Tempo Institute
No Comments

Jody Baskara – Surat Untuk Power Rangers

Depok, 16 November 2013

Halo pasukan Power Rangers!

Apa kabar pasukan kostum merah-biru-hijau-merah muda-kuning? Masih  sering beraksi melawan musuh-musuh raksasa? Masih sering nongkrong di televisi pagi-pagi? Atau sekarang mengalami ketakutan enggak ngetop lagi? Tenang, di dunia KEM 2013 kalian cukup tenar kok. Ucapin terima kasih ke tulisan yang ditulis sama pemuda menawan nan rupawan mirip Afgan. Tulisannya sih ngomongin kalian, bahkan penulisnya aja disamain dengan kamu, Power Ranger Merah. Bahagia gak kamu disamain dengan salah satu peserta KEM 2013? Kalo bahagia, gak usah sampe koprol sambil jerit-jerit gitu sih.

Kenalin, aku Jody Bhaskara. Salah satu pahlawan yang ikut kegiatan KEM Menjadi Indonesia 2013. Bukan sebuah kegiatan untuk nurunin berat badan kok, apalagi nurunin IPK. Ini kegiatan keren banget. Kegiatan yang diawali dengan kebahagiaan karena terpilih menjadi 32 besar dari 1500an peserta, berangkat dengan kepercayaan diri tinggi karena merasa ‘yang tertinggi’, dijalani dengan kekhawatiran karena cemas bakal menjadi ‘yang terendah’, dilalui dengan kenikmatan karena terus berproses dan hidup di tengah keberagaman yang indah, diakhiri dengan kesedihan karena satu kata : perpisahan.

Oh iya, sampe lupa dengan tujuan surat ini kan. Mohon maaf lahir bathin ya, pasukan. Pertama, aku mau memberi tahu kepada kalian ada sebuah pasukan baru. Bukan Pahlawan Bertopeng kok. Apalagi Spiderman, Batman, Superman ataupun Abdurahman. Namanya itu, Pasukan KEM 2013. Ancaman bagi kalian? Bisa dibilang seperti itu sih. Kalau kalian harus mengalahkan robot raksasa yang super jahat mengancam kota, kita adalah pasukan yang akan menaklukkan masalah sosial dengan pisau analisa yang tepat. Bukan pisau biasa loh, pisaunya hanya kita yang punya. Kalian tanya dapat darimana? Hahahaha. Kita dapat dari kotak Pandora. Apa kalian bilang? Kita bakal kalah tenar dengan kalian? Siapa bilang. Kita juga bakal tenar kok. Setiap hari aja kita disorot terus oleh sebuah stasiun televisi. Kita bakal tayang di televisi kok, mengalahkan ketenaran si Haji Sulam dan Haji Muhidin.

Jika kalian adalah lima orang dengan kostum warna-warni dan dibekali senjata, pistol, pedang atau sejenisnya dan berubah menjadi manusia robot untuk membasmi kejahatan, kita adalah dua puluh lima orang dengan warna kulit yang tidak sama, keberagaman suku, agama, bahasa, dan dibekali dengan pikiran serta logika. Walaupun kita berdua puluh lima, kita bersatu bukan untuk menyaingi JKT48, ataupun Cherrybelle dan SMASH, tapi kita bersatu untuk Menjadi Indonesia. Untuk membuat Indonesia yang lebih baik dengan kekuatan kita masing-masing. Aaamiiin.

Kalian terharu ya dengan keberadaan kita? Ga usah menitikkan air mata ya. Kasihan dengan Mbak Echi dan Mbak Rika yang harus datangin kalian untuk menghapus air mata itu. Aku tahu kok kalau kalian bahagia akhirnya ada sebuah pasukan yang mempunyai cita-cita mulia ini. Mungkin jika masalah otot, kalian lebih hebat dari kami. Ya iyalah, kalian punya pistol, ciung ciung doooor musuh akan mati. Tapi kami punya pikiran yang luar biasa hebatnya. Tahu Rocky Gerung? Seseorang yang menghantui pikiran kami dengan tingkat bahasanya yang harus mengerti isi KBBI. Secara gamblang dia bilang kalo IQ 25 anak KEM 2013 jauh lebih besar daripada IQ orang-orang di DPRD. Bahkan ada kembaliannya. Tapi kita bukan anak Einstein, kita adalah anak-anak Indonesia.

