Tempo Institute
No Comments

Kejernihan Adalah Penyembuh

 

“Azas jurnalisme kami bukanlah azas jurnalisme yang memihak satu golongan. Kami percaya bahwa kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak.

 Kami percaya bahwa tugas pers bukan menyebarkan prasangka, justru melengkapinya, bukan membenihkan kebencian, melainkan mengomunikasikan saling pengertian.

 Jurnalisme majalah ini bukanlah jurnalisme untuk memaki atau mencibirkan bibir, juga tidak dimaksudkan untuk menjilat atau menghamba. Yang memberi komando bukan kekuasaan atau uang, tapi niat baik, sikap adil dan akal sehat.”

(Majalah TEMPO, 1971)

 

Kejernihan  adalah penyembuh, begitu kata George Orwell, penulis buku Animal Farm, dalam sebuah esainya. Dia percaya bahwa ketidakjelasan, kebenaran yang dipoles kata-kata berliku-liku, adalah muara berbagai persoalan. Menjadikan berbagai hal kabur dan bahkan bisa menyulut konflik di berbagai level dan bidang. Benarlah bahwa kejernihan adalah penyembuh, clarity is the remedy.

Budaya menulis, mengungkapkan pendapat dengan jernih dan argumentatif, dengan demikian  mutlak dibangun. Tak bisa diingkari, budaya menulis adalah modal dan syarat utama untuk menciptakan masyarakat dan kehidupan yang beradab, tertata, bersih, dan demokratis.

Sebuah bangsa yang berdemokrasi tentu membutuhkan budaya menulis dan praktek jurnalistik yang terus dan terus berkembang. Dia menjadi tonggak penting penopang kebebasan berpendapat, sekaligus indikator berjalan atau tidaknya proses demokrasi di negara tersebut.

Ikhtiar pengembangan jurnalistik di negeri ini pun selalu dilakukan. Indonesia, dengan keberagaman budaya, berupaya menjaga nilai-nilai kebebasan berpendapat dalam koridor demokrasi. Kebebasan berpendapat,  saling menghargai keragaman, telah menjadi lem perekat keberagaman masyarakat. Lem perekat yang bukan hanya dibutuhkan dalam skala nasional, tapi juga pada skala regional Asia dan dunia pada umumnya.

Dunia jurnalistik Indonesia mengalami pasang surut. Tempo, yang pernah dibredel pada pemerintahan Orde Baru, 1994-1998,  menjadi bagian dari proses pasang surut ini. Dari kondisi yang serba terkekang di masa Orde Baru hingga kondisi yang penuh eforia  di zaman reformasi sekarang. Sebuah kondisi yang membutuhkan kemampuan adaptasi dan antisipasi masa depan.

Kini dan di masa depan, laju dunia teknologi digital dan Internet berderap kian kencang. Zaman baru jurnalisme pun kian terbuka dan tanpa batas. A borderless world, kata Thomas Friedman.

Beraneka media baru bertumbuhan dalam berbagai bentuk, terutama dalam bentuk online dengan format jurnalisme warga (citizen journalism). Tidak jarang, arus deras keterbukaan informasi ini justru menimbulkan konflik, kerumitan, juga kegagapan baru.

Kehadiran lembaga yang berkhidmat pada pengembangan  jurnalistik pun menjadi semakin dibutuhkan. Bukan hanya lembaga yang berfokus pada profesi wartawan, tapi yang berdedikasi pada pengembangan jurnalistik secara umum dan menyeluruh.

Tempo Institute adalah sayap baru dari Grup Tempo Inti Media, non profit, berada di bawah payung Yayasan 21 Juni 1994, yang berdedikasi pada pengembangan jurnalisme secara luas. Aktif sejak 2009, TEMPO Institute juga menyelenggarakan berbagai program yang relevan untuk penyebaran nilai-nilai yang diyakini TEMPO seperti demokrasi, transparansi dan pruralisme.

Kami lahir sebagai sebuah institusi yang menjembatani kegagapan komunikasi antar berbagai lapisan masyarakat. Sebuah lembaga yang berorientasi membangun sikap positif, beraliansi, berbagi, demi masa depan yang lebih baik. Bukan hanya dalam skala nasional, tapi juga dalam skala regional Asia Tenggara.

Sebagai bagian dari Tempo Group, Tempo Institute memegang peranan yang cukup strategis. Tempo Institute memberikan nilai tambah bagi brand Grup Tempo sebagai lembaga yang independen dan berperan aktif dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Tempo Institute, dalam konteks Tempo Group, adalah kanal baru yang akan bersentuhan langsung dengan sumber daya manusia Indonesia. Melalui berbagai kegiatan, antara lain serial pelatihan jurnalistik, riset, diskusi, dan penerbitan, Tempo Institute hadir sebagai lembaga berbasis kompetensi jurnalistik yang diharapkan mampu menjawab permasalahan jurnalisme dan demokrasi di Indonesia.

 

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top