Tempo Institute
No Comments

Guster C P Sihombing – (Rasa) Menjadi Indonesia

“Kompetisi hanya sebuah alibi untuk mengajarkan kita mengenal semua rasa, salah satunya rasa bangga mengenal kalian.”Wisma Tempo Sirnagalih, Sabtu 26 Oktober 2013.

Secara ajaib, aku mengikuti Kompetisi Esai Mahasiswa (KEM) Menjadi Indonesia yang diadakan Tempo Institute, yang setelah mengikutinya baru aku tahu adalah organisasi non profit dari Tempo Grup. Kompetisi ini awalnya aku tahu dari seorang kawan yang juga alumni KEM. Dia adalah Wan Ulfa, yang menge-post sebuah flyer  KEM ini di Facebook.

Aku mengirim esai dengan tema Indonesia yang cinta HAM, berjudul “Menghargai Manusia Tanpa Batas Orientasi”. Intinya, aku ingin menyuarakan suara kawan-kawan LGBTIQ. Bagaimana seharusnya kita sebagai manusia bisa hidup saling menghargai tanpa memandang orientasi seksual orang lain.  Memanusiakan manusialah.

Ini kali pertamaku menulis esai. Jadi, harap maklum kalau tulisanku tak seperti yang kalian bayangkan. Berkat tulisan itulah aku berangkat ke Jakarta untuk ‘karantina’. Kami, ke-27 peserta KEM dikumpulkan di GPIB Immanuel seberang Stasiun Gambir tanggal 15 Oktober lalu. Kemudian ‘dipaksa’ berangkat ke Wisma Tempo Sirnagalih (WTS) Bogor dengan satu kurang dan lima lebih.

Disinilah ‘kehidupan’ dimulai. Aku mulai bertemu Rielya Alfa Lasano dan Saneri. Karena secara usia dan penampilan aku yang lebih muda, lantas aku memanggil mereka kakak. Kak Alfa dan Kak Shere. Dari hari pertama sampai akhir, aku selalu bersama mereka.

Ini karena aku sulit membuka pembicaraan dengan orang lain, apalagi orang-orang baru. Aku juga cenderung lebih nyaman dengan orang-orang yang itu-itu saja. Seolah-olah aku sombong dimata peserta lain. Tapi sejujurnya aku ingin sekali akrab dengan semua peserta. Apalagi pada akhirnya aku tak rela mengakhiri KEM ini.

Setelah beberapa minggu berakhir, aku mau kembali mencoba menyebut nama keluarga baruku ini. Biasanya aku bisa mengingat nama orang berdasarkan urutan sesuatu hal. Kali ini aku mengingatnya berdasarkan pembagian kamar sewaktu di WTS.

Ajoi, Martin, May, Bang Rianto, Yoni, Udin, Fikri, Naufil, Fajar, Ihram, Rezza, Benny, Bang Ari, Tiwi, Fitri, Ririe, Brita, Setya, Kak Shere, Hala, Kak Alfa, Suci, Asep, Rikang, Jody, dan Heru. Saat aku nulis nama-nama ini, aku membutuhkan waktu untuk mengingat kembali nama mereka. Short term memory-ku kembali akut.

Nah, untuk yang satu ini aku juga harus mikir lama. Mentor-mentor yang selalu menemani peserta, Kak Ulfa, Gea, Kak Isom, Mbak Elsa, dan Kak Respati. Panitia dan pendamping, ada Mak Etha, Mbak Mitha, Kak Rius, Mas Wisnu, Mas Bedewe, Mas YB, Mbak Mar, Mbak Rika, Kak Moses, Mbak Mata, Mbak Ecy, Om Andi, Mas Dika dan Mas Rohmen.  Buat nama yang aku nggak tulis, itu hanya kelupaan belaka tanpa unsur kesengajaan.

Hahhh! Rasanya ingin kembali ke dua minggu yang telah kita lewati bersama itu. Terlihat sedikit lebay, tapi kayaknya ini dirasakan semua keluarga besar KEM. Kalo nggak, kenapa bahasan di grup Whatsapp, Facebook, Twitter, dan lainnya masih tentang KEM aja?

Pasti bukan karena kita semua belum move-on, tapi kita semua terlalu menikmati ‘surga utopis’ yang terlalu membuat kita bahagia. Dan kebahagiaan itu tak terlupakan. Hais, tulisan ini semakin menjalar ntah kemana. Terlalu banyak yang ingin aku ceritakan.

Tema acara ini adalah Menjadi  Indonesia. Hal yang terdengar baru ditelingaku. Kak Moses bilang, MENdingan JAngan DIam untuk INDONESIA.

Aku bangga menjadi bagian dari Indonesia meski aku belum terlalu mengenalnya. Yang aku tahu, Indonesia adalah tanah air yang memiliki beribu pulau indah dan dikelilingi samudra luas. Katanya ada banyak suku, agama,  dan adat istiadat. Intinya Indonesia adalah negara yang kaya kata orang.

Selama ini, aku nggak menemukan semua itu. Bagaimana tidak, di TV sering aku menonton antar umat beragama berperang. Berebut kekuasaan, lahan, bahkan men-judge agama lain salah. Emangnya dia pemilik surga dan neraka?

Ada lagi yang baru kebakaran jenggot ketika negara lain dinilai mengklaim suatu kebudayaan. Selama ini ngapain aja?

Nah, di freedom academy inilah aku menemukan Indonesia yang sebenarnya. Kita berasal dari beragam latar belakang. Kepercayaan, suku, daerah asal, background pendidikan, warna kulit, persepsi, dan banyak lagi. Yah, seperti Pancasila. Juga seperti Bhineka Tunggal Ika.

