Tempo Institute
No Comments

Melihat Indonesia Lebih Dekat

Oleh: UTOMO PRIYAMBODO – INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

 

Ringkasan Esai:

Berdasarkan pengamatan terhadap teman-teman sekampus saya, saya menemukan fakta bahwa teman-teman kampus yang ketika kecil tumbuh dan besar di lingkungan perkampungan, pedesaan, dan daerah-daerah sejenisnya yang mayoritas dihuni ‘”rakyat”, memiliki sikap dan pemikiran yang lebih nasionalis dibandingkan teman-teman kampus yang ketika kecil tumbuh dan besar di perumahan-perumahan kota yang justru terkesan bersikap dan berpermikiran kapitaslis. Kata “rakyat” di sini secara khusus ditujukan untuk lapisan masyarakat kelas bawah.

Dalam sistem pendidikan yang ada di Indonesia ini, saya merasa bahwa mata pelajaran kewarganegaraan yang diajarkan di tiap-tiap instansi pendidikan masih sangat kurang berperan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme pada tiap-tiap diri peserta didiknya. Pelajaran itu, bagi saya sendiri, hanya menjadi pelajaran sampingan yang sifatnya formalitas. Semakin lama, semakin banyak peserta didik yang justru meremehkannya.

Menurut saya, untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, rasa cinta kepada bangsa dan negara Indonesia, kita haruslah terlebih dulu mengenal bangsa dan negara ini. Unsur utama suatu bangsa dan negara adalah rakyatnya. Oleh sebab itu, saya sangat menganjurkan tiap instansi pendidikan di negeri ini memiliki kurikulum yang memungkinkan adanya kegiatan-kegiatan bagi peserta didiknya untuk dapat melihat kehidupan rakyat Indonesia secara lebih dekat. Mulanya memang hanya sekedar melihat, tapi kemudian mengenal, lalu sayang, dan akhirnya cinta.

—————————-

Ketika dulu masih kecil, saya sering merasa malu dengan lokasi rumah saya yang berada di daerah perkampungan. Kebetulan, teman-teman sekolah saya yang lain, kebanyakan rumahnya berada di daerah perumahan, di kompleks, atau yang sejenisnya.

Saat mengisi kolom alamat biodata pribadi, hampir semua teman mengisinya dengan nama jalan, nama kompleks, ataupun nama perumahan. Sedangkan saya ketika itu harus secara malu-malu mengisinya dengan rangkaian tulisan berkata pertama “Kampung”. Kenyataannya, rumah saya memang berada di sebuah kampung bernama Kampung Kebantenan, Jatiasih, pinggir kota Bekasi. Sejak awal, ibu saya telah mencontohkan kepada saya untuk menuliskan “Kampung” atau bila disingkat “Kp.” sebagai kata pertama tulisan di setiap kolom alamat biodata saya. Baik itu untuk biodata TK, SD, maupun biodata kuliah saya sekarang, meski kini tak perlu lagi dicontohkan oleh beliau karena saya sudah terbiasa menuliskannya sendiri.

Namun, perasaan malu itu kian lama kian hilang seiring bertambahnya usia saya, juga (mungkin) kedewasaan saya. Kini saya justru merasa beruntung karena sejak kecil saya tumbuh dan besar di daerah perkampungan. Kenapa? Karena banyak pengalaman yang saya peroleh selama saya tumbuh dan besar di sana yang kemungkinan besar tidak akan saya dapatkan bila saya tinggal di daerah kompleks perumahan, atau yang sejenisnya.

Salah satunya adalah tentang beragam dan banyaknya fenomena sosial yang saya jumpai dan alami selama saya tinggal di lingkungan rumah saya yang merupakan daerah perkampungan itu. Bila teman-teman saya yang orang kompleks atau perumahan hanya akan menjumpai rumah-rumah dan orang-orang yang tak jauh beda kondisi sosialnya dengan keluarga mereka; di lingkungan rumah saya, sehari-harinya saya selalu melihat fenomena-fenomena sosial yang mencerminkan kehidupan rakyat dengan sebenar-benarnya makna rakyat.

Di daerah perkampungan rumah saya, kasta sosial-ekonomi-pendidikan masing-masing keluarga sangatlah beragam. Ada yang termasuk kelas atas, kelas menengah, dan banyak kelas bawah. Keluarga saya termasuk yang beruntung karena tidak temasuk kelas bawah. Tapi, saya memiliki teman-teman sekitar rumah yang kebanyakan berasal dari keluarga kelas bawah alias kurang mampu. Saya senang dan bahagia bergaul dengan mereka. Walaupun ketika kecil dulu, saya suka malu bila terlihat oleh teman-teman sekolah, saya sedang bermain dengan teman-teman lingkungan rumah yang biasa disebut anak-anak kampung.

