Tempo Institute
No Comments

“Bacalah Kudai” ( sebuah kisah taman bacaan di negeri antah berantah)

Oleh: ELSA RESTRIANA – UNIVERSITAS GADJAH MADA

 

Ringkasan:

Isi essay menceritakan tentang pengalaman si penulis sendiri sewaktu mendirikan  taman  bacaan di lokasi praktek kuliah kerja nyata ( KKN) penulis pada waktu itu. Penulis menemukan fakta bahwa sebenarnya bukan karena malas, orang Indonesia itu membaca buku, tetapi bisa jadi aset dan akses yang dibutuhkan untuk mendapatkan buku bacaan bermutu memang sangatlah minim. Penulis pun mengharapkan keberadaan Taman Bacaan  tidak hanya sebagai tempat membaca atau meminjam buku saja. Justru keberadaanya seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan nilai seni dan budaya kita ataupun tempat diskusi pertukaran ilmu dan pengetahuan.


 ———-

ayuk[1] mokase yoh buku-bukunyo, aku jadi men balek sekolah idak maen layangan lagi, mampir kudai ke sini, baco buku dulu ( ayuk, terimakasih yah buku-bukunya, sekarang tiap pulang sekolah aku tidak main layangan lagi, tapi mampir dulu kesini, baca buku dulu)

Saya bingung, terharu dan sekaligus senang mendengar perkataan anak kecil di hadapan saya barusan tersebut. Sebegitu tertarikkah anak-anak di desa ini dengan buku-buku bacaan yang saya bawa, sehingga mereka bisa melupakan sejenak permainan layang-layang mereka yang hampir dikata setiap hari sehabis pulang sekolah anak-anak disini menghabiskan waktu mereka untuk bermain disini. Padahal buku-buku yang kami bawa ini sebagian besar buku-buku lama yang diberikan secara cuma- cuma oleh perpustakaan kota Yogyakarta. Melihat mereka sampai sebegitunya hati saya terenyuh, saya tidak menyangka taman bacaan ini begitu dinantikan oleh anak-anak di desa ini.

Kejadian itu terjadi sudah lebih dari setahun yang lalu. Tepatnya di tahun 2011, di tahun itu untuk pertama kalinya saya melaksanakan praktek Kuliah Kerja Nyata ( KKN) yang diselenggarakan oleh pihak universitas saya. Program KKN itu sendiri merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa dan merupakan salah satu syarat kelulusan. Ketika itu saya ditempatkan di  kota Pagar Alam, provinsi Sumatera Selatan. Memang tidak banyak orang yang mengenal tempat ini atau mungkin malahan ada yang tidak menyangka kalau tempat ini ada di dalam wilayah Indonesia. Hal itulah yang saya alami, ketika banyak teman-teman lain yang menanyakan dimana lokasi KKN saya berada. Malahan ada beberapa teman yang mengatakan jangan-jangan saya ini sedang KKN di negeri antah berantah. Saya pun, walaupun orang asli Sumatera bahkan tidak pernah mengunjungi tempat ini, hanya mendengar namanya saja tetapi tidak pernah secara langsung dan sengaja mengunjungi tempat ini. Dikarenakan memang lokasinya yang cukup jauh dari kota Palembang sendiri dengan waktu tempuh kurang lebih 8 jam dari kota Palembang, belum lagi ditambah dengan medan yang terjal, kanan kiri curang, dan daerah perbukitan yang rawan longsor, sehingga membuat orang berpikir dua kali untuk mengunjungi daerah ini walaupun daerah ini sebenarnya menyimpan banyak potensi pariwisata di dalamnya, baik wisata alam, budaya, ataupun sejarah di daerah ini. Karena bisa dibilang daerah ini kaya akan peninggalan prasejarah zaman Megalithikum.

Tema program KKN yang diusung oleh kelompok saya ialah mengenai pengembangan potensi pariwisata. Saya dan 23 orang teman saya lainnya ditempatkan di Kelurahan Pagar Wangi, desa Tegur Wangi Baru. Kebetulan desa ini menyimpan salah satu peninggalan Megalithikum di dalamnya. Selain menjalankan program-program utama yang sesuai dengan tema di atas, kami pun menjalankan program tambahan di luar tema utama berbasiskan kepada pengabdian masyarakat. Salah satu program yang kami jalankan disana ialah program pembuatan taman bacaan. Program inilah yang nantinya akan mengantarkan kita kepada cerita di awal tadi.

