Tempo Institute
No Comments

Brita Putri Utami – Kopi, Malam,dan Percakapan

Kopi, Malam,dan Percakapan

Brita Putri Utami

Kopi

Aku mengkhianati wacanaku sendiri. Ternyata tidak perlu berkas foto untuk membantu mengembalikan ingatan, atau menghadirkan photographic memory atas peristiwa-peristiwa lampau.  Kopi di depanku sudah cukup membuatku menjadi pengelana waktu selama sepersekian menit. Kopi ini memang kopi yang berbeda dengan kopi yang kumiliki pada 15 Oktober lalu. Kopi 15 Oktober lalu di Wisma Tempo Sirnagalih adalah kopi yang asing, penasaran, dan tetap pahit. Sore itu aku bersama 27 sebayaku basah dan kumal karena selama hampir dua jam kami ada di dalam angkotan kota yang sesak untuk menuju Menjadi Indonesia.

Malam itu malam yang baik dengan kopi yang masih pahit. Kami ber-27 akrab dengan sendirinya karena seharian ini kami benar-benar dipaksa untuk bersama dan saling mengenal. Perjalanan Jakarta menuju Bogor dengan metromini, KRL dan angkot memberikan kesempatan bagiku untuk mengenal sebagian dari mereka. Setya, peserta KEM yang juga berasal dari Solo, memberikan kesan pribadi yang hangat namun dalam, serius dengan penuh art, buku tak pernah lepas darinya bahkan saat ada di dalam angkot.

Benny, pribadi ramah dan ceria, sekaligus  teman sekelompok perjalananku, Alfa atau Ria (kalau tidak salah nama itu yang aku kenal saat pertama kali berkenalan), gadis Jakarta berpostur kecil , dan Shere, seorang perempuan Jakarta yang amat berkarakter, dan Rianto, mahasiswa kecil asal Universitas Negeri Jakarta, empat orang itulah yang membawaku ke Wisma Tempo Sirnagalih, untuk menikmati kopi pahit ini.

Kopi-kopi pagi setelahnya juga tetap pahit. Keriangan di sekitarku lah yang membuatnya lebih manis.  Sapaan selamat pagi saat sarapan adalah salah satu momen yang dirindukan kopiku sepulang dari KEM. Kopi yang asing, lalu berubah menjadi kopi yang penasaran, lalu kopi yang Indonesia, kopi yang hangat, kopi yang lelah tetapi bahagia, kopi yang mau belajar, dan kopi yang sedih karena perpisahan. Kopi yang asing dan penasaran adalah kopiku saat dua hari ada di KEM. Sedangkankopi yang Indonesia adalah kopi yang otentik karena hari itu kami mencicipi kopi dari seluruh Indonesia, kopi hitam pagiku di KEM menemukan asalmuasalnya. Bahkan pahit kopi Indonesia masih menempel di lidahku sekarang.

Kopi juga ada saat aku berbincang dengan Heru dan Setya. Kopi ada di antara kami bertiga saat Heru bercerita tentang kedai kopi di Padang, rumah tinggalnya. Gaya bertuturnya yan pelan tapi pasti membuatku dan Setya mendengarkan dengan khuyuk.

Ada kopi saat berbincang dengan Fikri, sahabat baruku  yang unik yang membaca Marx saat sekolah dasar. Kopiku agak dingin, tapi obrolan kami masih hangat karena tidak ada yang lebih menarik untuk membincangkan buku yang kami baca, atau isu matakuliah yang hampir mirip.

Kuberitahu kau satu hal, kopi KEM tak pernah sama dengan kopiku setelahnya. Kopi selama KEM selalu pahit tapi manis dengan kenangan yang ada di dalamnya, pekat namun cair karena suasana, hitam namun berwarna dengan keberagaman kami.

Malam

Malam ini juga tak seperti malam beberapa bulan yang lalu. Malam yang asing, itu biasa. Pertama, malam yang asing bisa berarti kau sedih amat sedih sekali lalu kau melampiaskan kemarahanmu dan kesedihanmu sampai kau meninggalkan dirimu sendiri. Malam menjadikanmu asing, dan kau menjadikan malammu asing. Atau bisa juga, malam yang asing adalah saat kau tidur di tempat yang tidak biasa kau tiduri, kau tidur bersama orang-orang asing.

