam tulisan. Ringkas beda dengan singkat. Ringkas menyangkut ide dan cara menulisnya. Ringkas menghindarkan penulis dari bertele-tele menyampaikan sebuah ide.

Maka sebuah tulisan akan terbentuk dari proses ini:

Ide –> Angle –> Riset/Wawancara –> Outline –> Penyusunan Bahan –> Menulis

Menulis pada dasarnya menyusun struktur ini:

Judul –> Lead –> Jembatan –> Batang tubuh –> Penutup

Judul lebih baik dibuat terakhir agar ia mencakup seluruh ide dalam tulisan itu.

Karena lead sebuah setting ia mengandung dimensi waktu, ruang, dan tokoh. Tiga unsur ini (When, Where, Who) membuat setting menjadi jelas. Soal What, Why, dan How dijelaskan di sekujur tulisan karena itu adalah isi dari sebuah artikel. Narasi kita adalah menjawab enam pertanyaan dalam rumus klasik ini.

Jika setelah membaca paparan ini masih bingung, coba tips yang dibuat Putu Wijaya, wartawan Tempo yang lebih terkenal sebagai sutradara film dan teater serta penulis novel dan ratusan cerita pendek. Saya kutip ceritanya dari kisah Amarzan Loebis, teman sekerjanya di majalah Tempo.

Hampir semua tulisan Putu Wijaya dibuka dengan lead yang tak diduga-duga. Rupanya karena ketika menulis, Putu tak memikirkan lead atau strukturnya. Ia menuliskan apa saja sebagai pembuka lalu merangkainya terus sehingga tulisan menjadi utuh dan lengkap. Setelah selesai ia hapus aliena pertama.

Tentu saja cara ini dipakai bagi penulis yang kesulitan membuka tulisan dan baru lancar setelah masuk ke alinea kedua. Biasanya, memang, alinea pertama sulit dibuat, tapi kita lancar menulis berikutnya jika sudah melewati alinea dua. Sebab pada alinea ketiga biasanya kita baru memasuki keasyikan menulis.

Jika paragraf pertama dihapus, pembaca akan langsung memasuki tulisan dengan tahap yang sudah asyik dalam menulisnya itu.

Teknik serupa yang bisa dipakai adalah menulis dari tengah. Apa artinya? Langsung tulis pada inti persoalan, pada masalahnya. Misal kita menulis sebuah demonstrasi yang ricuh. Tulisan di awal tulisan, kita langsung menceritakan suasana ricuh demonstrasi itu. Bukan memulainya dengan sebab orang-orang memilih unjuk rasa.

Dalam menulis fiksi, tips serupa disebuat cut the story. Dalam susunan fiksi umumnya ada 3 bagian: perkenalan, persoalan dan klimaks, lalu penyelesaian dan penutup. Kalau kita memulai dari perkenalan tokoh/persoalan, maka akan membosankan. Maka, mulailah dari bagian tengah: persoalan atau klimaks yang paling menarik. Dengan begitu, daya pukul tulisan akan kuat.

 

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top