Eh ada yang lupa. Aku minta surat ini jangan dikasih sama Mbak Ninil untuk dikoreksi ya. Jangan-jangan, kalo surat ini sama dia, nanti surat ini dia suruh blok dari kata “Halo Power Rangers!” sampai ke titik terakhir di tulisan, terus didelete lalu bilang : “Sebenernya isi tulisanmu ada di judul dan di paragraf sekian, ini terlalu panjang pembukanya.” Kan jadi sedih daku kalau begitu. Ya udah, langsung ke isi aja ya J

Sejujurnya, sebagai salah satu dari pasukan KEM 2013, aku pengen curhat ke kalian loh. Tapi curhatnya jangan dikasih tau sama orang lain. Jangan kasih tau sama Dora, Sponge Bob, Naruto, sampai ke Haji Muhidin. Jangan. Cukup aku dan kalian berlima yang tahu ya.

Sebenarnya, aku datang ke KEM ini dengan perasaan bahagia dan terharu banget. Bahagia karena masuk 32 besar lomba esai. Terharu ketika teman-teman mengatakan, “Jadi Jody bisa nulis esai ya?” Itu merupakan tulisan pertamaku selain tugas sekolah. Dengan bekal yang cukup (bekal disini maksudnya ilmu ya, bukan barang bawaan pas camp), aku beranikan diri untuk mengambil kesempatan berlian ini dan meninggalkan rutinitas di perkuliahan.

Tetapi, baru hari ketiga, aku sedih. Aku kecewa. Aku merasa minder. Aku merasa agak tidak setara dengan mereka bahkan tidak lebih dari mereka. Dari segi pengalaman, mereka memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada aku. Mungkin faktor usia. Dari segi latar belakang pendidikan, mereka kebanyakan adalah orang-orang humaniora. Mereka ahli bicara. Mereka punya pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan aku. Bener-bener minder. Bahkan aku pernah merenungi di kamar mandi pagi-pagi untuk memutuskan apakah harus keluar dari kegiatan ini dan kuliah lagi. Tapi aku ga mau putus asa. Aku adalah orang yang mau belajar.

Selain itu pula, aku sedih karena aku masih memikirkan diriku terlalu kanak-kanak dibandingkan dengan mereka yang cukup dewasa. Bukan sok muda loh ya. Entahlah, di awal minggu aku berusaha untuk tampil ‘sok’ dewasa. Tapi capek. Akhirnya aku menjadi apa adanya. Terserah deh mau orang bilang aku adalah kompetitor yang lemah ataupun orang yang bisa tidak dianggap. Terserah.

Jujur nih ya, memang benar aku pada awalnya menganggap acara ini adalah sebuah kompetisi. Lah nama acaranya aja Kompetisi Esai Mahasiswa. Dalam pikiranku, bagaimana cara mendapatkan juara dan mengharumkan nama universitas yang aku bawa itu. Tapi, lama-kelamaan aku berpikir ini adalah sebuah proses, sebuah pembelajaran. Entah terlena ataupun sadar, aku tidak memikirkan lagi untuk kompetisi. Aku belajar menjadi pribadi yang lebih baik, mengenali diri sendiri, mengolah rasa, menjalin hubungan persaudaraan, berkomunikasi yang baik dan lainnya. Hingga pada suatu saatnya aku menyerah dengan kata ‘kompetisi’ dan menyambut kata ‘belajar’ dengan sukacita.

Bahagia banget ketika aku mencoba hal-hal baru yang sebenarnya aku benci ketika berada di lingkungan ini. Pertama kalinya aku berusaha untuk menegur orang lain pertama kali dan mengajak berkenalan. Seingat aku, ketika masa ospek kuliah saja aku malas rasanya untuk menegur. Biarkan orang lain duluan yang menyapa. Walaupun begitu, aku tetap dikenal oleh orang banyak.