Malam yang asing adalah malam pertama KEM. Aku tidur sekamar dengan Tiwi, Fitri, dan Gea. Tiwi, gadis paling bungsu di KEM asal Surabaya, seranjang  di lantai atas dengan Fitriana, perempuan Jawa yang lama tinggal di Kalimantan. Sedangkan aku, sekamar dengan Gea, mahasiswa Filsafat UI yang juga juara KEM tahun lalu, banyak cerita tentangnya kudengar dari kawanku di Jogja.

Keasingan yang aneh, sekaligus keinginan untuk kenal lebih dekat mewarnai malam pertama itu. Kupikir sekadar basa-basi dengan Tiwi dan Fitri penting untuk melanjutkan hubungan selama dua pekan ke depan. Dan benar saja, aku merasa tidak pernah merugi berhubungan dengan mereka.

Malam selanjutnya di KEM adalah malam yang khusyuk, dalam, dan intim. Kami menulis buku refleksi, menumpahkan semua rasa setiap hari. Menerjemahkan rasa ke dalam kata, menuntut kami untuk diam, merenung, dan mengeja. Malam yang hening menyediakan waktunya untuk kami  untuk mengendapkannya dalam kata.

Malam yang memanusia. Malam itu kami berkumpul, membahas kepergian Rianto. Sebagian dari kami menghendaki Rianto untuk tetap tinggal, rasa tidak terima salah saeorang dari kami harus pulang berdiam di dalam pikir masing-masing. Sebagian dari kami lebih banyak diam. Sebagian lainnya menyeimbangkan rasionalitas dan rasa, bahwa harus ada yang dipertanggungjawabkan tanpa menghilangkan rasa keterikatan satu sama lain.

Malam yang pagi. Semangat kami saat menyiapkan  pertunjukkan saat malam penganugerahan benar-benar besar. Aku kagum dengan teman-teman KEM. Mereka dengan ide-ide besar orisinal, keberpihakan kepada yang tertindas, dan kemauan untuk belajar yang keras tidak melupakan kesenian. Konsep Saneri untuk menyatukan kami dalam bingkai pertunjukan beragam daerah dari seluruh Indonesia sangat patut diapresiasi.

Nyanyian “Yo prakanca dolanan ing njaba, padang bulan padange kaya rina,” (Ayo kawan main di luar, sinar rembulan sinarnya seperti mentari” adalah lagu pengiring kami. Aku merasa bulan benar-benar melindungi kami, seperti sinar mentari pagi.

Malam yang hangat. Perpisahanlah yang membuat aku selalu mersa penting untuk mengingat orang-orang. Bahwa suatu saat kita akan saling berpisah dan berakhir sendirian. Seperti malam itu, kita akan kembali dan menikmati perjalanan sendirian ke kota masing-masing. Kami semua berpesta, menari, menyanyi, bergandengan tangan seperti tidak akan ada malam lagi setelahnya.

Kau bisa bayangkan, gelak tawa, nyanyi bersama, rasa syukur yang tiada tara karena kami dipertemukan bisa berubah seketika saat seseorang di sebelahmu mulai menangis karena akan bertemu dengan perpisahan? Menang –kalah tidak ada dalam percakapan kami. Hangat, peluk menuju pisah menguatkan ikatan kami. Ide kami dan kebersamaan kami tidak akan berhenti di sini. Menjadi Indonesia harus tetap hidup setelahnya.

Percakapan

Kau bisa bayangkan kehidupan manusia bila tanpa bercakap-cakap dan berdialog. Pasti akan tragis dan melelahkan, bukan? Setiap orang harus punya ilmu telepati, atau ilmu menebak pikiran lawan bicaranya. Kau bisa-bisa kurus karena pekerjaanmu hanya menebak-nebak. Maka dari itu, manusia bercakap dengan manusia lain, untuk menjaga kewarasannya menjadi manusia, untuk membuat ikatan-ikatan dalam kehidupan. Aku merekam beberapa percakapan dalam ingatan, mungkin terlalu banyak di kepala, tak muat jika kutulis semua di sini.