Awalnya sebelum program ini dijalankan, saya dan teman-teman sempat pesimis, apakah program ini akan sukses, apakah masyarakat akan menerima, apalagi mengingat buku bacaan yang akan kami bawa nanti jumlahnya sangatlah minim. Pada waktu itu kami hanya mengandalkan sumbangan dari teman-teman di kampus, beruntung H-3 sebelum kami akan berangkan KKN, kami mendapatkan bantuan buku sebanyak dua kardus berukuran sedang dari Perpustakaan kota Yogyakarta walaupun buku-buku yang diberikan kepada kami merupakan buku-buku cetakan lama, tapi tidak apalah, toh setidaknya buku ini masih cukup relevan untuk dibaca hingga saat ini. Ketika program akan disosialisasikan ke warga pun kami pun mendapatkan kendala mengenai tempat atau lokasi yang akan dijadikan taman bacaan. Kami baru sadar bahwa untuk membuat taman bacaan dibutuhkan lokasi yang cukup mumpuni untuk dijadikan tempat menaruh koleksi-koleksi buku ini dan tempat yang nyaman untuk anak-anak ataupun orang dewasa yang ingin membaca buku ini. Beruntung, ada salah satu warga yang merelakan bagian bawah rumah panggungnya yang biasanya dijadikan sebagai gudang, beliau relakan untuk digunakan sebagai tempat berdirinya taman bacaan tersebut tanpa kami harus membayar ganti rugi sepeser pun, melihat bantuan dan dukungan dari masyarakat yang begitu besar. Saya optimis bahawa taman bacan ini akan diterima dan akhirnya setelah lokasi taman bacaan didapatkan, kami pun mulai mensosialisasikan hal ini kepada warga. Respon yang kami dapatkan pun sesuai dengan harapan kami di awal tadi. Taman bacaan ini pun kami beri nama “ Bacalah Kudai”. Kudai merupakan bahasa setempat yang sering digunakan oleh orang-orang setempat untuk mengajak orang-orang yang lewat di depan rumah mereka, untuk singgah atau sekadar mampir sebentar sambil minum kopi dahulu. Kurang lebih dapat diartikan sebagai “mampirlah dulu”,begitupun alasan filosofis kami memilih nama ini, kami sangat mengharapkan siapa saja yang lewat di depan taman bacaan ini dapat meluangkan waktunya sejenak untuk mampir sejenak sambil membaca buku walaupun belum ada secangkir kopi hangat yang menemani, tetapi setidaknya itu merupakan seruan kepada warga yang lewat untuk mampir sejenak kemari.

Tiga bulan pertama setelah kami meninggalkan lokasi KKN, kami masih sempat mendapatkan kabar dari pengurus taman bacaan tersebut sekaligus Karang Taruna setempat yang kami titipkan dan serahkan untuk menjadi pengurus taman bacaan tentang kondisi taman bacaan kami tersebut. Tapi setelah 6 bulan kami tidak mendapatkan kabar apa-apa. Setahun berlalu, tepatnya bulan juni lalu tepat setahun KKN saya. Saya pun menyempatkan diri untuk mampir lagi ke tempat KKN saya dulu, dari kabar yang saya dengar, taman bacaan itu memang sudah sepi peminatnya, oleh karena itu akhirnya pengurus Karang Taruna setempat mengambil inisiatif menjadikan taman bacaan tersebut sebagai lokasi PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini). Perasaan saya waktu itu bingung dan sulit sekali menjelaskannya, sedih iya karena taman bacaan itu menjadi lokasi PAUD, tetapi senang juga ada karena menurut pengakuan Karang Taruna setempat berkat taman bacaan inilah, ide untuk mendirikan PAUD di desa ini muncul. Mereka pun sebenarnya memang menyayangkan animo masyarakat terutama anak-anak disini terhadap taman bacaan semakin lama semakin menurun, mungkin memang karena kondisi buku yang lama tidak diperbaharui. Mereka pun sudah berusaha mencari bantuan kemana-mana tetapi sampai sekarang tidak ada bantuan yang turun, maka dari itu menurut mereka daripada taman bacaan ini dibiarkan mubazir begitu saja maka mereka mengubahnya menjadi PAUD. Lokasi PAUD ini pun dipindah, yang tadinya di taman bacaan “ Bacalah Kudai”, dipindah di dekat Madrasah Ibtidaiyah ( MI) di desa tersebut, kebetulan ada bangunan kosong bekas gudang di MI tersebut, yang kemudian setelah diperbaiki akhirnya dipergunakan sebagai lokasi PAUD tersebut dan “bacalah kudai” teronggok begitu saja di bawah rumah panggung warga.

