Tempo Institute
No Comments

Bersua Dengan Bhinneka

Oleh: HAPSARI KUSUMANINGDYAH – UNIVERSITAS INDONESIA

Rangkuman:

Konflik yang terjadi atas nama perbedaan memunculkan sejumlah kegelisahan tersendiri akan makna persatuan dalam keberagaman. Bhinekka Tunggal Ika yang selama ini menjadi semboyan kehidupan berbangsa dan bernegara dicari keberadaanya, secuil perayaan Imlek di kampung Sudiroprajan dianggap penulis sebagai salah contoh peristiwa yang merefleksikan Bhinekka Tunggal Ika. Perayaan ini menggambarkan sebuah tujuan superordinat bagi kedua belah etnis untuk saling bertemu dalam kedamaian, bila dianalogikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebuah tujuan superordinat juga perlu di desain guna mencipta sebuah tujuan yakni persatuan.

 

——————–

 

Perkenalan saya dengan Bhinneka Tunggal Ika  bermula  di bangku sekolah dasar ketika menghafal lima sila Pancasila berserta isi gambar Burung Garuda merupakan sebuah kewajiban. 15 belas tahun lalu saya masih mempertanyakan apa pentingnya pelajaran tentang “persatuan” ini, yang disajikan secara membosankan dan di kemas dalam narasi panjang yang tak tahu rimbanya dengan kehidupan. Namun kini saya sangat rindu akan makna pelajaran ini, ketika sering sekali saya dengar berita mengenai konflik antar suku, etnis, dan agama. Konflik Syiah dan Sunni di Sampang di Madura, Teror Bom di Solo, Kampanye berbumbu sentimen agama  menjelang Pilkada DKI, tawuran antar pelajar sekolah hingga konflik-konflik berbau sentimen suku, etnis, agama dan antar golongan. Semua peristiwa ini membuat saya sangat rindu, rindu untuk bersua dengan “Bhinekka Tunggal Ika” yang sebenarnya.

Adalah seorang siswa taman kanak-kanak yang membantu saya untuk berjumpa dan melihat apa itu Bhinnekka Tunggal Ika. Wahyu, bocah TK  berusia 4  ini mungkin tidak tahu, apa itu arti persatuan dalam keberagaman, toleransi antar suku,ras, dan agama. Namun di sudut-sudut  rumanhnya,di tiap gang sempit dikampungnya di Sudiroprajan ada semerbak  aroma  keberagaman dan keharmonisan yang berusaha dijaga oleh penduduknya yang mayoritas etnis Jawa dan Tiong Hoa. Wajahnya sangat sumringah saat menyambut Imlek, walaupun dia tidak secara langsung merayakan Imlek karena  Bapak Ibunya merupakan seorang muslim turunan Jawa. Sepupu kecil saya ini selalu membawa cerita gembira tiap Imlek tiba. Dialah yang menceritakan tentang senangnya mendapat angpaou merah, melihat arak-arakan parade kebudayaan, pertunjukkan Liong dan Barongsai yang meriah, dan gunungan kue keranjang.

Seluruh narasinya tentang Imlek ini menjadi indah walaupun disajikan terbata-bata karena naratornya saja baru baru belajar bicara. Narasi Wahyu tentang Grebeg Sudiroprajan merupakan secuil kisah romantis tentang persatuan. Sebuah perayaan yang ihwalnya milik orang Tiong Hoa namun turut di semarakkan oleh orang Jawa. Tidak hanya di isi oleh  Barong Sai dan Liong saja, namun juga di percantik dengan pertunjukkan tari Manggala Yudha. Semua berbagi, menari dalam persatuan, bahkan Gunungan yang merupakan ciri khas perayaan adat Jawa pada akhirnya menurut untuk dikawinkan dengan kue keranjang. Ceritanya tidak berhenti sampai situ saja, namun berlanjut ketika saban hari yang dia sambangi adalah teman-teman mainnya yang bermata sipit, budhe dan buliknya yang beragama Katholik hidup damai walau tinggal satu atap dengan bapak ibunya yang muslim. Semua cerita bocah kecil tentang perbedaan itu merupakan sebuah gambaran kecil, sebuah subsistem dari sebuah kehidupan kampung di Sudiroprajan di kota Solo yang merefleksikan semboyan Bhineka Tunggal Ika

