TEMPO INSTITUTE
No Comments

Athirotin Halawiyah – KEM Menjadi Indonesia 2013: Sebuah Pencerahan

KEM Menjadi Indonesia 2013: Sebuah Pencerahan

Athirotin Halawiyah

Jam dinding di kamar beranjak pergi dari pukul 2 siang. Setumpuk buku di kamar menunggu untuk dibereskan. Dan ketika mata ini bersiborok dengan buku refleksi KEM 2013, bulir air mata seketika menderas …

Saya cengeng, tapi saya tahu ini bukan waktu langganan saya untuk menangis. Apalagi menangisi sesuatu yang  belum pernah saya tangisi. Saya menangis, karena bersyukur  berkesempatan belajar banyak di KEM 2013. Rangkaian peristiwa berkelebat di pelupuk mata, memanggil dan mengajak saya untuk mengingatnya. Telepon dari Mbak  Etha. 15 Oktober yang mendebarkan. Bertemu keluarga baru KEM. Hal-hal sepele yang kita lakukan. Obrolan ringan di sela-sela makan. Hingga diskusi serius tapi santai yang mencerahkan. Awarding night dan bagian yang paling saya benci, perpisahan.

Peristiwa-peristiwa tadi, sedikit banyak mengubah “dunia” saya. Pencerahan, mungkin kata itu yang paling mewakili apa yang saya rasakan setelah belajar di Menjadi Indonesia. Teringat ketika hari kedua di Wisma Tempo, masing-masing kami menulis mengenai harapan dan kekhawatiran berkaitan dengan Menjadi Indonesia. Saya ingat sekali, di kertas hijau itu saya menulis “pencerahan” dan “pengalaman” sebagai harapan. Dan kini, saya menyadari betul, bahwa itulah memang yang saya dapatkan. Thanks, God.

Satu pencerahan yang saya dapatkan, adalah kesadaran saya bahwa Indonesia bukanlah sekadar A, B, C atau D. Indonesia lebih dari itu. Bahkan, 26 huruf alphabet pun tak mampu mewakili keragaman unsur Indonesia. Budaya, bahasa, keyakinan, karakter, kearifan local, berapa banyak jumlah mereka, tak terhitung dengan keterbatasan jari manusia. Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Saya tidak tahu, apakah saya sayang Indonesia atau tidak sebelum itu. Saya tidak tahu,  apakah saya secara sadar mencoba menggali perasaan itu atau tidak sebelum itu. Tapi kini saya tahu, dengan perantara keluarga Menjadi Indonesia, saya mulai menumbuhkan perasaan sayang untuk Indonesia. Warna kalian menyadarkanku, kawan.

Mengikuti program ini, berarti melihat miniatur Indonesia bagi saya. Keragaman latar belakang dan pengalaman semua orang di KEM 2013, menjadi pengantar saya untuk mengenal Indonesia lebih jauh. Memang hanya miniatur, ruang-ruang kecilnya belum terwakili. Tapi itu lebih dari cukup untuk saya yang berlatar belakang keluarga dan pendidikan satu warna. Saya tak menyangka sebelumnya, akan bertemu dengan orang yang di mata lingkungan saya (atau yang didoktrinkan kepada saya), sesat. Siapa yang menyangka saya akan bertemu dengan teman syiah, atau gay. Segala diskusi, obrolan ringan, bahkan pertemuan itu sendiri mengajarkan saya untuk menjadi manusia yang lebih humanis, tanpa terkungkung sekat kepercayaan dan dalil-dalil. Prinsip saya tetap saya genggam erat, tapi keterbukaan juga mengambil bagian. Saya tak pernah menyangka, respon saya terhadap perbedaan-perbedaan itu sedemikian lenturnya. Jika ini bukan KEM 2013, mungkin saya tak selentur itu.

Menjadi Indonesia berarti menghargai perbedaan-perbedaan. Sebab, bukankah Indonesia sendiri tersusun dari ribuan, bahkan jutaan unsur yang berbeda? Saya tak hendak mendeklarasikan diri sebagai pluralis. Belum, saya belum mencapai itu. Tapi setidaknya, berkat KEM, saya mulai membangun pondasi untuk rumah perbedaan dalam pikiran saya. Saya mencintai Indonesia melalui perbedaan-perbedaannya sejak saya mengenal kalian semua di KEM. Berharap cinta saya ini membawa saya menuju langkah konkrit untuk Indonesia (dan saya galau gara-gara ini L). Biarlah, ketika sekelompok teman yang mendengar saya bercerita tentang pandangan saya mengenai perbedaan-perbedaan ini men-cap saya liberal (dengan konotasi negatif). KEM mengajarkan saya, jika saya masih memperdulikan cap-cap itu, maka saya diragukan kepantasannya menjadi bagian dari Indonesia. Lagipula, liberal itu perlu kok (dalam berpikir). Asal bukan liberal dalam bertindak (nanti saya bawa pentungan kemana-mana kan repot :D).