yuk, yuk, ayuk kesini nak bikin taman bacaan lagi, ado buku baru dak yuk, kalo ado buku baru aku nak tiap balek sekolah nak ke “bacalah kudai” lagi”  ( yuk..yuk.ayuk kesini mau bikin taman bacaan lagi, ada buku baru gak, kalau ada nanti tiap pulang sekolah aku mau ke “ bacalah kudai “ lagi) ucap anak-anak kecil di desa itu dengan riang

Lagi-lagi saya hanya mampu menatap mereka satu persatu-satu dengan senyum getir saya katakan: “ nanti yah, “ bacalah kudai” jadi PAUD dulu, gek kalu ado buku baru, “bacalah kudai” pasti ado lagi. ( nanti yah, “bacalah kudai” jadi PAUD dulu, nanti kalau ada buku baru, “bacalah kudai pasti ada lagi)

Sepertinya, anggapan bahwa orang-orang Indonesia itu malas membaca buku, tidak semuanya benar 100% dapat kita percayai. Mungkin, bukan malas lebih tepatnya, tetapi akses dan kesempatan untuk mendapatkan buku bacaan yang bermutu dan berkualitas itu belumlah ada  dan menyentuh lini masyarakat Indonesia. Apalagi dengan kondisi wilayah Indonesia yang cukup luas. Masih banyak penduduk kita di belahan bumi Indonesia lain yang merindukan buku-buku bacaan segar sebagai makanan jiwa dan otak mereka. Taman Bacaan pun tidak semestinya dikonotasikan hanya sebagai tempat membaca dan meminjam buku belaka, tetapi tempat diskusi pertukaran ilmu dan informasi dapat terjadi di dalamnya atau mungkin sebagai pusat pelatihan kebudayaan dan seni. Itulah gambaran ideal taman bacaan yang saya harapkan. Tidak hanya tempat membaca buku, teapi juga pusat kegiatan edukatif di luar kegiatan formal anak-anak di sekolah. Ahh…andai itu terjadi yah untuk saat ini saya hanya mampu mengangankannya, walaupun mungkin di beberapa tempat mungkin sudah ada model taman bacaan seperti itu, tapi yah itu tidak semuanya dapat dijangkau oleh jutaan warga di Indonesia. Di Yogyakarta saya sendiri, saya sempat menemukan taman bacaan dengan model seperti itu, jadi di samping taman bacaan, di dalamnya juga ada sanggar kesenian dan keterampilan untuk anak-anak. Saya harapkan juga nantinya “ Bacalah Kudai” dapat berkembang menjadi seperti itu.

Sebelum saya pulang, salah satu pengurus karang taruna disana sekaligus pengurus taman bacaan disana mengatakan kepada saya, bahwa tahun depan “bacalah kudai” pasti akan ada lagi dengan lokasi yang sama dimana PAUD tersebut berdiri sekarang. Sambil tersenyum pahit dan getir, apalagi mengingat keadaan “bacalah kudai” sekarang,  saya katakan kepadanya untuk tidak usah menghibur saya. Dengan tegas, dia menjawab, bahwa apa yang dia katakan barusan bukanlah bermaksud menghibur tapi ini benar-benar janji karena bagi mereka “bacalah kudai” sudah mengubah segalanya di desa ini dan sudah menjadi bagian dari desa ini, “bacalah kudai” ada di hati warga di desa ini. Saya yang tadinya hanya tersenyum getir berubah menjadi ceria kembali, saya katakan kepadanya satu tahun lagi saya akan kembali kesini menagih janji yang dia ucapkan ke saya. “Bacalah Kudai” oh “Bacalah Kudai” kisahmu semoga tidak berakhir begitu saja dan saya harap akan ada kudai kudai yang lainnya di desa lain.

 

 


[1] Ayuk: panggilan untuk kakak perempuan di Sumatera Selatan

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top