Tempo Institute
No Comments

Kepala Tegak Merintis Kesadaran Bencana

DSC03328a

Workshop Menulis Kreatif

Kepala Tegak Merintis Kesadaran Bencana

Usia lembaga yang masih muda, keterbatasan sumberdaya, kurangnya fasilitas, dan tantangan geografis tidak menghalangi Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperbaiki komunikasi bencana. Caranya, membuat tulisan-tulisan kebencanaan yang tepat agar publik paham dan sadar bencana.

AIFDR (Australia-Indonesia Facility for Disaster Resolution) mengajak TEMPO Institute memfasiltasi pelatihan menulis untuk BNPB. Pengalaman bergulat menangani seluk-beluk bencana secara langsung, membuat lembaga punya bahan menulis yang dramatis dan ‘basah’. Masalahnya, bahan bermutu itu selama ini ditulis dengan datar dan biasa-biasa saja. Ini kurang menyentuh dan tidak membuat publik terlibat.

Maka, langkah pertama adalah menuangkan bahan yang kaya itu dalam tulisan. Yang diharapkan publik dari lembaga BNPB adalah kisah manusia. Alih-alih hanya menulis tentang proses pelaksanaan program, staf BNPB perlu juga bereksplorasi membuat tulisan yang berwajah. Misalnya, jumlah korban tidak hanya ditulis dalam angka. Beri konteks kisah yang paling menonjol, seperti seorang nenek yang kehilangan anak, menantu, dan cucu. Atau tulis kisah-kisah dari orang yang terlibat dalam evakuasi yang sukses. Wajah manusia dalam tulisan-tulisan ini dapat menyentuh pembaca, maknanya lebih membekas.

Langkah kedua adalah memahami adanya kebutuhan menerjemahkan hal-hal teknis bencana untuk publik. Istilah ilmiah dan teknis sering digunakan untuk menjelaskan proses terjadinya bencana, penanganan, dan antisipasi. Istilah-istilah ini perlu diencerkan agar publik lebih mudah mencerna. Caranya, definisikan istilah itu dengan bahasa awam yang lebih mudah dipahami, tanpa mengurangi maknanya. Bisa juga penulis menggunakan analogi agar istilah tersebut gampang dimengerti.

Ketiga, menularkan kesadaran bencana secara cepat bisa dilakukan dengan cara mengubah teks menjadi infografis. Makna teks yang dilengkapi gambar visual lebih cepat ditangkap otak. Terutama untuk kebutuhan sosialisasi dan kampanye, lembaga perlu merencanakan infografis yang tepat sasaran.

Sebagai pamungkas, pelatihan menekankan perlunya menggeliatkan semua kanal komunikasi dengan isi yang ‘hidup’. Tulisan akurat tentang jatuh bangun pelaksanaan program, laporan aktual dari lapangan, kisah manusia di balik bencana, dan penjelasan kebencanaan akan mendongkrak BNPB sebagai lembaga yang kredibel menangani bencana.   Pada akhirnya, website, media internal, sosial media, dan blog BNPB bisa menjadi ujung tombak menyebarkan virus sadar dan siaga bencana.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top