Home   Blog  
Kiat

  Kamis, 22 Pebruari 2018 07:54 WIB

Sembilan Ya dan Tidak untuk Siaran Pers yang Efektif

Author   admin

koran dan laptop

Bagaimana pentingnya fungsi kehumasan bagi perusahaan, kata-kata Bill Gates ini patut dicamkan: “Kalau uang saya tinggal sedolar lagi, saya akan gunakan untuk kehumasan.”

Kegiatan kehumasan atau public relations pada dasarnya adalah investasi untuk melindungi, merawat, membangun, dan mengelola reputasi perusahaan. Gates, pendiri Microsoft Corporation, menyadari hal ini. Karena itu, dia sepenuhnya yakin bakal membelanjakan duitnya yang tersisa untuk keperluan kehumasan.

Siaran pers merupakan senjata ampuh bagi humas untuk membangun dan mengelola reputasi perusahaan. Ongkosnya pun murah. Staf kehumasan hanya perlu dibekali keterampilan menulis. Keterampilan ini penting agar mereka mampu membuat siaran pers bernilai berita, yang sekaligus enak dibaca dan mudah dipahami.

Tempo Institute melihat sekurang-kurangnya ada sembilan hal yang harus dan jangan dilakukan ketika menulis siaran pers. Apa saja? Berikut ini perinciannya.

Lakukan

1. Eye catcher

Buatlah judul sebagai eye-catcher. Judul berita harus menarik perhatian wartawan, membuatnya ingin tahu lebih banyak.

2. Lead memikat

Kalimat atau paragraf pertama (lead) harus mampu memikat pembaca. Tulislah secara ringkas dan padat apa yang sedang terjadi.

3. 5W + 1H

Menjelaskan informasi 5W + 1H secara jernih: siapa (who), apa (what), kapan (when), di mana (where), mengapa (why), dan bagaimana (how). Tujuannya agar pembaca memahami konteks yang sedang disampaikan perusahaan.

4. Narahubung

Tulislah secara lengkap nama, jabatan, email, dan nomor telepon. Informasi ini akan memudahkan wartawan untuk meminta konfirmasi, bahkan mendalami siaran pers yang diperolehnya.

5. ###

Letakkan tanda “###” sebagai penutup siaran pers. Tanda tiga pagar yang diletakkan di bagian tengah pada akhir tulisan lazim digunakan dalam jurnalistik.

Jangan Lakukan

1. Jangan gunakan kata-kata yang sia-sia

Hindari kalimat dan paragraf yang panjang-panjang. Hindari pula pengulangan dan jargon atau istilah yang hanya dimengerti oleh kalangan terbatas.

2. Jangan blast

Jangan mem-blast siaran pers yang sama ke semua media. Susun siaran pers untuk media spesifik, bahkan reporter yang spesifik meliput bidang Anda. Info tentang hal ini bisa dicari di website masing-masing media.

3. Jangan kirim hasil scan

Jangan memindai (scan) siaran pers dan mengirimnya dengan format jpeg. Itu membuang-buang waktu redaktur. Masukkan siaran pers ke dalam tubuh email, bukan sebagai lampiran. Jika terpaksa memakai lampiran, gunakan berkas plain text atau Rich Text Format. Dokumen Word boleh, tapi simpanlah dalam doc.

4. Jangan lelah belajar

Menjadi praktisi humas yang mahir merupakan keuntungan yang tak ternilai. Tempo Institute menyadari hal ini dan karenanya mengajak peminat untuk Kursus Jurnalistik untuk Praktisi Humas di #belajarbarengTEMPO. Tempo Institute akan membagikan kiat-kiat merumuskan pesan-pesan kunci perusahaan yang bernilai berita dan mengemasnya menjadi materi. komunikasi yang menarik dan penting sebagai bahan publikasi melalui media sosial, laman perusahaan, dan media cetak. Klik tautan di bawah untuk mendaftar #belajarbarengTEMPO.

Klik di sini untuk mendaftar.

Baca juga : Badan Siber dan Sandi Negara Akan Gandeng BIN, TNI, Polri

Bagikan
WordPress Video Lightbox Plugin