Tempo Institute
No Comments

Fardrin Fadlan Bya – Kawan, Ide, dan Indonesia

Berawal dari informasi teman saya yang telah bekerja di Tempo, saya mengirimkan e-mail permohonan buku berjdul “Surat dari dan untuk Pemimpin” kepada Tempo Institute, permohonan ini bukan permohonan pribadi melainkan permohonan yang mewakili Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tempat saya bernaung. LPM Kavling 10 Universitas Brawijaya. Kurang lebih 2 minggu sejak permohonan itu terkirim, saya menerima kiriman paket dari Jakarta, sudah dapat ditebak paket itu berisi buku “Surat dari dan untuk Pemimpin”. Ketika paket itu dibuka bukan hanya buku yang dikirimkan oleh Tempo Institute namun juga dua buah Poster. Poster yang telah mengantarku untuk “Menjadi Indonesia”.

Pertama kali melihat poster itu, saya langsung berkata dalam hati, “ saya harus mengirim esai dan mengikuti pelatihan ini.” Selama dua bulan sebelum masa deadline pengumpulan naskah, saya mencoba membaca berbagai referensi dan mengingat-ingat pengalaman apa yang cocok untuk dijadikan Esai. Tak lupa juga saya mengajak teman-teman di LPM saya untuk mengikuti Kompetisi Esai Mahasiswa (KEM) ini.

*****

Saya berekspektasi tinggi terhadap acara ini. Harapan awal saya ketika akan mendatangi KEM ini, selama dua minggu saya di drill dengan pelatihan jurnalistik ala TEMPO dan selesai nanti saya mendapatkan bekal materi jurnalistik yang bisa saya bagikan ke teman-teman di LPM saya. Namun ternyata saya salah besar. Selama 2 pekan pelaksanaan KEM, pelatihan jurnalistik hanya dijatah dua hari saja. Selebihnya adalah materi-materi tentang anti korupsi, Lingkungan hidup, Filsafat, Sejarah Politik Indonesia, Pluralisme, Gender, Kopi Nusantara, dan materi pengenalan diri, sebuah materi yang tak begitu saya suka namun justru mendapat porsi waktu lebih banyak.

Sebenarnya apa yang aku dapatkan dari proses selama kurang lebih 2 minggu di Sirnagalih kemarin tak lebih dari pengulangan materi semata. Tak ada hal-hal yang benar-benar baru yang saya dapatkan dari kegiatan itu, (Kecuali teman-teman dan kenalan baru pastinya). Mulai dari Praktek Jurnalistik (hal yang paling saya tunggu selama proses), isu korupsi, HAM, Gender, Lingkungan Hidup, Pluralisme, dan juga Kopi  Nusantara. Semua hal tersebut sudah sering saya dapatkan dan terima selama saya kuliah, aktif di organisasi Pers Mahasiswa, dan juga kebiasaan nongkrong dan diskusi hingga larut malam di warung kopi di Kota Malang.

Nyaris semua apa yang disampaikan pemateri selama proses 2 minggu di Sirnagalih itu sudah bisa saya tebak akhirnya atau menebak garis-garis besar pikiran yang akan disampaikan pemateri. Contohnya saja pada tema materi tentang korupsi. Apa yang disampaikan oleh pemateri dari KPK dan ICW adalah data-data tentang korupsi terkini yang terjadi di Indonesia dan bagaimana akar permasalahan serta tips-tips memberantas korupsi bagi generasi muda. Sungguh membosankan. Padahal harapan saya, saya mendapat penjelasan atau pemahaman baru tentang korupsi di bidang yang lain seperti bidang kebudayaan. Korupsi bidang kebudayaan seperti yang telah dilakukan oleh SBY saat pemutaran lagu ciptaannya sendiri pada perhelatan HUT RI di Istana Negara. Apakah Indonesia kekurangan seniman untuk menciptakan sebuah lagu yang bear-benar layak dinyanyikan di Istana Negara? Apakah hanya karya seorang Presiden yang boleh dinyanyikan di Istana? Jika tidak, mengapa Lagu ciptaan SBY yang dinyanyikan? Bagaimana proses pemilihan lagu tersebut? Apakah ada unsur KKN-nya? Bukankah ini termasuk korupsi juga, penyalahgunaan kekuasaan?

Namun saya sadar menemukan betapa sombongnya diri ini, ketika memasuki sesi praktek jurnalistik yang langsung dipandu oleh redaktur senior Tempo, Mbak Niniel. ketika itu saya merasa skill jurnalistik saya sudah lumayan. Secara saya sudah 3 tahun berkecimpung di dunia ke persma-an. Tapi ketika tulisan saya dievaluasi langsung oleh Mbak Niniel, saya mati kutu. Banyak kekurangan pada hasil tulisan saya. Pengalaman dan jam terbang memang sangat menentukan kualitas reportase dan tulisan seorang wartawan.

