Tempo Institute

Kompetisi Esai Mahasiswa 2013 “Menjadi Indonesia”

“MENJADI INDONESIA adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai.” (Goenawan Mohamad — Surat dari & untuk Pemimpin)

Menjadi Indonesia = (men)dingan (ja)ngan (di)am untuk Indonesia; Sebuah gerakan moral, ajakan berbuat nyata, memberi makna pada Indonesia. Lebih baik menyalakan lilin ketimbang sekadar mengutuk kegelapan.

Pada tahun keempat ini, TEMPO Institute kembali menantang mahasiswa Indonesia untuk menetaskan buah pikiran melalui kompetisi esai. Tuliskan esaimu. Jangan berangkat dari teori yang muluk-muluk. Mulailah dengan mengamati, observasi, kondisi di sekitarmu. Gambarkan permasalahan paling menarik atau paling penting di sekelilingmu, di wilayahmu, di “area kekuasaanmu”.

Ini bukan kompetisi membuat makalah dengan basis teori yang rigid, tapi tentang pendapat subyektif. Tulisan bisa berupa refleksi, observasi mendalam, atau gagasan konkret atas sebuah persoalan nyata di sekitarmu.

Pemenang dan Hadiah

Ini bukan sekadar kompetisi menulis. Kami memilih 30 (tiga puluh) penulis esai terbaik untuk mendapatkan kesempatan berharga, yakni mengikuti “Kemah Kepemimpinan — Menjadi Indonesia” di Jakarta dan Bogor, selama dua (2) minggu pada 16-30 Oktober 2013.

Kemah Kepemimpinan adalah bagian dari rangkaian penilaian untuk mendapat tiga pemenang terbaik.
Pengumuman 30 Esai Terbaik akan dipublikasikan pada Selasa, 1 Oktober 2013.

Hadiah

  Juara I: Laptop + Rp 6.000.000
  Juara II: Laptop + Rp 4.000.000
★  Juara III: Laptop + Rp 2.000.000

TOPIK ESAI

MENJADI INDONESIA bukan semata-mata tentang karut-marut dunia politik. Ada banyak topik dan sudut pandang yang bisa disoroti, antara lain:

1. Indonesia Bebas Korupsi
Mewujudkan Indonesia tanpa korupsi adalah sebuah cita-cita bersama. Tak jarang ikhtiar menuju Indonesia bebas korupsi ini membuhulkan rasa frustrasi mendalam. Manipulasi pajak, korupsi pembangunan gedung olah raga di Hambalang, sampai korupsi pengadaan Alquran adalah satu dari deretan panjang bukti betapa susahnya memberantas korupsi. Lalu, adakah cara membangun budaya bebas korupsi sedari muda? Bagaimana menumbuhkan sebuah pemahaman bersama antikorupsi hingga di tingkat lokal dan individu?
2. Indonesia yang Bhinneka
Keberagaman adalah Indonesia. Ratusan suku, ratusan bahasa, ribuan dialek, memperkaya warna Indonesia. Perbedaan agama dan kepercayaan bahasa bukan halangan hidup berbangsa, bahkan menjadi sumber kekayaan bersama. Sayangnya, belakangan ini kebanggaan pada keberagaman ini mulai terkikis. Peristiwa pembantaian di Cikeusik, penyegelan Gereja Yasmin Bogor dan Filadelfia Bekasi, juga ratusan peraturan daerah syariah adalah bukti erosi penghormatan pada keberagaman. Bagaimana dengan situasi di sekitarmu? Apa yang kamu bisa lakukan untuk kembali memupuk kebanggaan dan penghormatan pada keberagaman ini?
3. Kewirausahaan, Indonesia yang Mandiri
Indonesia yang berpenduduk 235 juta hanya memiliki wirausahawan 1,56% dari total populasi. Masih dibutuhkan amat banyak wirausahawan untuk mendorong gerak ekonomi Indonesia yang mandiri. Peluang pasti tersedia. Lahan kompetisi pun tak lagi lokal, tapi juga global, misalnya pembuat animasi film The Adventure of Tintin (2011) adalah orang Indonesia. Memang kewirausahaan tak bisa diraih dengan jalan instan. Butuh kerja keras, kejujuran, ketangguhan, dan kreativitas untuk mewujudkan kewirausahaan. Bagaimana kita bisa membangun kewirausahaan, mulai dari tingkat lokal? Bagaimana model pendidikan yang tepat untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, mulai dari lingkunganmu?
4. Kepemimpinan, Indonesia yang Kuat
Entah mengapa, nilai-nilai kepemimpinan, terutama semangat melayani masyarakat, semakin hari kian tergerus. Tingginya tingkat korupsi, tidak efektifnya birokrasi, tata kelola ruang yang buruk, menjadi beberapa contoh nyata. Di negara yang maju, seorang pemimpin selalu memikirkan kepentingan yang publik daripada kepentingan privatnya. Menjadi seorang pemimpin juga bukan selalu berarti mempunyai kekuasaan dan memiliki banyak pengikut. Lalu apa yang bisa dilakukan kaum muda, pemilik masa depan, untuk menumbuhkan kepemimpinan yang solid?
5. Indonesia yang Hijau
Lirik lagu “RayuanPulauKelapa”, karya Ismail Marzuki, sayup-sayup mulai samar. Sederet persoalan lingkungan hidup, mulai dari perburuan binatang dilindungi, pembalakan liar, pencemaran tanah dan air, serta polusi mewarnai berbagai sudut negeri. Namun, selalu ada individu atau sekelompok orang yang mencoba memulihkan hijau Indonesia. Sejauh mana sebenarnya kesadaran melestarikan lingkungan meresap dalam hidup kita? Usaha-usaha apa yang menurutmu penting dilakukan dalam usaha melestarikan lingkungan hidup?
6. Indonesia yang Berbudaya
Seni dan budaya, dua hal yang tak terpisahkan. Seni adalah pantulan dari budaya sebuah masyarakat pada suatu masa. Dan, budaya juga berarti keseluruhan sistem di masyarakat. Pada zaman serba global dan serba digital, kerja seni dan budaya menemukan tantangannya sendiri. Butuh komitmen, kecintaan, dan kerja keras mewujudkannya. Lalu, apa dan bagaimana membangun Indonesia yang punya kebanggaan dan keteguhan berkarya, tidak minder, dan menginspirasi?
7. Indonesia dan Pendidikan
Pendidikan adalah fundamen bagi pengembangan manusia. Dia kunci untuk membebaskan sebuah bangsa dari kebodohan dan kemiskinan. Sayangnya, bangunan pendidikan di Indonesia masih tertinggal. Ruang kelas lebih sering menjadi ajang pertukaran ilmu saja, sedangkan pertukaran nilai semakin dilupakan. Beruntung, bertiup angin segar berupa pendidikan alternatif yang bermunculan sebagai pembeda pendidikan formal. Menurutmu, terobosan pendidikan seperti apa yang cocok diaplikasikan untuk Indonesia? Bagaimana menciptakan ruang-ruang alternatif di tengah karut-marut pendidikan formal di Indonesia?
8. Indonesia yang Demokratis
Demokrasi adalah tuntutan zaman. Sebagian pihak menyebut saat ini kita seperti hidup dalam era surplus demokrasi. Organisasi massa yang hobi melakukan kekerasan, yang bisa tumbuh berkat demokrasi, justru mengancam eksistensi demokrasi itu sendiri. Mungkinkah demokrasi diterapkan hingga ke level terkecil dari masyarakat? Bagaimana menurutmu iklim demokrasi dan politik lokal di sekitarmu?
9. Indonesia yang Cinta HAM
Indonesia yang menghormati hak asasi manusia (HAM) adalah prasyarat menuju sebuah bangsa yang besar. Kendati mencatat berbagai perbaikan, namun proses pelanggaran HAM masih juga terjadi di sana-sini. Nah, menurutmu, bagaimana cara menumbuhkan kesadaran dan penghormatan HAM di sekitarmu?

