Tempo Institute
No Comments

WAWANCARA dalam Reportase

Jurnalis punya tiga alat: riset, observasi dan wawancara, untuk menggali informasi. Kelengkapan dan kedalaman sebuah berita amat bergantung pada kecakapan junalis menggunakan ketiga teknik tersebut.

 

Ide tulisan seberapa pun bagusnya, hanya akan menjadi pepesan kosong jika tanpa diikuti penggalian bahan atau reportase. Seorang wartawan biasa menggunakan tiga alat untuk mengumpulkan bahan: riset, observasi atau pengamatan dan wawancara. Di Tempo, ketiganya teknik ini sama pentingnya, karena merupakan kesatuan yang saling melengkapi.

Mari kita bahas satu per satu…

Teknik Wawancara

Wawancara reporter Tempo di Gedung Tempo, 2015

Riset (klik)

Observasi (klik)

Teknik Wawancara

Teknik wawancara merupakan bagian dalam rangkaian teknik reportase. Wawancara membantu wartawan mengumpulkan informasi untuk merekonstruksi peristiwa atau kejadian. Agar memperoleh informasi yang terpercaya, detil dan akurat, jurnalis harus mewawancarai sumber yang tepat, yaitu pelaku, korban, saksi mata, atau pihak-pihak lain yang berwenang, seperti polisi, rumah sakit, pejabat pemerintah, dan lain-lain.

Sesungguhnya tak ada wawancara yang mudah. Kalaupun bukan karena materinya, kesulitan bisa terletak pada narasumbernya, misalnya dia bukan orang yang gampang ditemui. Karena itu, persiapan yang matang menjadi penting.

Semisal, pada kecelakaan pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 904 di bandar udara Ngurah Rai, Bali, April 2013. Kebanyakan media sulit mendapatkan wawancara langsung dengan Mahlup Gozali, pilot yang menerbangkan pesawat nahas tersebut. Wartawan Tempo, Ananda Badudu, selama tiga hari menyambangi kediaman si pilot sejak pagi buta hingga sore hari. Baru pada hari ketiga sang pilot menyerah dan bersedia diwawancarai.

Supaya wawancara menghasilkan bahan yang diinginkan, jurnalis wajib mempelajari semua informasi penting terkait hal yang hendak ditanyakan kepada narasumber. Jika itu berkaitan dengan satu peristiwa tertentu, maka si pewawancara harus mengetahui informasi dan data dasar peristiwa itu — 5W+H kejadiannya atau, jika menyangkut suatu masalah, apa yang sedang dibahas publik mengenai masalah itu — dan perkembangan terakhirnya.

Sedapat mungkin wartawan berusaha mendapatkan waktu khusus untuk mewawancarai nara sumber. Dengan demikian ada waktu yang cukup dan situasi yang kondusif untuk menggali informasi secara lebih mendalam dan konprehensif. Di Tempo, wawancara khusus ini biasa juga dilakukan dengan mengundang narasumber ke kantor.

Akan tetapi jika wartawan gagal mendapatkan janji, dia bisa melakukan wawancara mencegat atau doorstop interview. Syaratnya, tetap harus sopan dan menyebutkan nama medianya. Wawancara mencegat lazimnya hanya untuk pertanyaan-pertanyaan informatif dan konfirmasi yang membutuhkan jawaban segera. Kadang yang dibutuhkan hanya satu kutipan atau bahkan cukup jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’.

Agar bisa melakukan wawancara mencegat, wartawan perlu tahu di mana kira-kira narasumber yang dibutuhkan berada. Narasumber bisa dicegat di mana saja: di kantor, ketika sedang berolahraga, makan, atau bahkan saat menghadiri pesta. Lantaran waktu yang terbatas dan bisa berakhir setiap saat, dalam wawancara doorstop wartawan harus mengajuan pertanyaan yang lugas tanpa basa-basi. Pertanyaan juga perlu disusun menurut prioritas agar poin penting yang hendak ditanyakan dijawab lebih dahulu.