Sebuah Persatuan Bukan Kesatuan

Sebuah pesan singkat dalam sebuah frasa Bhinekka Tunggal Ika  ternyata menyeret sebuah narasi panjang bernama “persatuan”. Nilai bernama “persatuan” ini sudah berusaha di doktrinasi kepada para anak-anak sejak dini,  melalui mata pelajaran kewarganegaraan. Didalamnya terdapat instruksi untuk menghafalkan kelima sila beserta berbagai pasal tentang kenegaraan dan terkadang stuktur mengenai pemerintahan. Namun esensi nilai persatuan ini seakan kabur, karena di kubur oleh kesalahan pemaknaan akan kata persatuan itu sendiri.

Segala nilai persatuan pada akhirnya di reduksi ke dalam kata keseragaman dan kesamaan yang berarti bahwa hanya ada satu nilai yang benar dan di legitimasi. Dahulu sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar Bapak Guru mengajarkan kami untuk mengasihi “sesama”. “Sesama” yang sama agama, sama sukunya, sama bahasanya, sama pemikirannya, sama kelompoknya.  Saya ingat bagaimana Bapak Guru menceritakan baiknya agama dan suku kami namun tidak pernah menyingung perihal kebaikan dari kelompok lain. Kami tidak diedukasi untuk tahu atau mengerti ada agama lain di luar agama kami, yang saya ingat hanya kalimat “YANG LAIN KAFIR”. Semua yang makna persatuan jadi kabur karena berisi ajaran tentang dominasi, hegemoni, kesenangan akan subordinasi, dan minimnya pengetahuan akan eksistensi kelompok lain.

Padahal Menurut Fromm  dalam bukunya The Art of Love konsep  persatuan dan konsep kesetaraan dapat dibahas dalam konteks cinta kasih antar sesama.  Cinta inilah di cirikan dengan minimnya ekslusivitas karena adanya perasaan kesetaraan merasa sama-sama menjadi manusia. Inilah yang mendasarkan manusia untuk saling mengambil tanggung jawab, menolong, membantu, dan menghargai sesama manusia (Fromm,1956). Bahkan konsep kesetaraan dan persatuan ini mendapatkan tempat dalam konteks religiusitas bahwa kita sama-sama hamba Tuhan sama-sama manusia yang di ciptakan olehnya. Kesetaraan sekarang telah berubah menjadi keseragaman bukannya persatuan “ atau rasa menjadi satu”(Fromm,1956).

 

Anasir Perjalanan Bangsa

Runyam segala runyam, karena semboyan bangsa jadi kabur dan tak tahu rimbanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal ihwal semboyan Bhinekka Tunggal Ika lebih tua dibandingkan ihwal negara kita, karena 800 tahun yang lalu jauh sebelum Pancasila lahir, kalimat itu telah tertulis dalam sebuah kitab Purusadha Santa atau yang lebih di kenal dengan kitab Sutasoma di zaman Majapahit. Semboyan ini bukanlah sekedar rangkaian frasa atau gantungan kaki burung garuda, tapi juga sebuah refleksi sejarah Nusantara. Hubungan antara agama Budha dan Hindhu yang harmonis saat itulah yang mengilhami sang penulis Empu Tantular untuk menggambarkan bagaimana persatuan dapat di bangun dalam pondhasi yang beragam.

Bahkan sebelum teori multikulturaisme yang popular dari Kanada 50 tahun yang lalu lahir, semboyan “Bhinekka Tunggal Ika” yang isinya hampir sama sudah mbrojol terlebih dahulu ke Bumi Nusantara. Semboyan ini telah di tempa oleh ratusan peristiwa sejarah, pergantian dinasti kerajaan, peperangan, kolonisasi dan akhirnya  berhasil mencuri perhatian para panitia  persiapan kemerdekaan Indonesia. Semboyan ini adalah sebuah refleksi panjang perjalanan sebuah bangsa yang dulunya berasal dari chauvinis-chauvinis kecil kerajaan-kerajaan, dari pecahan berbagai suku, budaya dan agama yang beragam.