Aku dan Gea menghidupkan percakapan kami dengan satu topik yang sama-sama menggelisahkan kami berdua. Tentang pribadi, agama, identitas, perempuan, dan hal-hal lain. Percakapan itu membawaku banyak bercakap dengan diriku sendiri, bahkan setelah KEM. Percakapanku dengan Fitri dan Tiwi selalu membawa perasaan bersyukur atas keberagaman. Kami semua ber-27 mungkin mempunyai prinsip-prinsip sendiri yang harus dipegang teguh, namun prinsip itulah yang selalu membuat kami terbuka dan belajar terus menerus.

Percakapan dengan Setya selalu membekas. Pilihan diksi yang bernas selalu mewarnai percakapan kami. Aku ingat dia selalu mengingatkanku untuk membaca,menulis,dan berbagi ilmu.  Perbincangan dengan  Suci juga demikian, pribadinya yang hangat dan bersahabat membuat aku ingin membuat percakapan-percakapan setelahnya.

Aku, Fikri, dan Rezza, pernah bercakap-cakap di depan Wisma Tempo Sirnagalih. Percakapan kami tentang kegelisahan masing-masing bahwa sekeliling kami tidak sedang baik-baik saja, dan kami harus melakukan sesuatu, kritik dan praktik. Perbincangan, berbagi dalam kelompok sharing dalah salah satu dari kerinduan akan KEM. Kak Mata  Tiwi, Fajar, Heru, Yoni, Fikri, Wan Ulfa, dan aku memberikan pelajaran yang banyak. Belajar mengutarakan rasa penting untuk mendidik kita menjadi manusia yang memanusiakan diri kita sendiri dan orang lain.

Percakapan dengan kelompok proyek selalu mendatangkan kerinduan. Aku, Setya, Ririe, Ajoi, dan Jody selalu membawa kegembiraan yang meluap-luap.  Keceriaan Ririe, kehangatan Setya, Ajoi yang ramah dan Jody yang menyenangkan menghidupkan kelompok kami. Kami bahkan pernah merayu Ajoi untuk menngajak kami jalan-jalan ke Papua. Ketawa Ajoi yang lucu bahkan sampai sekarang masih bisa membuatku tertawa saat mengingatnya.  Jody, kami dekat seperti saudara, tingkah kekanakannya memang sangat dominan saat KEM, tapi kau belum pernah menyelam dalam kepadanya, kan? Dia bisa bijaksana di luar bayangan orang-orang.  Ah, terlalu banyak percakapan yang tak bisa kumuat dalam tulisan ini.

Percakapan yang bertemu dan berpisah. Perpisahan tentu membuat kami bersedih, aku merekam percakapan perpisahan dengan Guster yang ada di balik taksi berurai air mata menginginkan kami semua akan bertemu kembali. Percakapan dengannya memberikan harapan-harapan, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan, tempat yang harus kami kunjungan, dan pertemuan-pertemuan yang membuat kami terus belajar.

Tulisan ini bukan sebuah elegi. Hanya sebuah rangkaian kata, kalimat, dan frasa untuk membuat  pertemuan kami abadi dalam tulisan. Pekerjaan menjadi Indonesia tentu tidak berhenti saat Mbak Mardiyah memberikan penutup, proses menjadi Indonesia tetapi berjalan dengan kehidupan kami masing-masing. Terima kasih untuk semua keluarga KEM untuk kopi, malam, dan percakapan yang otentik selama dua minggu yang berharga.

Tulisan ini untuk semua.  Untuk Asep Andi, Athirpin Halawiyah, Benny Prawira, Fadrin Fadlan Bya, Fikri Disyacitta, Fitriana, Guster C Sihombing, Heru Joni Putra, Ihram Hamzah, Jody Bhaskara, Martin Rambe, May Rahmadi, Muh. Fajar Putranto, Naufil Istikhari, Rahma Yulia Prastiwi, Raymundus Rikang Rinangga, Rezza Aji Pratama, Rianto,Rielya Alfa Florianti, Ririe Rachmania,Saneri, Setyaningsih, Shalahuddin Al Madury, Suci Amelia Harlen, Yohanis Ajopi, dan Yoni Elviandri. Juga untuk Kak Gregorius, Kak Permata, Kak Elsa, Gea, Gus AA, Mas Badawi, Kak Wan Ulfa, Kak Respati, Kak Izom, KakEci, Kak Mitha, Kak Etha, Pak Kepsek Andy K Yuwono, dan Mbak Mardiyah yang selalu menginspirasi.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top