Ada satu gagasan dari KEM yang sangat melekat di pikiran saya. Dan hal itu baru saya benar-benar renungkan sepulang dari KEM. Produsen pikiran, betapa frasa yang pertama kali saya dengar dari Pak Rocky ini melahirkan sebuah pemahaman baru bagi saya. Bahkan ketika saya diwawancara untuk kepentingan majalah dinding di kampus, saya menggunakannya untuk mendefinisikan apa itu pahlawan. Saya teringat ketika sesi sejarah di KEM, Bang Jeje Rizal menyampaikan tentang R.A Kartini yang dengan pikiran-pikirannya mempengaruhi para pemuda ketika itu. Dan efeknya, dahsyat. Para pemuda tergugah untuk berbuat sesuatu demi kemerdekaan. Saya pikir masih banyak fakta-fakta semacam ini di luar sana. Maka, bukan sebuah hal yang utopis jika di masa kini, kita para pemuda Indonesia memproduksi pikiran (gagasan) dan akan berefek luas pada pembangunan Indonesia. Melihat keragaman latar belakang keluarga KEM 2013, saya rasa akan banyak sekali gagasan yang bisa dibagi kepada khalayak. Gagasan itu pun tidak seharusnya terbatas pada hal-hal yang terkesan “wow”. Sekecil apapun gagasan, dan ada usaha mewujudkannya, pasti akan memiliki impact. Butuh proses panjang, tentu saja. Tapi justru di situlah fase terpenting, berproses. Ah, lagi-lagi saya menggunakan istilah yang saya dapat di KEM, berproses. Rasa-rasanya sekarang pikiran saya separuhnya dipenuhi oleh segala input dari KEM (bahkan sering melamun tentang input KEM dan manusia-manusia ajaibnya di tengah kuliah). Tak apa, toh tidak ada input merugikan dari KEM (meski sesi dengan Mbak Ninil sekalipun, yang sedikit menimbulkan trauma bagi saya :D). Semoga input-input dari KEM ini bukan hanya memenuhi pikiran saya, tapi juga menggerakkan tangan dan kaki saya (dan kita semua) untuk berbuat sesuatu untuk Indonesia. Amin.

Pengalaman dan pemikiran sesama peserta pun, sedikit banyak mengubah gambaran Indonesia di mata saya sebelumnya, setidaknya melalui kacamata sesama peserta. Saya jadi tahu, bagaimana Indonesia di Papua, Kalimantan, atau Jakarta sekalipun, yang belum saya tahu. Saya jadi tahu, borok-borok Indonesia dimana dan bagaimana. Saya jadi tahu, mencintai Indonesia bisa dengan bermacam cara, termasuk marah dan kritis, dengan terselip harapan di dalamnya. Saya jadi tahu, masih banyak orang idealis dan tak egois di bumi pertiwi. Saya jadi tahu, pengorbanan untuk Indonesia bisa dengan bermacam cara. Dan saya jadi tahu, ada manusia ajaib yang mulai menggemari pemikiran Lenin saat kelas 6 SD (yang ini bercanda, peace Kak Fikri :D). Sungguh, kalian semua sangat menginspirasi. Lebih dari itu, saya jadi sadar, masih ada harapan untuk Indonesia. Indonesiaku, bisa saja dia sakit, lemah dan terpuruk sekarang. Tapi, masih banyak pemuda yang bersemangat, yang hatinya tertaut dengan Indonesia, yang lisannya tak henti berdoa untuk Indonesia, yang tangannya rela bekerja untuk Indonesia, dan kakinya tak berat melangkah jauh demi Indonesia. Dan bagi saya, itu lebih dari cukup untuk memelihara harapan untuk Indonesia lebih baik.

Ah, mata saya jadi berkaca-kaca lagi. Terjebak romantisme? Biar saja. Saya memang terjebak dan akan selalu terjebak pada romantisme KEM 2013 dan efek yang dihasilkannya. Terima kasih untuk kalian semua, keluarga KEM 2013. Saya sangat setuju dengan kata-kata juara KEM 2013, Kak Rezza. Dia bilang, “seandainya acara ini bukan kompetisi pun, acara ini tetap seru”. Memang benar, apalagi yang saya cari ketika indahnya persahabatan mengaburkan kompetisi? Dan apalagi yang saya cari ketika kalian, sebagai cerminan warna-warni Indonesia, membius saya untuk mencintai Indonesia? Mengadaptasi kata-kata  Tasaro GK dalam salah satu novelnya, jika ada perasaan yang lebih luhur dari cinta, maka perasaan itu adalah syukur. Dan saya bersyukur mengenal kalian, menjadi bagian dari keluarga KEM Menjadi Indonesia 2013. Kini, mata saya sudah basah. Saya merindukan hidup di tengah kalian.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top