Syarat Peserta Kompetisi Esai Mahasiswa 2013

1.   Peserta Kompetisi Esai ini adalah mahasiswa Diploma dan Strata-1 (S1).

2.   Naskah esai yang dilombakan merupakan karya perorangan peserta, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan belum pernah dipublikasikan di mana pun.

3.   Esai ditulis berdasarkan salah satu topik yang dipilih peserta. Pilihan Topik Esai: Korupsi, Bhinneka Tunggal Ika, Kewirausahaan, Kemandirian, Kepemimpinan, Lingkungan Hidup, Budaya, Pendidikan, Demokrasi, dan Hak Asasi Manusia (Sila cermati uraian tentang Topik Esai di atas).

4. Kami sangat menanti karyamu yang benar-benar orisinil, berbeda namun tetap mengutamakan esensi. Kami akan sangat menghargai karya yang mengambil tema berbeda dari pemenang tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pembeda, untuk 30 esai terbaik tahun 2012 bisa dilihat di tautan berikut. 

5.   Peserta boleh mengirim lebih dari satu judul naskah, baik dengan pilihan topik yang sama atau berbeda, tetapi hanya satu judul yang dapat masuk dalam daftar 30 Esai Terbaik.

6.   Pendaftaran dan pengiriman naskah dilakukan melalui halaman Pendaftaran dalam web tempo-institute.org

7.   Peserta wajib menyertakan pindaian (scan) Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang masih berlaku, dimuat di Lembar Biodata naskah yang dikirimkan (Lihat Panduan Penulisan Esai), dan diunggah saat pendaftaran online.

8.   Hanya naskah yang penulisannya memenuhi ketentuan-ketentuan dalam Panduan Penulisan Esai yang akan dinilai oleh Dewan Juri.

9.   Hak publikasi naskah menjadi milik Panitia.

10.   Batas akhir pengumpulan naskah adalah  Sabtu, 17 Agustus 2013, pukul 24.00 WIB

Selama masa pengumpulan esai berlangsung, kami akan memberikan tips-tips jitu dari para pemenang tahun sebelumnya dan dewan juri. Juga ada kuis-kuis berhadiah lainnya. Oleh karena itu, ikuti kami di Facebook: Tempo Institute Indonesia dan Twitter: @TempoInstitute @Menjadi_ID

Seleksi Naskah dan Penjurian

Tahap penilaian terdiri dari:

1.   Seleksi administratif oleh Panitia. Naskah yang tidak lolos seleksi karena kesalahan administratif bisa dikirim ulang sebelum tenggat pengumpulan. Lagi: cermati Panduan Penulisan Esai.

2.   Seleksi naskah oleh Panitia.

3.   Seleksi oleh Dewan Juri. Dari Seleksi akhir ini akan dipilih 30 penulis esai terbaik untuk mengikuti program Kemah Kepemimpinan (Leadership Camp). Keputusan Dewan Juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

4.   Dari 30 besar penulis esai tersebut akan dipilih 3 orang pemenang melalui mekanisme penilaian dalam Kemah Kepemimpinan (Leadership Camp).

Selamat berkompetisi!
[line]
Panitia Kompetisi Esai Mahasiswa “Menjadi Indonesia” 2013
email: kem2013[at] tempo-institute.org
telepon: 021-3916160
Gedung TEMPO Komp. Ruko Kebayoran Centre BlokA11–A15
Jl. Kebayoran Baru-Mayestik Jakarta 12240
[line]
TAUTAN TERKAIT:      Panduan Penulisan Esai     |     Pendaftaran dan Pengiriman Naskah

TEMPO Institute
Adalah organisasi nirlaba, independen, yang didirikan sejak tahun 2003 dan bernaung di bawah payung organisasi Yayasan 21 Juni 1994. Bidang kegiatannya adalah pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang penulisan, jurnalis
TEMPO Institute
Gedung TEMPO Komp. Ruko Kebayoran Centre BlokA11–A15 Jl. Kebayoran Baru-Mayestik Jakarta 12240 email: info@tempo-institute.org telepon: 021-3916160
Desember 2014
S S R K J S M
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
BERLANGGANAN

Back to Top