Ketika memasuki sesi materi game analisa sosial , saya sudah menyadari dari awal saya dan peserta lain akan memainkan game analisa sosial ketika dibagikan amplop yang berisi sejumlah uang mainan. Beberapa kali saya telah mengikuti pelatihan analisas sosial di kampus dengan cara yang hampir sama, menukar uang mainan dengan sesama peserta. Namun baru pada sesi analisa sosial di KEM ini saya benar-benar merasakan perbedaan. Setelah sesi tukar menukar uang berakhir, kami dan peserta-peserta lain  dibagi menjadi tiga kelompok berdasarakan jumlah uang akhir yang didapat para peserta. Ada kelompok kelas elit, kelompok kelas menengah, dan kelompok miskin. Saya berada di kelompok miskin. Konsekuensinya, malam itu kelompok miskin dijatah makan malam dengan nasi ditambah krupuk plus air mineral. Berbeda dengan kelas menengah dan elit yang makanannya lebih lengkap dan bergizi.

Dan masih banyak lagi materi-materi lainnya yang saya dapatkan pada proses KEM ini yang sebagian besar adalah pengulangan materi-materi yang telah saya dapatkan di kampus. Tetapi justru saya bersyukur dengan adanya pengulangan materi ini. Saya diajarkan untuk tidak sombong akan ide-ide yang telah didapat. Karena akhir dari kesombongan hanya akan menjatuhkan diri sendiri.

*****

Banyak hal yang membuat saya terkesan selama proses “Menjadi Indonesia” di Sirnagalih kemarin, tapi yang paling membuat saya terkesan adalah tentu kawan-kawan peserta KEM 2013. Mereka berasal dari berbagai kampus di Indonesia, mempunyai logat bahasa yang berbeda satu sama lain, latar belakang sosial yang berbeda, serta berasal dari kelompok SARA yang beragam.

Saya akui, saya lebih banyak belajar dan mendapatkan perspektif baru tentang keindonesiaan bukan dari berbagai materi-materi yang telah diberikan oleh JJ Rizal, Rocky Gerung, Mbak Niniel, Jaleswari Pramodhawardhani, Arif Zulkifli, Wisnu Wardhana, dan pemateri-pemateri lainnya. Justru saya mendapatkannya dari teman-teman saya, 24 peserta KEM Menjadi Indonesia 2013.

Sebut saja sang juara “Menjadi Indonesia”, Rezza Aji Pratama. Dari pertama bertemu dengan orang ini, saya langsung berpendapat bahwa Rezza adalah orang yang berkarakter kuat. Pengalamannya-lah yang membuat dia menjadi orang yang berkarakter. Saya begitu terpesona ketika ia menceritakan pengalamannya hidup bersama dengan para petani-petani tertindas di tanah Sumatra, di kala mahasiswa-mahasiswa lain yang berlabel aktivis masih terpaku pada aksi-aksi di jalan yang tak mengundang simpati masyarakat. Dan pada akhirnya saya mengerti pilihan Rezza untuk lulus pada semester ke-13 bukan karena ia malas, tetapi realita di jalanan lebih membuatnya tertarik daripada sekedar onani wacana di bangku kuliah.

Lalu ada Ajoi, pemuda asal Tanah Papua. Jujur untuk pertama kalinya saya dapat berinteraksi langsung dengan orang yang berasal dari Papua. Dan Ajoi-lah yang mengubah perspektif saya selama ini tentang saudara-saudara saya di Papua sana. Saya belajar banyak dari Ajoi tentang filsafat.

Tak lupa juga Setya dan Naufil. Kedua orang ini mengajarkan saya bagaimana seharusnya seorang intelektual bersahabat dengan buku. Naufil pemuda asal Madura ini membuat saya kagum akan keistiqomahan-nya membaca buku di mana pun dan kapan pun. Terbukti selama dua minggu proses KEM, 4 buku dari 6 Buku yang diberi oleh Tempo Institute kepada seluruh peserta KEM telah khatam dibaca oleh Naufil.

Demikian juga dengan Setya, perempuan Jawa tulen ini menunjukkan kepada saya bagaimana ia bisa hidup dari buku. Pernah ia menceritakan pengalamannya yang menarik kepada saya, suatu ketika ia menang lomba menulis dan Setya mendapat hadiah sejumlah uang. Uang tersebut ia habiskan untuk beli buku, dan jika masih merasa kurang, Setya rela sampai berhutang kepada temannya untuk membeli buku.

Fitriana, seorang Muslimah asal Jawa yang kini bermukim di Tanah Borneo. Fitriana telah membuktikan kepadaku bahwa selama ini saya salah. Kesalahan saya adalah saya menganggap orang yang fundamentalis adalah orang sempit pemikirannya. Namun, Fitriana bukanlah seorang yang seperti saya maksud. Dia bukanlah seorang fundamentalis yang berlaku fanatik. Dan yang lebih membuat saya kagum terhadap Fitri adalah pilihan untuk menjadi seorang Muslim yang taat bukan berasal dari dogma-dogma kedua orangtuanya ataupun karena terpengaruh oleh kelompok-kelompok Muslim Fundamentalis. Ia memilih menjadi seperti itu karena proses yang panjang dan atas pilihannya sendiri. Salut!