Namun, seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, sekarang saya justru merasa beruntung telah mendapatkan pengalaman hidup tumbuh dan besar di dekat rakyat Indonesia dengan sebenar-benarnya makna rakyat. Apa maksud dari rakyat dengan sebenar-benarnya makna rakyat?

Definisi rakyat secara formal adalah penduduk suatu negara[1] dan itu mencakup semua orang tanpa terkecuali. Namun, kata rakyat, sebenarnya lebih sering ditujukan secara khusus untuk lapisan masyarakat kelas bawah. Oleh sebab itu, bila kita mengamati penduduk yang tinggal di sebuah kavling perumahan ataupun kompleks, dapat kita simpulkan sendiri bahwa mayoritas bahkan semua orang yang tinggal di sana adalah masyarakat lapisan kelas menengah ke atas. Mereka bukanlah rakyat yang dimaksudkan, bukan rakyat dengan sebenar-benarnya makna rakyat.

Mengapa saya merasa beruntung pernah hidup lama di dekat rakyat? Sebab atas pengalaman hidup itulah saya merasa terbentuk menjadi seorang yang mudah untuk bersimpati dan berempati kepada rakyat Indonesia –dengan sebenar-benarnya makna rakyat.

Jiwa nasionalisme saya mendapat rangsangan lebih untuk memajukan bangsa dan negara ini sebab saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang memerlukan bantuan. Masih banyak rakyat Indonesia yang hidupnya kesulitan. Masih banyak rakyat Indonesia yang taraf sosial, ekonomi, dan pendidikannya rendah. Ya, banyak keluarga di dekat rumah saya di sana yang butuh diberdayakan. Banyak teman-teman masa kecil saya di sana yang putus sekolah. Ketika sekarang saya tengah berkuliah; kebanyakan dari mereka justru telah bekerja sejak usia remaja dan bahkan sudah berkeluarga meski dengan status pekerjaan yang belum dapat menjamin masa depan.

Seperti yang pernah ditulis oleh seorang Soe Hok Gie, “Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat”.[2] Saya sangat menyepakati pernyataan tersebut. Apalagi saya telah merasakan sendiri dampak dari pengalaman semacam itu.

Contoh serupa, ketika di kampus, teman-teman kuliah saya yang sejak kecil tumbuh dan besar di lingkungan perumahan atau kompleks, terlihat lebih senang bergaul dengan sesama “anak gaul kota” dan cenderung hura-hura. Sedangkan teman-teman lain yang sejak kecil seperti saya tumbuh dan besar di lingkungan rakyat, sekalipun bisa saja mengikuti gaya hidup anak gaul kota dengan menghamburkan harta orang tua, justru lebih senang bergaul secara lebih sederhana dengan teman-teman yang berasal dari wilayah-wilayah daerah. Ketika teman-teman saya yang “anak gaul kota” tadi memiliki cita-cita untuk bekerja di perusahaan asing swasta dengan gaji puluhan juta; teman-teman yang ketika kecil seperti saya dan teman-teman yang berasal dari daerah tadi justru berniat untuk bekerja membangun perusahan milik negeri sendiri saja, atau di perusahaan-perusahan yang memungkinkan mereka untuk membangun dan kembali ke daerah setelah lulus nanti.

Saya tidak bermaksud tinggi hati menceritakan hal di atas. Namun, itu adalah fakta di antara teman-teman saya, meski tidak bisa juga menggeneralisasi semua teman. Sebab ada juga anak gaul kota tapi tetap nasionalis, atau anak daerah tapi kapitalis (maaf). Tapi, sebagian besar pembagian klasifikasi di atas adalah benar yang saya temukan.

Dua orang jurnalis, Ahmad Yunus dan Farid Gaban, melakukan sebuah rangkaian perjalanan mengelilingi Indonesia untuk memotret fenomena kehidupan rakyat dan alam di segenap daerah. Mereka menamakan rangkaian perjalanan tersebut “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa”. Hasil rangkaian perjalanan tersebut diabadiakan dalam sebuah buku oleh Ahmad Yunus. Buku itu berisi ringkasan tulisan, foto, dan video catatan perjalanan mereka berdua.[3]

Berdasarkan pengakuan mereka berdua, rasa cinta mereka kepada Indonesia menjadi semakin bertambah setelah melakukan ekspedisi tersebut. Sebab, mereka telah melihat sendiri bagaimana kenyataan kehidupan rakyat di segenap penjuru tanah air, di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Kenyataan itulah yang membuat mereka pun menghimbau para pembaca buku itu untuk pergi melihat Indonesia secara lebih dekat, melihat fenomena rakyat juga alamnya.

Saya ingin mengutip sebuah pepatah yang sering kita dengar bersama, “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.” Begitu benar isi pepatah itu menurut saya. Jika kita tak mengenal bangsa dan negara ini bagaimana mungkin kita bisa mencintainya? Lengkapnya lagi, bagaimana mugkin kita bisa mengenal sesuatu jika kita tak pernah mengamatinya, melihatnya. Dan unsur utama sebuah bangsa dan negara adalah rakyatnya.