Ini pertama kalinya aku tidur satu kamar dengan orang cukup banyak. Aku adalah orang yang risih kalo ada orang lain di satu ruangan yang tidur bareng. Geli. Mending juga bobok sama istri. Tapi aku sadar bahwa kondisi untuk menuntutku seperti ini. Bahkan ketika aku harus mengatakan pada Heru untuk satu selimut. Ternyata tidur bareng itu tidak semenjijikkan yang aku kira.

Wahai para Power Rangers! Tetapi semua kesedihan aku ketika belajar itu, aku senang loh ketemu 24 orang yang juga jadi pahlawan. Bentuk mereka sih bukan manusia robot, bukan manusia dengan kostum baju ketat gitu. Mereka manusia biasa kok, tetapi punya keunikan yang luar biasa gitu.

Ada seseorang yang benar-benar hidup di antara buku-buku, mencintai buku dan dididik dengan buku.

Ada seseorang yang sangat peduli dengan kaum difabel.

Ada seseorang yang banyak menghabiskan hidupnya di sebuah sanggar anak di daerah yang tidak elit.

Ada seseorang yang begitu luar biasa mempunyai semangat berapi-api ketika berbicara.

Ada seseorang yang berasal dari LGBT yang benar-benar memperjuangkan komunitasnya.

Ada seseorang yang mempunyai suara khas yang lembut, tenang, dan bulat. Cocok banget jadi penyiar TVRI. Tapi lebih cocok jadi bintang iklan Hexos. Tapi ada juga seseorang yang mempunyai suara sejauh sembilan oktaf hingga sulit membedakan antara nada tinggi dan cempreng.

Ada seseorang yang suka banget ngegombal. Boleh juga kalau dia ikut kompetisi gombal.

Ada seseorang yang ‘anak seni banget’. Mungkin dia terkenal dengan soundscape.

Ada seseorang yang ternyata seorang backpacker.

Ada seseorang yang suka ngelawak. Kribo lawak, mungkin kali ya. Tapi suatu saat, aku dan dia bakal menjadi seorang artis terkenal di tata surya ini. Aamiin.

Ada seseorang yang ga bisa jauh dari menulis puisi.

Ada beberapa orang yang tangguh menghadapi hidup yang sangat keras ini.

Dan masih banyak lagi ciri khas mereka yang benar-benar khas. Aku bahkan saat mengetik ini bingung untuk terus mendeskripsikan atau beralih topik. Sedih harus membayangkan mereka sekarang tidak di sekitarku untuk berproses bersama-sama.

Dan apakah kalian tahu air mataku ini benar-benar mahal? Tentu saja. Air mataku ini lebih mahal daripada satu ton permata. Namun sifat kedermawananku muncul begitu saja ketika harus menghadapi satu kata : perpisahan. Air mataku emang berharga banget. Setiap air mataku yang keluar itu lebih mahal daripada satu ton berlian. Tapi, kedermawanan untuk membagikan air mata cuma-cuma itu muncul ketika ada kata yang terucap di penghujung kegiatan. Hanya untuk anggota KEM 2013, aku mau menangis yang sangat merdu, mungkin bisa mengalahkan kemerduan suara Celine Dion bernyanyi.

Aku benci perpisahan. Aku benci untuk jauh dari mereka-mereka yang selalu membuat suasana tiap harinya menjadi berarti. Aku benci tidak mendengar lagi canda tawa mereka. Aku benci tidak mampu lagi untuk belajar bersama-sama, mendengarkan kisah, menggosip, bertukar pikiran hingga menangis bersama. Aku benci tidak bisa bernapas bareng-bareng lagi.

Ah sudahlah. Suatu saat nanti, kata Mbak Rika, kita bakal bertemu kembali bersama-sama dan lengkap. Semoga ya ketika reuni nanti kami berdua puluh lima bisa hadir semua. Tenang! Kalian berlima akan aku undang kok. Sekalian aku kenalin dengan pasukan KEM 2013 yang aku ceritain itu. Seneng ga? Udah ga usah menangis terharu gitu.

Wah sebenernya masih mau nulis lagi untuk ceritain banyak hal tentang KEM. Tapi ada limit nih. Maaf ya. Nanti aku sambung lagi.

Bye, Power Rangers!

 

Salam hangat,

Jody Bhaskara.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top