Dari segi teknik bertanya dan jenis informasi yang hendak digali, wawancara dapat dibedakan atas wawancara informatif, eksploratif, konfirmatif, dan konfrontatif. Keempat teknik ini bisa dipakai sekaligus dalam satu wawancara, bisa juga berdiri sendiri-sendiri, tergantung keperluan liputannya.

Yang pertama, wawancara informatif, dilakukan untuk mendapatkan penjelasan mengenai sebuah peristiwa atau masalah yang belum diketahui oleh wartawan. Biasanya wawancara jenis ini dilakukan untuk menggali informasi mengenai peristiwa baru atau lanjutan dari peristiwa yang sedang diberitakan (follow-up stories). Pertanyaan informatif dapat menggunakan pendekatan 5W + H. Misalnya: “Apakah jumlah korbannya sudah diketahui, berapa?”; “Di mana lokasinya? Kapan tepatnya pesawat itu jatuh?”; “Mengapa belum ada tim penyelamat yang dikirim ke lokasi?”dan seterusnya.

Berbeda dengan wawancara informatif yang bisa dilakukan kapan saja tanpa persiapan memadai, wartawan perlu mempersiapkan diri dengan baik untuk wawancara eksploratif, konfirmatif dan konfrontatif. Dalam wawancara eksploratif wartawan berusaha mendapatkan informasi yang lebih dalam, lebih lengkap, lebih detil mengenai peristiwa atau kasus tertentu.

Pendekatan dalam membuat pertanyaan sama dengan wawancara informatif, yakni menggunakan panduan 5W+H, tapi pertanyaannya lebih maju. Sederhananya, pertanyaan eksploratif merupakan lanjutan dari pertanyaan informatif. Maka, sebelum melakukan wawancara eksploratif jurnalis harus mengetahui fakta-fakta dasar terbaru dari peristiwa yang hendak digali lebih dalam. Pertanyaan eksploratif itu misalnya: “Anda mengatakan pesawat jatuh karena kerusakan mesin. Bisakan Anda menjelaskan kerusakan mesin yang dimaksud dan mengapa itu tidak terdeteksi dalam pemeriksaan sebelum terbang?”

Berikutnya wawancara konfirmatif. Wartawan melakukan wawancara ini agar mendapat perspektif yang lengkap mengenai peristiwa atau masalah yang akan diberitakan.

Wawancara konfirmatif sangat penting, terutama untuk liputan mendalam (in-depth reporting) dan liputan investigasi (investigative reporting). Tapi, dalam dua jenis liputan ini, wawancara konfirmatif biasanya “satu paket” dengan wawancara konfrontatif saat narasumber diminta untuk mengakui fakta-fakta tertentu. Dalam wawancara konfrontatif, wartawan sangat yakin bahwa fakta yang sudah dia dapatkan benar dan menantang narasumber untuk membuktikan sebaliknya.

Agar bisa melakukan wawancara konfirmatif dan konfrontatif dengan baik, wartawan harus benar-benar menguasai persoalan yang hendak dibahas hingga detil dan mengerti karakter narasumber. Ada narasumber yang lugas, yang bisa ditanyai apa saja dan menjawab apa saja dengan tenang. Tapi, ada pula narasumber yang sensitif, mudah marah, sehingga butuh pendekatan khusus agar wawancara bisa berlangsung baik.

Membuka percakapan dengan membicarakan hobi narasumber atau hal-hal yang menarik bagi narasumber, misalnya, bisa membantu mencairkan suasana sebelum wawancara dimulai. Demikian pula dengan melarikan topik pembicaraan kepada hal-hal ringan yang disukai narasumber dapat menjadi “obat penenang” manakala “tensi” wawancara mulai meninggi.

Dalam wawancara konfirmatif dan konfrontatif, pertanyaan sebaiknya dimulai dengan pemaparan fakta. Setelah itu wartawan harus siap untuk menanggapi jawaban narasumber dengan fakta baru dan pertanyaan baru yang menguatkan pertanyaan sebelumnya.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED ARTICLES

Back to Top