Beban sebuah Konflik

Sebagai sebuah landasan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Bhinekka Tunggal Ika  seharusnya dapat hadir dalam keseharian kita, untuk itu memerlukan usaha para manusia-manusia Indonesia untuk menjaganya. Namun nyata sangat sulit hanya untuk bersua dengan Bhinekka Tunggal Ika di “alam”Indonesia. Tumpukan kesedihan mulai tumpah ketika banyak sekali konflik terjadi atas nama perbedaan mencuat. Larangan beribadah bagi umat minoritas  beragama tertentu seperti Ahmadiyah, konflik suku yang tak berkesudahan di Poso dan Papua, saling serang mulai dari pelajar hingga mahasiswa, sampai cerminan pesta demokrasi yang di gentayangi dengan isu SARA. Selain menyita perhatian, konflik-konflik ini seakan lingkaran setan yang tak ada habisnya diulang dan di bumbui dengan korban, kematian, darah, isak tangis, kerugian fisik dan psikologis. Berapa harga yang harus kita bayar untuk konflik atas nama perbedaan, berapa rumah yang harus dibakar? Berapa pemuda yang harus meregang nyawa karena paradigma primordial kesukuan, kegamaan,keanggotaan, atau apapun itu namanya. Konflik-konflik ini merupakan sampah tersendiri bagi arus kemajuan bangsa, hitung saja berapa energi yang kita habiskan untuk memikirkan hal-hal yang kontraproduktif ini.

Mencipta Sebuah Tujuan Superordinat

Seorang psikolog sosial bernama Sherif tahun 1961 pernah melakukan sejumlah eksperimen mengenai dinamika kelompok (Forsyth,2010). Ada 2 kelompok yang di desain oleh untuk saling bermusuhan dalam sebuah setting tertentu yakni kompetisi dan sabotase. Namun di tengah jadwal yang telah di rencanakan,eksperimen hampir di hentikan karena hasilnya melebihi apa yang di harapkan. Kedua kelompok ini telah berkonflik sedemikian hingga hingga memunculkan tindakan kekerasan. Pada akhirnya sebuah resolusi di ciptakan yakni dengan membuat sebuah tujuan superordinat bagi kedua belah kelompok. Eksperimen terhadap kelompok ini adalah salah satu contoh bagaimana sebuah konflik dapat di desain karena adanya rekayasa dan manipulasi akan “perbedaan” namun juga tidak menutup kemungkinan untuk diselesaikan dengan sebuah tujuan bersama yakni tujuan superordinat.

Kembali ke narasi Wahyu, bahwa sebuah tujuan superordinat bagi kedua belah kelompok dapat mempererat hubungan antara dua kelompok. Misalnya antara etnis Jawa dan etnis Cina di kampung Sudiroprajan yang akhirnya memiliki sebuah tujuan bersama. Merayakan Imlek dengan menggabungkan kedua unsur budaya, dan mengajak segenap etnis yang berada disana untuk turut memeriahkan Imlek. Dari sebuah bingkai kecil kehidupan di kampung Sudiroprajan membawa sebuah pesan besar akan persatuan. Persatuan akan sebuah bangsa yang tersusun atas enigma-enigma suku bangsa yang berbeda, walaupun berbeda sebenarnya kita semua sama, sama-sama manusia, manusia Indonesia!

 

Daftar Pustaka

Forsyth, D. R. (2010). Group Dynamics. Belmont: Cenggage Learning.

Fromm, E. (1956). The Art of Loving. New York: Harper & Row Publisher.

Purwadi, D. (2007). Sejarah Raja-Raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa. Yogjakarta: Media Abadi.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top