Bagaimana tidak, kita mengangkat hal-hal yang dianggap tabu untuk layak diperbincangkan. Kita menghargai cara dan aliran kepercayaan setiap individu. Kalau dibilang berdasarkan Islam, perlu dikaji lagi Islam yang mana dulu. Begitu juga hal-hal lain. Semua berdiskusi dengan pikiran terbuka.

Kak Rius pernah bilang, kita datang ke KEM jangan dengan gelas kosong. Tapi, datang dengan gelas penuh yang siap memperbesar ukuran gelasnya. Kita boleh berbeda persepsi dan banyak hal. Tapi, kita sama-sama mengharapkan sesuatu yang baik terjadi di Indonesia.

Setiap hal yang dibahas disana pasti mengenai Indonesia . Terkadang ada cocoknisasi. Apa-apa saja sering dihubungkan dengan kondisi Indonesia.  Tapi, setelah aku pikir-pikir ada juga sih kaitannya. Misalnya, ketika ditilang polisi kita memilih untuk suap polisinya atau memilih menerima sanksi sesuai undang-undang. Atau, sesi dinamika sosial yang memaparkan kondisi pengelompokan kelas-kelas ekonomi masyarakat di Indonesia. Itulah realita yang terjadi sekarang. Memang.

Sudah kelihatan seperti alumni KEM belum? Kenapa aku bilang seperti ini, karena sampai sekarang aku nggak tahu kenapa aku bisa menjadi ke-27 besar dari 1500-an pengirim esai.  Yang aku tahu, aku menjadi salah seorang yang sangat beruntung karena telah berkesempatan menjadi keluarga KEM Menjadi Indonesia dari Tempo Institute ini.

Pertama, aku memiliki keluarga baru dan bukan rifal perang. Mereka adalah 26 orang muda Indonesia yang luar biasa. Ada yang sudah menjejakkan kaki di berbagai negara didunia. Ada yang berkesempatan kuliah setahun di negeri Sakura, ada juga yang di negeri Paman Sam. Ada yang mendapatkan beberapa kesempatan emas dalam waktu yang bersamaan. Ada yang sudah biasa melahap semua jenis buku dan menelurkan pemikirannya di media-media nasional. Ada yang mendapatkan banyak penghargaan atas prestasinya di berbagai bidang. Ada juga yang begitu peka dengan isu-isu kemanusiaan seperti kesetaraan hak dan disabilitas.

Ah, betapa hebatnya mereka. Belum lagi aku bertemu wali kelas, kepala sekolah, rektor, kepala asrama, dan guru-guru BP yang tak ku duga. Untuk yang satu ini, awalnya aku bingung apa peran guru-guru BP yang sama sekali nggak bersentuhan secara langsung dengan peserta. Mereka hanya duduk manis sesekali mengundang tawa diluar kelas. Ternyata mereka tak ubahnya bapak dan mamak yang kapan saja bisa ditanya apapun. Hah, menyesal tak menggunakan kesempatan itu waktu KEM.

Kedua, aku bertemu dengan narasumber-narasumber yang mengusai bidangnya masing-masing. Sayangnya aku selalu ngantuk di kelas. Memang aku sulit konsentrasi di kelas. Masih terbawa-bawa suasana di kampus. Karena kalau belajar di kampus dan berada di kelas rasanya kreatifitasku terhambat dan hanya menghabiskan waktu saja,  sementara di KEM semuanya ada makna. Sayang.

Ketiga, aku bisa mengunjungi beberapa tempat yang menginspirasi. Salah satunya Sanggar Anak Akar. Aku mengagumi kerja keras mereka yang mendedikasikan dirinya untuk kesejahteraan orang lain. Satu lagi, betapa bahagianya melihat semua kita bisa tertawa lepas saat menikmati alunan musik dan tarian asal ala KEM 2013 dan anak-anak sanggar. Semoga aku bisa kembali kesana. Semoga.

Keempat, malam penganugerahan yang membuatku bangga dengan diriku sendiri. Aku bisa berdiri disana melihat kakiku dan kaki kalian bersatu dalam tarian yang lagi-lagi ala KEM 2013.

Kelima, keenam, ketujuh, keduapuluh, keseratus, bahkan ke-hingga tak terhitung. Karena tak terhitung apa saja yang aku dapat dan yang akan aku dapatkan setelah KEM ini. Nah, ketika aku pulang ke Medan, banyak kawan yang bertanya tentang pengalamanku disana. Sangkin tak tahu aku akan jawab apa, aku bilang ke mereka semua kalau KEM adalah kegiatan yang sangat direkomendasikan untuk diikuti. Pasti karena kegiatan ini luar biasa.

Makanya, ketika KEM 2014 tidak ada pasti banyak orang yang kecewa. Bayangkan ke-27 peserta ditambah lima mentor bercerita pada kawan mereka mengenai KEM dan merekomendasikannya. Ada berapa banyak orang yang menantikannya. Belum lagi 1500-an pengirim esai tahun ini yang belum berkesempatan yang sama denganku dan peserta lain. Semoga tahun depn masih diadakan dan tahun-tahun lainnya. Amin.

Sebelum kalian bosan membaca tulisan ini, aku mau berbagi satu hal yang paling mengesankan. Yaitu rasa. Yah, rasa. Rasa itu mengundang sejuta makna.  Dan aku tak tahu bagaimana mengungkapkan rasa itu ditulisan ini. Kalian hanya perlu merasa apa rasa yang aku tulis untuk kalian rasa.

 Medan, 24 November 2013, 11:26 AM

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top