Tempo Institute
1 Comment

Agar Riset Tak Berakhir di Kolong Meja

IMGL7787

Ariel Heryanto, profesor dari Australian National University saat diskusi di Tempo, Jumat 3 Juli 2015.

 

Tempo Institute – Tidak semua kebijakan di Indonesia dihasilkan dari riset terbaik. Mengejutkan memang, tapi fakta itu, menurut Ariel Heryanto terjadi sejak zaman Orde Baru. Pernyataan itu disampaikan kepada sekitar 40 peserta diskusi “Bagaimana penelitian dapat mempengaruhi kebijakan?” yang diselenggarakan Tempo Institute bersama Knowledge Sector Inisiative (KSI), Jumat, 3 Juli 2015 lalu.

Membaca kecenderungan itu, profesor dari Australian National University ini membagi pengalamannya agar hasil penelitian tidak sia-sia. Sejak aktif menulis populer di media, ia tidak banyak berharap tulisannya akan dibaca pengambil kebijakan. Tapi berharap “ditangkap” aktor-aktor yang bisa “berteriak” menyuarakan ide dan hasil risetnya. “Siapa tahu pengambil kebijakan akan terganggu,” katanya.

Ia mengatakan media, seperti Tempo, salah satu aktor yang dapat digandeng menyuarakan gagasan-gagasan peneliti. Karena itu kemampuan menyampaikan ide, gagasan atau hasil riset dengan bahasa yang bisa dimengerti banyak pihak, menurut Ariel menjadi penting. Tanpa kemampuan itu, peneliti Indonesia tidak bisa mempengaruhi banyak kelompok, termasuk media.

Tidak hanya Ariel Heryanto, peserta diskusi yang rata-rata peneliti, aktivis dan mahasiswa dengan beragam latar belakang itu, saat sesi tanya jawab, menyampaikan pengalaman yang sama. Nia Syarifudin, aktivis dari NGO Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, misalnya, menyampaikan pengalamannya menyuarakan hasil riset tentang Tempotensi ajaran radikal di sekolah-sekolah negeri beberapa tahun lalu. Meski banyak lembaga, seperti kampus, menyuarakan tentang benih ajaran radikal yang mulai muncul di dunia pendidikan, pemerintah tak kunjung mengambil sikap. “Setelah lembaga kami ‘cerewet’ membicarakan hal ini baru terlihat hasilnya dua tahun kemudian,” katanya. Jika langkah itu tidak dilakukan, ia menambahkan, “Nasib riset-riset bagus hanya akan berakhir di kolong meja pengambil kebijakan.”

Pengalaman yang sama disampaikan Hidayatut Thoyyibah dari Koalisi Perempuan Indonesia ketika mendorong pemerintah menaikkan usia minimal menikah bagi anak perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun. Penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait tinjauan hukum (judicial review) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, khususnya pasal 7 ayat 1 yang mengatur usia pernikahan anak menjadi pengalaman berharga.

Fakta hukum dan riset dampak kesehatan pernikahan di usia anak ternyata tak membuka mata pengambil kebijakan. Hakim pemegang palu tak bergeming. Mereka menolak “gugatan” itu karena alasan agama. Sebaliknya riset-riset lembaganya tentang isu perempuan dan anak lebih didengarkan pengambil kebijakan di tingkat pemerintahan lokal. “Judicial review itu bentuk kegagalan advokasi di tingkat nasional,” ungkapnya.

Mendengar penuturan itu, Elsa Restriana, salah satu staf Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang hadir ikut angkat bicara. Ia membenarkan fakta tidak banyak penelitian yang dimanfaatkan pemerintah karena banyaknya riset yang dilakukan masyarakat. Di sisi lain, pemerintah tidak memiliki lembaga riset yang cukup kuat. Ia mencontohkan di kementerian tempatnya bekerja.

Akhirnya, ketika membutuhkan data untuk merumuskan kebijakan, hanya berdasarkan data Badan Pusat Statistik. “Bukan berarti apatis dengan riset dari luar, tapi bagaimana harus menyikapi karena banyak sekali?” ujarnya.

Tidak hanya berbagi pengalaman tentang strategi mempengaruhi beragam kebijakan, diskusi yang berlangsung selama tiga jam menjelang buka puasa itu, Ariel juga menyentil soal kultur pendidikan yang tidak mendukung perkembangan dunia penelitian dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Ia menegaskan jika ingin maju dan mengejar ketertinggalan perkembangan ilmu pengetahuan dari negara India, misalnya, Indonesia harus mendesain pendidikan yang menanamkan kemajuan dan keadilan, selain inovatif dan berfikir merdeka.

IMGL7769

Para peserta diskusi “Bagaimana Riset Mempengaruhi Kebijakan” yang diselenggarakan Tempo Institute-KSI menghadirkan Ariel Heryanto, Jumat 3 Juli 2015.

 

 

Tagged with: , ,
1 COMMENT
  1. wakidul.kohar

    Inspiratif

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED ARTICLES

Back to Top