Tempo Institute
1 Comment

Membedakan Fakta dan Opini Jurnalistik

Dalam praktik jurnalisme, sering ditemui banyak hambatan dalam upaya verifikasi informasi di lapangan. Seorang jurnalis yang turun ke lapangan untuk menggali informasi atas sebuah kejadian, pasti akan dihadapkan dengan riuh informasi di sekitar kejadian tersebut. Seringkali, banjir informasi di tempat kejadian tersebut lebih sering membingungkan si jurnalis daripada membantunya menulis berita.

Satu kata kunci yang berlaku dalam situasi tersebut adalah obyektivitas. Prinsip ini menuntut metode pengujian informasi yang konsisten, juga transparansi dalam mengumpulkan dan menguji bukti-bukti. Hal ini penting agar bias personal dan kultural tak melemahkan akurasi hasil kerja jurnalisme.

Maka dalam pemberitaan tersebut pertama-tama adalah pandangan objektif tentang apa yang tejadi. Pendapat-pendapat dari berbagai macam sumber bisa dikesampingkan terlebih dahulu untuk mendapatkan fakta. Pencarian fakta bisa pertama-tama dilakukan dengan observasi sederhana dengan mengandalkan panca indra si jurnalis. Pertanyaan-pertanyaan awal seperti: apa yang sebenanya terjadi, bisa dijawab sementara dengan observasi atas apa yang terlihat di tempat kejadian, atau bagaimana kita menyajikan peristiwa itu secara “telanjang”.

Pandangan subjektif dari si jurnalis atas peristiwa tersebut memang sulit dihindari. Dalam kejadian tersebut bisa jadi ada perasaan personal yang timbul dari si penulis, misal, ketika melihat korban kecelakaan. Namun metode untuk mencapai objektivitas yang dipraktikan itulah yang obyektif, bukan jurnalisnya. Metode itu merupakan penangkal seketika bagi masuknya unsur opini–juga spekulasi, klaim, dan retorika. Dengan contoh penyampaian kejadian seperti di atas, subjektivitas dari jurnalis bisa diminimalisir.

Namun fakta itu tidak bisa berdiri sendiri dalam sebuah pemberitaan. Hal ini dikarenakan ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Pertanyaan pertanyaan tersebut sulit dijawab secara faktual karena si jurnalis tidak melihat sendiri proses kejdidan tersebut. Di sinilah opini diperlukan untuk membantu fakta yang belum lengkap tersebut.

Opini  yang biasa didapatkan dari para sumber di sekitar lokasi kejadian ini tentu tidak mewakili keseluruhan kebenaran. Tetapi paling tidak opini-opini tersebut dapat memberikan tambahan gambaran peristiwa pada pembaca karena keterbatasan penggalian fakta.

Dalam pemuatan opini-opini tersebut demi memperkuat fakta, kehati-hatian sangat diperlukan. Opini yang muncul bisa jadi malah membiaskan fakta. Ini sangat mungkin terjadi jika terdapat kepentingan tertentu dalam pengungkapan kebenaran peristiwa. Hal ini biasanya sering terjadi dalam kasus hukum yang akan menentukan bersalah atau tidaknya seseorang.

            Singkat kata, seorang jurnalis harus membekali dirinya dengan kemampuan membedakan fakta dan opini jurnalistik dengan melakukan observasi lapangan dan verifikasi data dengan baik. Dalam penulisan berita pun, terdapat metode yang harus dipatuhi untuk dapat menyajikan fakta dan opini secara proporsional agar memudahkan pembaca dalam memahami kebenaran dalam sebuah peristiwa.

 

 

 

 

1 COMMENT
  1. laurentius soepomo

    singkat, padat berisi dan jelas. terima kasih boleh membaca.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top