Saya yakin bila semua warga negara ini mau melihat Indonesia secara lebih dekat dengan melihat, mengenal, dan membiasakan diri untuk dekat dengan rakyat Indonesia, niscaya rasa cinta yang ada pada diri tiap-tiap warga kepada bangsa dan negara ini akan muncul dan bertambah. Siapapun dan apapun profesi warga negara tersebut. Baik itu pelajar, pengusaha, pejabat pemerintahan, maupun lainnya. Sehingga, bangsa dan negara ini pun akan menjadi bangsa dan negara yang sejahtera sebab selalu diperhatikan dan dicintai oleh segenap warga negaranya.

Melihat Indonesia lebih dekat tidaklah harus ekspedisi keliling Indonesia seperti yang dilakukan dua jurnalis di atas. Tidak juga harus memiliki pengalaman masa kecil seperti saya yang hidup tumbuh dan besar di lingkungan perkampungan yang banyak berpenduduk “rakyat”.

Jika kebetulan Anda adalah orang kota, Anda tak perlu juga jauh-jauh pergi ke desa-desa atau ke kampung-kampung untuk melihat “rakyat”, untuk melihat Indonesia lebih dekat. Sebab, di kota-kota besar banyak juga terdapat rakyat. Coba saja ke kawasan pemukiman penduduk kelas bawah di kolong-kolong jembatan kota atau di pinggir rel kereta api stasiun kota. Tak mengapa hanya melihat-lihat saja ketika di sana, belum sempat atau belum mampu membantu. Dari sekadar melihat-lihat itulah, niscaya kian lama akan bertumbuh dan bertambah rasa simpati dan empati kita kepada rakyat Indonesia. Akan semakin tumbuh rasa cinta kita kepada bangsa dan negara ini.

Dalam kaitannya dengan sistem pendidikan di Indonesia, saya masih merasa kurang  dengan sekadar adanya mata pelajaran kewarganegaaran. Menurut saya, itu hanyalah terkesan sebagai sebuah mata pelajaran formalitas dalam kurikulum pendidikan yang sudah turun temurun. Bagi saya pribadi, efek mata pelajaran tersebut untuk meningkatkan rasa nasionalisme dalam diri saya sangatlah sedikit. Apalagi, berdasarkan pengamatan saya, semakin beranjak usia, peserta didik semakin menganggap remeh mata pelajaran tersebut. Bahkan di kalangan mahasiswa, mata kuliah kewarganergaraan hanya dianggap sebagai mata kuliah sampingan sekaligus mata kuliah “paket A” sebab saking mudahnya untuk mendapatkan nilai tinggi dalam mata kuliah tersebut.

Oleh sebab itu, saya sangat menganjurkan pemerintah beserta tiap-tiap instansi pendidikan di negeri ini untuk membuat sebuah kurikulum pendidikan baru yang memungkinkan adanya jadwal praktik kegiatan di luar kelas tiap minggu atau minimal tiap bulan bagi para peserta didiknya untuk mengunjungi dan melihat kehidupan rakyat secara lebih dekat –melihat Indonesia lebih dekat. Seperti yang telah saya utarakan, tak perlu jauh-jauh berpergian, seperti halnya kegiatan study tour dan lainnya. Cukup ke lingkungan rakyat yang terdekat dengan gedung sekolah yang bersangkutan.

Agar peserta didik lebih terkesan dengan kunjungan kegiatan tersebut, para pendidik dapat secara kreatif mengadakan kegiatan sederhana dengan penduduk di lingkungan rakyat tersebut untuk para peserta didiknya agar dapat berinteraksi dengan rakyat. Akan menjadi nilai plus lagi apabila kegiatan yang diadakan tentunya dapat bermanfaat juga bagi penduduk setempat.

Jikapun para pendidik tak punya cukup waktu untuk mempersiapkan kegiatan untuk dapat melibatkan para peserta didik dengan rakyat, kunjungan untuk sekadar melihat-lihat kehidupan rakyat pun menurut saya sudah lebih bagus daripada sekadar hadir di kelas mata pelajaran kewarganegaraan. Mata pelajaran yang materinya yang semakin sering ditemui semakin membuat ngantuk dan diremehkan peserta didik.

Dalam proses menumbuhkan rasa cinta kepada Indonesia, tahapan awalnya cukup dilakukan dengan melihat-lihat terlebih dulu kehidupan rakyatnya secara lebih dekat, lalu mengenal, kemudian sayang, dan akhirnya cinta. Inilah cara mudah lagi sederhana, tapi mampu menggugah rasa nasionalisme kepada bangsa dan negara. Silakan dicoba!

 

___________________________________________________________________________

[1] Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

[2] Gie, Soe Hok. 1989. Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES.

[3] Yunus, Ahmad. 2011. Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara. Jakarta: Serambi.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top