Shere, gadis enerjik asal Jakarta ini mengajarkanku bahwa keluarga tak selamanya adalah keluarga biologis saja. Shere dengan sanggar anak akarnya telah membuktikannya pada saya. Shere telah menemukan keluarganya di Sanggar Anak Akar, membuatku bangga dan terharu.

Heru Joni Putra, mengajarkan saya bahwa kata-kata dapat menjadi senjata. Sastra merupakan hidupnya. Dilahirkan di Padang yang sangat kental akan budaya sastranya membuat hari-hari Joni di Sirnagalih disibukkan dengan menulis Puisi. Berkat Joni, saya semakin lebih mengapresiasi sastra Indonesia.

Yoni, pemuda Minang yang kuliah di IPB. Dari pemuda yang telah rajin jalan-jalan backpakeran ke luar negeri ini, saya belajar bagaimana manajemen waktu antara kuliah dan kepentingan pribadi dengan baik. Di sela-sela kesibukan proses Menjadi Indonesia, Yoni masih sempat menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya dengan sempurna, berbeda jauh dengan saya yang masa bodoh dengan kuliah dan terancam mengikuti jejak Rezza, kuliah 13 semester ( Semoga aja tidak sampai begitu).

Fikri, pemuda Syiah ini, mengajarkanku agar selalu terus menjadi orang yang “bodoh”. Bodoh dalam artian tak bosan bertanya tentang sesuatu yang belum kita pahami dan menjadi pendengar yang baik.

Cak Udin alias Shalahudin Al Madury, seorang Putra Madura teman sekelompok proyek KEM. Mengajarkan aku bagaiamana agar menjadi pemuda yang ceria penuh senyuman.  Di kala teman-teman kelompok kehilangan gairah dalam bekerja, cak udin datang dengan joke-joke yang membangkitan gairah kelompok kami. Ia bagaikan oase di Gurun Sahara.

Rikang, Arek Surabaya yang kini menjelama jadi Cah Jogja. Pemuda ini mengajarkanku agar selalu berkepala dingin dalam menghadapai segala sesuatu. Rikang dalam pengamatanku adalah orang yang selalu mengedepankan rasionalitasnya dan juga merupakan orang yang paling dewasa secara sikap maupun pemikirannya dibanding peserta-peserta lain di KEM 2013.

Jody Bhaskara, Bhaskaranya pake “BH”. Lelaki asal Bengkulu yang kini berdomisili di UI adalah seorang yang unik. Ia dapat menjelaskan ide-idenya yang brilian dengan sederhana dan menarik sehingga anak kecil yang mendengarnya pun akan mengerti. Konsep KISS (Keep It Simple, Stupid) nampaknya sangat dikuasai betul oleh Jody.

Begitu juga dengan kawan-kawan lainnya. Alpha, Guster, Suci, Fajar, Hala, Martin, Ririe, Britta, Tiwi, Umay, Benny, dan Ihram. Bukan maksud saya sengaja tak mendeskripsikan mereka seperti teman-teman yang sudah saya sebutkan di atas. Tetapi keterbatasan waktu selama di KEM membuat interaksi saya kurang dalam mengenal kepribadian dan ide-ide mereka yang khas dan unik. Saya butuh waktu lebih untuk mengenal semuanya lebih dalam. Seandainya waktu ditambah dua minggu lagi, semua peserta dapat saya tuliskan semua pada tulisan ini.

Mengenal mereka saya jadi lebih memahami diri sendiri dan tahu apa yang akan saya lakukan. Saya dapat melihat Indonesia dari sudut yang beragam, di luar sudut nyaman yang selama ini saya yakini sebagai Indonesia yang sebenarnya. Keberagaman Indonesia yang selama ini hanya saya baca dan tahu dari kampus, benar-benar saya rasakan dan nikmati di Sirnagalih.

Seperti kata Rocky Gerung pada malam puncak Menjadi Indonesia 2013 di Galeri Nasional. Ke 25 anak muda ini adalah orang-orang yang mebawa ide-ide perubahan besar bagi Indonesia. dan seandainya Jumlah IQ 25 anak ini digabung dan ditukar dengan jumlah IQ seluruh anggota DPR di Senayan, niscaya masih dapat kembalian karena saking kecilnya IQ anggota dewan kita.

Saya berharap, suatu saat nanti, entah esok, entah setahun lagi, entah 5 tahun lagi ataupun ketika Indonesia telah mencapai usia seabad, saya dapat bertemu Ke 24 sahabat-sahabat saya ini. Saya bertemu mereka dalam keadaan masing-masing telah menyebarkan virus Menjadi Indonesia di negeri ini dengan cara mereka masing-masing. Lalu, kami saling berbagi kisah.

 

Malang, 20 November 2013

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top